Oleh: Yokelin Tokoro
Ketika Air Danau Menjadi Jarak yang Tak Terjembatani
Bagi sebagian besar anak-anak di kampung-kampung tepi Danau Sentani, pergi ke sekolah bukan sekadar berjalan kaki melewati gang kompleks atau menunggu angkot lewat.
Bagi mereka, sekolah bisa berarti menyeberangi danau dengan perahu, menembus jarak yang jauh, atau bahkan mengurungkan niat karena orang tua tak mampu membiayai ongkos transportasi harian.
Realitas geografis inilah yang membuat persoalan anak putus sekolah di wilayah Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, tidak bisa disamaratakan dengan wilayah lain yang aksesnya lebih mudah.
Persoalan putus sekolah bukan hal baru dalam wacana pendidikan di Papua. Namun yang sering luput adalah bagaimana memilah kampung mana yang paling membutuhkan perhatian lebih dulu, mengingat keterbatasan anggaran dan sumber daya pemerintah daerah tidak memungkinkan seluruh wilayah ditangani secara bersamaan.
Dari kebutuhan itulah lahir sebuah pendekatan berbasis data: Sistem Pendukung Keputusan (SPK) menggunakan metode Analytical Hierarchy Process, atau lebih dikenal dengan AHP.
AHP: Ketika Angka Membantu Mengambil Keputusan yang Adil
AHP adalah salah satu metode pengambilan keputusan multikriteria yang dikembangkan untuk membantu menyusun prioritas dari sejumlah pilihan berdasarkan beberapa faktor sekaligus.
Alih-alih menilai satu wilayah hanya dari satu sudut pandang, metode ini memungkinkan peneliti membandingkan dan memberi bobot pada berbagai kriteria secara sistematis, lalu menggabungkannya menjadi satu nilai prioritas yang bisa diperbandingkan antarwilayah.
Dalam penelitian yang divisualisasikan melalui dashboard “Sistem Pendukung Keputusan” ini, tim peneliti menetapkan tiga faktor utama atau kriteria yang dipandang paling berpengaruh terhadap fenomena anak putus sekolah di kampung-kampung sekitar Sentani, yaitu:
1. K1 – Pendapatan Keluarga (%), mencerminkan kondisi ekonomi rumah tangga sebagai salah satu pemicu klasik anak berhenti sekolah demi membantu mencari nafkah.
2. K2 – Jarak ke Sekolah (%), menggambarkan tantangan geografis, terutama bagi kampung yang berada di seberang atau di tepi danau.
3. K3 – Akses Transportasi (%), menilai ketersediaan dan kemudahan sarana transportasi menuju fasilitas pendidikan.
Ketiga kriteria itu kemudian diukur pada tujuh kampung yang menjadi alternatif wilayah kajian: Kampung Yahim, Kampung Sereh, Kampung Yobeh (Danau), Kampung Ifale (Danau), Kampung Ifar Besar (Danau), Kampung Hobong (Danau), dan Kampung Yoboi (Danau).
Penamaan “(Danau)” pada empat dari tujuh kampung ini bukan kebetulan — ia menegaskan bahwa mayoritas wilayah yang diteliti memang berhadapan langsung dengan tantangan geografis danau.
Membaca Grafik: Pendapatan Keluarga Mendominasi di Hampir Semua Kampung
Hasil visualisasi berupa grafik bar vertikal yang membandingkan kontribusi ketiga kriteria di setiap kampung menunjukkan pola yang cukup konsisten. Pada hampir seluruh wilayah, bar biru yang mewakili Pendapatan Keluarga (K1) selalu tampil lebih tinggi dibandingkan bar hijau (Jarak ke Sekolah) dan oranye (Akses Transportasi).
Artinya, dari sisi bobot kontribusi terhadap risiko putus sekolah, faktor ekonomi keluarga tetap menjadi penyumbang paling dominan dibanding dua faktor lainnya di seluruh klaster kampung yang diteliti.
Namun yang menarik, besaran kontribusi ini sangat berbeda-beda antarkampung. Kampung Yahim dan Kampung Sereh — dua kampung yang tidak berlabel “(Danau)” — menunjukkan nilai kontribusi paling rendah di ketiga kriteria, dengan nilai K1 masing-masing hanya berkisar di angka 4-5% dan 2%.
Sebaliknya, empat kampung yang berada di kawasan danau justru menunjukkan nilai kontribusi yang jauh lebih tinggi di seluruh kriteria.
Kampung Ifale (Danau) misalnya, mencatat nilai K1 tertinggi kedua dengan kontribusi lebih dari 11%, diikuti Kampung Ifar Besar (Danau) di angka sekitar 7-8%.
Sementara itu, dua kampung dengan nilai gabungan tertinggi di ketiga kriteria sekaligus adalah Kampung Hobong (Danau) dan Kampung Yoboi (Danau) — keduanya menunjukkan bar biru, hijau, dan oranye yang secara konsisten menjulang lebih tinggi dibanding lima kampung lainnya.
Pola ini secara visual menegaskan sebuah temuan penting: kampung-kampung yang secara geografis terisolasi oleh badan air danau cenderung menghadapi akumulasi masalah dari ketiga sisi sekaligus — ekonomi keluarga yang lebih rentan, jarak tempuh ke sekolah yang lebih jauh, dan akses transportasi yang lebih terbatas.
Ketiganya saling berkelindan membentuk lingkaran kerentanan yang lebih berat dibanding kampung yang berada di daratan utama Sentani.
Kampung Yoboi: Titik Merah di Peta Prioritas
Dari keseluruhan proses perhitungan AHP yang menggabungkan bobot ketiga kriteria tersebut, sistem akhirnya menetapkan Kampung Yoboi (Danau) sebagai prioritas utama mitigasi.
Penetapan ini bukan tanpa dasar — grafik menunjukkan Kampung Yoboi memiliki nilai kontribusi tertinggi untuk kriteria Pendapatan Keluarga (di atas 12%) sekaligus nilai Jarak ke Sekolah dan Akses Transportasi yang juga berada di jajaran teratas dibanding enam kampung lainnya.
Temuan ini sejalan dengan gambaran umum yang kerap disampaikan warga sekitar Danau Sentani, di mana kampung-kampung yang hanya bisa dijangkau lewat jalur air menghadapi tantangan berlapis: anak-anak harus menyeberang menggunakan perahu setiap hari, biaya transportasi air yang tidak murah bagi keluarga dengan penghasilan terbatas, dan risiko cuaca yang kerap membuat penyeberangan tertunda atau bahkan dibatalkan.
Dengan menempatkan Kampung Yoboi sebagai prioritas tertinggi, hasil analisis ini memberikan basis argumentasi yang terukur bagi pemerintah daerah maupun dinas pendidikan setempat untuk mengalokasikan program intervensi — baik berupa bantuan ekonomi keluarga, subsidi transportasi sekolah, pembangunan fasilitas pendidikan yang lebih dekat, maupun program pendampingan lain — secara lebih terarah dan tidak menyebar tanpa skala prioritas yang jelas.
Dari Angka ke Kebijakan: Mengapa Pendekatan Berbasis Data Ini Penting
Salah satu keunggulan pendekatan AHP dalam konteks pengambilan kebijakan pendidikan di wilayah dengan geografi menantang seperti Sentani adalah kemampuannya menerjemahkan persoalan yang tampak kualitatif dan subjektif — seperti “kampung mana yang paling butuh bantuan” — menjadi ukuran kuantitatif yang bisa dipertanggungjawabkan secara metodologis.
Ketika anggaran dan sumber daya terbatas, keputusan untuk mendahulukan satu wilayah dibanding wilayah lain seringkali menjadi perdebatan yang sarat kepentingan politis maupun subjektivitas pengambil kebijakan.
Dengan sistem pendukung keputusan berbasis AHP semacam ini, proses penentuan prioritas menjadi lebih transparan karena didasarkan pada data terukur dari masing-masing kriteria, bukan sekadar asumsi atau laporan sepihak.
Selain itu, sistem ini juga bersifat dinamis — begitu ada pembaruan data pendapatan keluarga, jarak sekolah, atau kondisi transportasi di suatu kampung, hasil perhitungan prioritas bisa diperbarui secara otomatis, sehingga kebijakan yang diambil selalu berbasis kondisi terkini di lapangan.
Menutup Jarak, Bukan Sekadar Menutup Data
Pada akhirnya, temuan bahwa Kampung Yoboi (Danau) menempati posisi teratas dalam prioritas mitigasi anak putus sekolah bukan sekadar angka di layar dashboard.
Ia adalah representasi dari ribuan langkah kaki anak-anak yang setiap pagi harus memutuskan antara menyeberangi danau demi belajar, atau menyerah pada keterbatasan yang mengelilingi mereka.
Riset berbasis AHP ini menjadi pengingat bahwa penanganan masalah pendidikan di wilayah kepulauan dan perairan seperti Sentani tidak bisa dilakukan dengan pendekatan generik.
Setiap kampung punya kombinasi tantangan yang berbeda, dan tugas para pengambil kebijakan adalah mendengarkan apa yang ditunjukkan data — lalu menerjemahkannya menjadi program nyata yang benar-benar sampai ke kampung yang paling membutuhkan, sebelum semakin banyak anak yang terpaksa berhenti bersekolah karena jarak yang tak kunjung terjembatani. (*)
Artikel ini disusun berdasarkan hasil visualisasi Sistem Pendukung Keputusan (SPK) dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) yang mengkaji tiga kriteria — Pendapatan Keluarga, Jarak ke Sekolah, dan Akses Transportasi — pada tujuh kampung di kawasan Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura.
Penulis adalah Dosen Jurusan Sistem Informasi, Fakultas MIPA -Universitas Cenderawasih




















Discussion about this post