• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Indepth Story

Predator mengancam keberlangsungan ikan endemik Danau Sentani

October 3, 2026
in Indepth Story
Reading Time: 6 mins read
0
Penulis: Larius Kogoya - Editor: Arjuna Pademme
Ikan endemik Danau Sentani

Pelangi Sentani (Chilatherina sentaniensis), ikan endemik Danau Sentani. Foto: Franz Scheifinger/www.rainbowfish.de

0
SHARES
28
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jayapura, Jubi – Sore itu, beberapa orang memancing ikan di pinggiran Danau Sentani di Kampung Nendali, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.

Beberapa ikan berwarna merah atau red devil (Amphilophus labiatus), yang merupakan ikan predator, seukuran jari telunjuk orang dewasa tampak berenang di pinggiran Danau Sentani.

Angin bertiup dari timur membawa harapan para nelayan untuk membawa pulang ikan, tetapi bukan ikan asing atau predator itu.

“Itu ikan louhan (red devil). Setelah ikan-ikan baru seperti ikan louhan itu masuk (ke danau), hampir semua ikan asli kita terdesak. Sekarang tidak kelihatan lagi dan jarang sekali didapatkan,” kata Yanpit Wally, Ondofolo (Kepala Suku Adat Besar) Kampung Nendali sembari menunjukkan ke pinggiran danau, Selasa (22/9/2026).

Kata Yanpit, dulu ia dan warga Danau Sentani menggantungkan hidup dari mencari ikan di Danau Sentani. Jumlah ikannya melimpah, namun kini makin berkurang bahkan menghilang. Kini, dia pun beralih menggantungkan hidup dengan berkebun.

“Dulu ikan asli banyak, kalau cari ikan dapatnya banyak. Dulu kita punya alat tangkap sederhana saja,” ujarnya.

Mulai dari ikan gete-gete kecil (Glossamia beauforti), gete-gete besar (Glossamia wichmanni), kayou (gabus asli Sentani), hingga himen (Glossogobius sentaniensis).

BERITATERKAIT

Ikan gabus asli Danau Sentani makin sulit ditemukan

Danau Sentani semakin dijajah ikan “setan merah”

Danau Sentani Menyimpan PR Besar: Analisis AHP Ungkap Kampung Yoboi Jadi Prioritas Utama Penanganan Anak Putus Sekolah

Tambang emas ilegal mengancam Danau Sentani

Bernard Mebri juga merasakan hal sama. Pria 77 tahun dari Kampung Yoka, Distrik Heram, Kota Jayapura, Papua ini menghabiskan hari tua di Danau Sentani. Ia biasanya menjaring dan memancing ikan dengan satu perahu kecil yang terbuat dari kayu.

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

“Dulu, kita hanya molo (menyelam) atau pancing saja bisa dapat banyak ikan dan cukup buat makan keluarga. Kalau sekarang ini susahnya kita dapat ikan,” katanya.

Membri mengenang masa sebelum ikan pendatang masuk, warga di pinggiran danau tidak pernah kesulitan mencari ikan. Bahkan, di sekitar Danau Sentani, mereka mengenal tradisi bukhere atau rumah ikan.

Mereka membuatnya dengan kayu, ranting atau cabang dan daun sagu serta pelepah berbentuk melingkar. Lalu menenggelamkannya ke dasar danau.

“Masyarakat nelayan pasang bukhere di danau. Kemudian lewat dari satu tahun, masyarakat akan panen ikan banyak,” ujar Yanpit.

Dia bercerita, tradisi itu diatur adat, tetapi saat ini menghilang karena makin sulit mendapatkan ikan tiap harinya.

Berdasarkan penelitian Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Jayapura (2016) menyebutkan, ikan invasif red devil telah mendominasi hasil tangkapan dengan rata-rata kepadatan mencapai 70 persen.

“Nilai indeks keanekaragaman di perairan Danau Sentani pada penelitian ini adalah rendah dan nilai keragamannya sedang,” tulis penelitian itu.

Ikan Endemik Danau Sentani
Ikan gabus Sentani (Glossogobius sentaniensis), spesies endemik Danau Sentani yang terancam. Doc: Western Australian Museum Ref. Number P27852.004

Ikan Endemik dan Ikan Asli Bagian dari Identitas

Ikan endemik Danau Sentani menjadi bagian penting dari identitas budaya Suku Sentani. Ia melambangkan status adat, inspirasi seni tradisional, dan sumber kehidupan masyarakat.

Bahkan ikan endemik menjadi simbol adat dan pemimpinnya. Ikan gabus hitam besar Sentani (Oxyeleotris heterodon), misal, menjadi lambang atau simbol bagi seorang ondofolo.

Ondofolo Yanpit mengatakan, adat, tradisi dan budaya orang Sentani ada kaitan dengan ikan-ikan asli. Tak hanya itu, sebagian ikan endemik, seperti hiu gergaji, menjadi inspirasi dalam membuat lukisan kulit kayu dan itu menjadi motif utama dalam seni lukis kulit kayu khas Sentani.

“Motif ikan asli Danau Sentani diukir pada rumah adat, dinding, tiang-tiang rumah tradisional sebagai bagian dari sejarah dan cerita nenek moyang,” katanya.

“Tapi kita punya ikan-ikan asli ini semua hilang ataupun punah itu sama saja dengan identitas orang Sentani hilang.”

Hasil riset Universitas Cenderawasih (2019) menyebutkan, ada sekitar 19 jenis ikan Danau Sentani. Dua ikan endemik, enam ikan asli, satu ikan anadromus (jenis ikan yang bertelur di laut dan kembali lagi ke Danau Sentani) dan 10 ikan introduksi.

Riset itu menyebutkan, ada 10 jenis ikan endemik dan asli yang tercatat di Danau Sentani, antara lain ikan pelangi Sentani (Chilatherina sentaniensis), pelangi merah (Glossolepis incisus), dan gabus Sentani (Glossogobius sentaniensis).

Juga gabus hitam Sentani (Oxyeleotris heterodon), snakehead gudgeon (Giuris margaritacea), gete (Glossamia wichmanni dan G. beauforti), papillate catfish (Neoarius velutinus), dan barred rainbowfish (Chilatherina fasciata).

Menuju Kepunahan?

“Ikan pelangi Chilatherina sentaniensis sudah tidak ditemukan lagi sejak tahun 2000-an awal hingga 2016,” tulis jurnal yang berjudul Ekologi dan Kelimpahan Ikan Sentani Gudgeon dan Snakehead Gudgeon di Danau Sentani, Papua tahun 2019.

Bahkan, delapan jenis ikan anadromous di Danau Sentani hampir semua tidak ada lagi, kecuali ikan Anguilla sp. pada 2017 lalu. Pristis microdon adalah salah satu jenis ikan anadromous yang fenomenal dari danau ini, namun sudah tidak ditemukan sejak awal tahun 1970-an.

Pada 2016, penelitian dari Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Jayapura sudah memberikan alarm terkait menurunnya ikan asli dan endemik di wilayah itu.

Sayangnya, banyak jenis ikan endemik dan asli yang menghadapi risiko kepunahan namun belum ada penetapan status perlindungannya dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. Antara lain, dua jenis ikan endemik yang belum dilindungi, yakni himen dan pelangi merah.

Ada enam jenis ikan asli juga belum dilindungi, yakni gabus hitam (kayou), gabus merah (kase/kahe) (Giuris margaritacea), gete-gete kecil atau kandei, pelangi (hew), gete-gete besar, sembilang atau kanseli (Neoarius velutinus).

Suriani Surbakti, peneliti Universitas Cenderawasih mengatakan, selain memiliki nilai ekologis, ikan asli dan endemik Danau Sentani juga memiliki hubungan dengan kehidupan dan budaya masyarakat setempat.

“Kalau ikan asli dan endemik semakin sulit ditemukan, persoalannya bukan hanya mengenai keanekaragaman hayati, juga berkaitan dengan budaya. Ikan-ikan tersebut merupakan bagian dari kekayaan alam yang telah lama berhubungan dengan kehidupan masyarakat,” kata Suriani kepada Mongabay, Rabu (23/9/2026).

Ia berharap, penelitian terkait kondisi ikan dan ekosistem yang menjadi data ilmiah bisa menjadi dasar pengelolaan dan konservasi di Danau Sentani.

Katanya, penting ada kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, lembaga penelitian, serta pemangku kepentingan lain untuk menyusun perlindungan dan pemulihan Danau Sentani.

“Menjaga Danau Sentani berarti menjaga habitat, ikan asli dan endemik, keanekaragaman hayati, sekaligus menjaga keterkaitannya dengan kehidupan dan budaya masyarakat. Ini menjadi tanggung jawab bersama agar Danau Sentani tetap lestari untuk lintas generasi.”

Danau Sentani
Tampak pemandangan Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. Foto: Larius Kogoya/Mongabay

Ancaman ikan predator, limbah dan pendangkalan danau

Baik Ondofolo Yanpit maupun Yansen Yoku, warga Kampung Ifar Besar, Distrik Sentani masih ingat kejadian terkait pelepasan ikan louhan sekitar 1980-an oleh istri mantan Gubernur Papua Barnabas Suebu.

Mereka menduga dampaknya terasa sejak tahun 1990-an dan 2000-an, ikan asli mulai menurun dan makin menghilang.

Yansen mengatakan, kehadiran ikan louhan, gastor, nila dan ikan invasif lainnya mengancam habitat ikan asli.

“Jadi kita dirugikan oleh pemerintah dari berapa puluhan tahun yang lalu. Ikan louhan gastor ini pemusnah ikan asli. Dia makan segala macam, dia makan telur ikan asli juga, dan louhan juga berkembang cepat sekali,” kata Yansen Yoku, Selasa (22/9/2026).

Kondisi ekosistem Danau Sentani ini sejalan dengan Suriani Surbakti. Dia bilang dalam sekitar 15 tahun terakhir menunjukkan sejumlah perubahan yang perlu mendapat perhatian, terutama terkait keberadaan ikan asli dan endemik lainnya.

Sejumlah jenis ikan yang sebelumnya relatif mudah kini makin sulit dijumpai.

“Kalau kita berbicara mengenai ikan endemik yang mengalami keterancaman, tentu ada standar dan parameter ilmiah yang harus digunakan. Karena itu, perlu dilakukan kajian lebih lanjut untuk mengetahui kondisi populasinya dan tingkat keterancamannya,” kata Suriani.

Salah satu ikan yang perlu mendapat perhatian, kata Suriani, adalah gabus Sentani yang merupakan bagian dari kekayaan ikan asli dan endemik yang memiliki keterkaitan erat dengan ekosistem Danau Sentani.

Berkurangnya ikan asli sangat erat kaitannya dengan perubahan kondisi habitat. Pembangunan dan pelebaran jalan, berkurangnya vegetasi, pendangkalan danau, pencemaran, aktivitas pertambangan, serta sampah dan limbah domestik yang masuk ke perairan turut memberikan tekanan terhadap ekosistem danau.

“Persoalannya bukan hanya pada ikannya, tetapi juga habitatnya. Ketika vegetasi dan struktur habitat berkurang, tempat berlindung, mencari makanan, dan berkembang biak bagi ikan juga ikut berkurang,” ujarnya.

Keberadaan ikan introduksi atau ikan asing juga menjadi salah satu faktor yang perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan ekosistem Danau Sentani.

Beberapa jenis ikan pendatang, kata Suriani, seperti mujair dan jenis ikan lainnya yang bersifat predator, dapat berinteraksi dan bersaing dengan ikan asli dalam memperoleh makanan dan ruang hidup. Dalam kondisi tertentu, ikan-ikan tersebut juga dapat memangsa telur maupun anakan ikan asli.

“Ikan endemik memiliki karakteristik ekologis yang berbeda dengan ikan pendatang. Mereka telah beradaptasi dengan kondisi lingkungan Danau Sentani dalam waktu yang panjang. Ketika terjadi perubahan habitat dan muncul tekanan baru, kemampuan adaptasinya perlu dikaji lebih lanjut.”

Ikan asli dan endemik juga, katanya, memiliki ketergantungan terhadap habitatnya. Seperti akar pohon, batang kayu, batu, serta vegetasi di sekitar perairan dapat menjadi tempat berlindung sekaligus lokasi pemijahan dan perlindungan bagi telur serta anakan ikan.

“Kalau habitat tersebut hilang akibat pembangunan atau perubahan lingkungan, ikan kehilangan tempat berlindung dan berkembang biak. Ini menjadi salah satu tekanan yang perlu mendapat perhatian,” katanya.

Lukisan kulit kayu
Lukisan kulit kayu, kesenian tradisional dari Pulau Asei, Danau Sentani. Masyarakat melukis hubungan manusia dengan alam dan makhluk hidup di sekitar mereka. Salah satunya adalah ikan hiu gergaji. Foto: Chris Paino/Mongabay Indonesia

Lindungi ikan asli, caranya?

Ruben Sineri, Kepala Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Jayapura membenarkan ada ancaman hilangnya ikan endemik dan asli di Danau Sentani.

“Baru dua ikan endemik yang sudah punah itu ikan hiu gergaji dan ikan gete-gete. Kami akan melakukan edukasi kepada masyarakat untuk melestarikan ikan endemik Danau Sentani,” katanya di kantornya, Jumat (25/9/2026).

Louhan dan gastor, kata Ruben menjadi hama yang seringkali menjadi predator dan memakan telur-telur ikan endemik dan ikan asli hingga sulit berkembang biak. Dia mengupayakan pemusnahan dengan membuat perlombaan memancing ikan louhan dan gastor oleh masyarakat.

“Jika dilakukan secara rutin tentu bisa mengurangi predator ikan asli ini. Dan hasil tangkapan itu jadikan pakan buat ikan budidaya. Karena bupati Jayapura juga memberikan atensi kepada ikan endemik, jadi ikan asli dan endemik Danau Sentani menjadi perhatian kami juga,” kata Ruben.

Jika ikan endemik punah, katanya, berarti slogan “hidupku adalah budayaku” akan hilang. Padahal, budaya itu perlu kita jaga serta kearifan lokalnya, salah satunya melestarikan keberadaan ikan-ikan endemik ini.

Suriani menegaskan, upaya pelestarian ikan endemik tidak cukup hanya dengan menjaga populasinya saja, juga kualitas dan keberlanjutan habitat Danau Sentani.

Dia pernah melakukan penelitian dengan upaya rekayasa habitat dan pemijahan ikan asli. Kesimpulannya, pendekatan in vitro dengan pemberian hormon dari luar dapat merangsang pemijahan dan penetasan yang baik. Namun, tingkat kelangsungan hidup menjadi tantangan, hanya 50 persen anakan yang bisa bertahan hidup.

Dia bilang keberhasilan konservasi ikan endemik sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, seperti suhu, pH, kualitas air, ketersediaan makanan, vegetasi, serta struktur habitat.

“Harapan kita supaya pemerintah buat aturan untuk melindungi ikan-ikan asli ini. Kita punya ikan-ikan asli ini hilang atau punah itu sama saja dengan identitas orang Sentani hilang. Karena ikan-ikan asli ini Tuhan kasih untuk kita jaga, juga untuk kita makan sehari-hari,” kata Yanpit. (*)

Tulisan ini pertama kali terbit di mongabay.co.id

https://mongabay.co.id/2026/10/03/ikan-endemik-danau-sentani-dalam-ancaman-kepunahan/

Tags: Danau SentaniIkan endemikmengancamPredator
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Ikan gabus Sentani

Ikan gabus asli Danau Sentani makin sulit ditemukan

September 30, 2026
Keramba, Danau Sentani

Danau Sentani semakin dijajah ikan “setan merah”

September 30, 2026

Danau Sentani Menyimpan PR Besar: Analisis AHP Ungkap Kampung Yoboi Jadi Prioritas Utama Penanganan Anak Putus Sekolah

September 5, 2026

Tambang emas ilegal mengancam Danau Sentani

August 27, 2026

Anggota DPR Papua usulkan pembersihan Danau Sentani

June 14, 2026

Teror kepala ayam terhadap Floresa mengancam kebebasan pers

June 11, 2026

Discussion about this post

Survey Pembaca
Reader's Survey

English Story

Three University of Science and Technology Jayapura students named suspects
3 October 2026
Three University of Science and Technology Jayapura students named  suspects

Jayapura, Jubi – Three of four students from the University of Science and Technology Jayapura (USTJ) arrested by Jayapura City [...]

Rome Agreement described as a deal made by ‘greedy’ people
3 October 2026
Rome Agreement described as a deal made by ‘greedy’ people

Jayapura, Jubi – The Jayawijaya chapter of the Indonesian National Youth Committee (KNPI), Cipayung youth and community organisations (OKP), and [...]

Jayapura police officers accused of assaulting university student
2 October 2026
Jayapura police officers accused of assaulting university student

Jayapura, Jubi – Dozens of Cenderawasih University (Uncen) students had their identities checked by police, while several students’ mobile phones [...]

Nabot Sreklefat elected to lead AMAN Sorong Raya, vows to resist threats to customary lands
2 October 2026
Nabot Sreklefat elected to lead AMAN Sorong Raya, vows to resist threats to  customary lands

Teminabuan, Jubi – The third regional congress of the Alliance of Indigenous Peoples of the Archipelago (AMAN) Sorong Raya, held [...]

Morning Star flag flown at USTJ campus in Jayapura
1 October 2026
Morning Star flag flown at USTJ campus in Jayapura

Jayapura, Jubi – Hundreds of students at the University of Science and Technology Jayapura (USTJ) in Padang Bulan, Abepura District, [...]

  • Latest
  • Trending
  • Comments
Kadistrik Sentani di SPBU Hawai

Kadistrik Sentani tertibkan truk di kawasan SPBU Hawai

October 3, 2026
RSUD Kenyam ditutup sementara

Honor pegawai lima bulan tak dibayar: RSUD Kenyam ditutup sementara

October 3, 2026
Ikan endemik Danau Sentani

Predator mengancam keberlangsungan ikan endemik Danau Sentani

October 3, 2026
Persipura

Kemenangan perdana Persipura dan konsistensi pada laga selanjutnya

October 3, 2026
Kesenjangan digital di Sekolah PNG

Menjembatani kesenjangan digital di Sekolah Menengah Tabubil PNG

October 3, 2026
Menteri Lingkungan Hidup Solomon

Menteri Lingkungan Hidup Kepulauan Solomon memimpin delegasi ke Pra-COP31

October 3, 2026
Pelaku usaha iklim Indonesia

Pelaku usaha iklim Indonesia terpilih sebagai KINETIK Sweef Fellows

October 3, 2026
Mahasiswa USTJ Tersangka

Tiga mahasiswa USTJ dijadikan tersangka oleh Polresta Jayapura

October 2, 2026
Polisi Vanuatu

50 rekrutan polisi dari Vanuatu jalani pelatihan di PNG

October 2, 2026
PNG dan Australia

PNG dan Australia luncurkan latihan prajurit Wantok Warrior 2026

October 2, 2026
Oposisi Kepulauan Solomon

Oposisi Kepulauan Solomon: Kekhawatiran Papua Barat harus dibalas dengan disiplin diplomatik

October 2, 2026
Pemeriksaan kesehatan

Dinkes Jayapura hadirkan dokter spesialis saat pemeriksaan kesehatan gratis

March 17, 2026
Komnas HAM

Penggusuran paksa tanah masyarakat adat Biak diadukan ke Komnas HAM

March 17, 2026
Mahasiswa tolak DOB

Mahasiswa Yalimo se-Indonesia tolak pembentukan DOB Benawa

March 13, 2026
Kadistrik Sentani di SPBU Hawai

Kadistrik Sentani tertibkan truk di kawasan SPBU Hawai

0
RSUD Kenyam ditutup sementara

Honor pegawai lima bulan tak dibayar: RSUD Kenyam ditutup sementara

0
Ikan endemik Danau Sentani

Predator mengancam keberlangsungan ikan endemik Danau Sentani

0
Persipura

Kemenangan perdana Persipura dan konsistensi pada laga selanjutnya

0
Kesenjangan digital di Sekolah PNG

Menjembatani kesenjangan digital di Sekolah Menengah Tabubil PNG

0
Menteri Lingkungan Hidup Solomon

Menteri Lingkungan Hidup Kepulauan Solomon memimpin delegasi ke Pra-COP31

0
Pelaku usaha iklim Indonesia

Pelaku usaha iklim Indonesia terpilih sebagai KINETIK Sweef Fellows

0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara