• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Indepth Story

Tambang emas ilegal mengancam Danau Sentani

August 27, 2026
in Indepth Story, Lingkungan
Reading Time: 6 mins read
0
Penulis: Larius Kogoya - Editor: Arjuna Pademme
Tambang emas ilegal

Tampak dari kawasan Bumi Perkemahan (Buper) Waena menunjukkan pembukaan lahan dari aktivitas tambang dekat zona penyangga cagar alam Cycloop, kawasan Buper, Waena, Kota Jayapura, Papua, Sabtu (25/7/2026). Jubi/Larius Kogoya/ Mongabay Indonesia

0
SHARES
495
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jayapura, Jubi – Air Sungai Hubay yang keruh, berwarna kecoklatan mengalir dan bermuara ke Danau Sentani di Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Hulu kali ini berada di kaki pegunungan Cycloops, perbatasan Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura.

Wilayah itu adalah kawasan cagar alam yang menyimpan keanekaragaman hayati tinggi. Namun kini, Danau Sentani terancam lumpur penambangan emas ilegal di hulu.

Sepanjang sungai dari hulu ke hilir muara penuh material pasir, batu kerikil, lumpur, yang menyebabkan pendangkalan sungai hingga beberapa titik, muara, hingga melebar ke tengah danau. Salah satunya di jembatan II (hilir Sungai Hubay) kian menyempit.

Anggi Rivaldo Ohee, warga Kampung Asei Kecil, Distrik Sentani Timur, mengatakan, kerusakan sungai itu sudah terjadi kurang lebih 10 tahun terakhir. “Tiap hari sungai mengalir keruh, kadang membawa material masuk ke danau,” kata Anggi Rivaldo Ohee, (25/7/2026).

Menurutnya, lumpur mencemari Danau Sentani, mulai dari jembatan II sampai Kampung Telaga Maya, Telaga Ria, dan Yoka. Kondisi ini menyebabkan warga kesulitan mendapatkan ikan danau. Meski sudah molo (menyelam), menjaring hingga memancing sudah sulit untuk saat ini.

“Sebelum ada tambang, mudah cari ikan. Sejak ada tambang di atas, kita yang tinggal di danau ini setengah mati terutama mencari ikan. Danau makin hari makin dangkal akibat lumpur tambang yang turun,” ujar Anggi Ohee.

Aktivitas tambang emas sudah ada sejak 1999 hingga kini. Tepatnya, di kawasan Bumi Perkemahan (Buper) Waena di Distrik Heram, Kota Jayapura. Tambang itu dikelola mandiri pemilik ulayat, meski yang merasakan dampak masyarakat adat di Sentani yang ada di hilir.

BERITATERKAIT

Predator mengancam keberlangsungan ikan endemik Danau Sentani

Perusahaan Ok Tedi terapkan radar baru pantau lereng tambang terbuka

Ikan gabus asli Danau Sentani makin sulit ditemukan

Danau Sentani semakin dijajah ikan “setan merah”

Danau Sentani menjadi danau terbesar kedua Papua, luas mencapai 9.360 hektar. Danau ini membentang di kaki Pegunungan Cycloops, kabupaten dan Kota Jayapura. Setidaknya, ada 24 kampung di sekitarnya yang bergantung hidup pada alamnya.

Anggi Rivaldo Ohee mengatakan, air sungai di muara di perbatasan Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura dulu jernih dan banyak ikan. Mulai dari mas, mujair, belut, lohan hingga kayou (bahasa lokal ikan gabus).

Sejak air danau tercemar, selain menjadi nelayan, dia pun mencari pekerjaan menjadi tukang ojek. Pasalnya, ikan-ikan sekitar muara tak lagi kelihatan dan sulit mereka dapatkan.

“Karena sudah dangkal, tidak ada tempat yang mau naik, dulu itu ikan mas, mujair, belut dari danau, sekarang susah, jarang memang, karena sudah dangkal sekali,” ujarnya.

material lumpur dari aktivitas tambang yang turun ke hilir
Akibat material lumpur dari aktivitas tambang yang turun ke hilir sungai Hubay. Hal ini menyebabkan terjadi sedimentasi sungai hingga jembatan II menyempit di Kampung Asei, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua pada Sabtu (25/7/2026). Jubi/Larius Kogoya/ Mongabay Indonesia

Hans Ohee, masyarakat Sentani mengatakan air sungai di muara yang berada di perbatasan Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura dulu jernih dan ramai ikan.

Ohee tinggal di rumah panggung dan di bawahnya ia buat keramba. Keramba ini berada di bagian darat yang memanfaatkan potensi air sungai yang deras dan jernih.

“Kadang mencari ikan di danau untuk konsumsi kalau lebih, biasa jual. Sekarang beralih ke keramba ikan untuk pemeliharaan dan pembibitan tapi perkembangannya kurang bagus,” ujar Hans Ohee.

Menurutnya, kini warga kewalahan mau mengembangkan usaha ikan karena air tercemar. “Biasanya ikan gemuk, ini masih kurus tipis terus. Ikan di muara dulunya banyak gabus juga sudah jarang karena airnya keruh,” ujarnya.

Bahkan kerambanya kini berubah menjadi sedimentasi. Apalagi saat hujan lebat, Hans bilang material lumpur semua terbawa hingga air sungai meluap hingga ke rumah-rumah warga. Rumah warga pun kebanjiran setinggi lutut.

“Memang mereka cari uang, cari makan. Tapi ingat juga ada orang di bawah yang terkena risikonya,” ucapnya frustasi.

Baik Hans Ohee maupin Rivaldo Ohee mendesak pemerintah dan aparat keamanan bisa menertibkan tambang di hulu pegunungan Cyclops. Mereka memprediksi jika 10-20 tahun tambang masih beroperasi, sedimentasi akan terjadi hingga ke tengah danau.

“Tambang ini juga menjadi ancaman bagi danau juga sehingga kami harap pemerintah kasih stop sudah aktivitas pendulangan di atas supaya masyarakat yang ada di pinggiran sungai ini mencari ikan di danau juga tidak susah,” ujar Rivaldo Ohee.

Cemaran logam berat akibat tambang

Berdasarkan hasil identifikasi Walhi Papua pada November 2025, aktivitas penambangan emas di Buper Waena, Kota Jayapura masif terjadi. Mereka menggunakan alat berat eksavator hingga mesin dompeng (alat pompa air bertenaga tinggi seperti alkon). Limbah galiannya terbawa ke hilir sungai.

“Kalau pakai alat berat begitu tetap pakai merkuri juga karena itu berpasangan. Pakai merkuri supaya pisahkan emas dari batu, pasir, dan air,” kata Maikel Primus Peuki, Direktur Walhi Papua, Senin (27/7/2026).

Dampaknya, masyarakat yang berada di aliran sungai, muara hingga di sekitar danau sudah kehilangan air bersih. Tak hanya itu, juga akan merusak habitat serta ekosistem yang ada di danau.

“Misalnya ikan-ikan khas Danau Sentani itu seperti ikan gastor, mujair, nila, terancam akan hilang, berkurang dari pembuangan limbah,” katanya.

Hal yang paling terlihat adalah pendangkalan, katanya. “Sayangnya, dampak tak terlihat dari aktivitas tambang ini menggunakan merkuri itu akan berakibat pada ikan-ikan yang ada di Danau.”

Henderite L. Ohee, Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Cenderawasih menyebutkan kondisi Danau Sentani dibandingkan tahun 1990 sangat berbeda signifikan. Ada tiga perubahan besar, yakni kerusakan habitat, menurunnya kualitas lingkungan dan masuknya ikan-ikan asing ke dalam danau.

“Danau Sentani itu kemudian menyempit, atau berkurang luasannya karena terjadi pendangkalan dan sedimentasi di sekeliling danau sentani,” tuturnya.

Hal ini akibat erosi dari hulu yang membuat daerah air menjadi tertutup akibat material yang ada serta pembangunan infrastruktur lainnya.

Penelitian Universitas Cenderawasih menghitung terkait risiko ekologis dan kesehatan manusia terkait cemaran logam berat di Danau Sentani pada 2025.

Mereka memeriksa enam jenis logam berat, yakni merkuri (Hg), kadmium (Cd), timbal (Pb), nikel (Ni), tembaga (Cu) dan seng (Zn) di 11 lokasi, salah satunya di muara sungai Jembatan II.

Adapun penelitian ini memeriksa di enam jenis ikan air tawar, dari ikan asli hingga ikan introduksi: ikan nila (Oreochromis niloticus), ikan nilem (Osteochilus vittatus), ikan red devil (Amphilophus citrinellus), ikan sembilang atau lele (Arius velutinus), ikan pelangi bergaris (Chilatherina fasciata), dan ikan pelangi merah (Glossolepis incisus).

“Penelitian menunjukan kadar kadmium melebihi ambang batas di seluruh lokasi, sedangkan konsentrasi timbal dan tembaga masih di bawah ambang batas. Sedangkan merkuri, nikel dan seng berada di atas ambang batas di beberapa lokasi,” ujar penelitian itu.

Meski kadar Hg, Pb, Ni, Cu dan Zn dalam sedimen belum menunjukkan adanya risiko ekologis, namun indeks risiko ekologi menunjukkan ada potensi risiko dalam kategori rendah hingga signifikan.

Penelitian itu menyebutkan pada sampel ikan beberapa melebihi ambang batas kandungan Pb, Cd, Ni dan Zn. “Nilai indeks pencemaran logam sangat tinggi, yang menunjukkan adanya akumulasi logam berat, sedangkan nilai faktor bioakumulasi berada dalam kategori akumulasi sedang hingga tinggi,” tulis penelitian itu.

Meski tidak berada pada semua wilayah, indeks bahaya kandungan logam berat pada beberapa spesies berpotensi menimbulkan risiko kesehatan non-karsinogenik bagi manusia yang mengkonsumsinya.

Ada beberapa sampel ikan masuk dalam kategori signifikan (Ni dan Cd), hal ini, menunjukkan potensi paparan risiko karsinogenik pada manusia, khususnya di muara Sungai Kampwolker.

Salah satu aliran hulu sungai
Salah satu aliran hulu sungai Hubay yang terlihat air sangat keruh berlumpur itu mengalir ke muara danau Sentani di kawasan Buper, Waena, Kota Jayapura, Papua, Sabtu (25/7/2026). Jubi/Larius Kogoya/ Mongabay Indonesia

Mengacu pada penelitian itu, Henderite juga menyebutkan bahwa meski level merkuri pada ikan masih terbilang kecil, itu tetap memberikan dampak signifikan bagi ekosistem dan manusianya.

“Merkuri salah satu jenis logam berat yang cukup berbahaya, jadi kalau secara reguler masyarakat konsumsi ikan yang mengandung merkuri, atau logam berat lainnya walaupun itu dalam levelnya rendah. Tapi lama-kelamaan dia akan terakumulasi, sehingga menyebabkan salah satu penyakit yang bisa disebabkan, bukan hanya oleh merkuri, tapi oleh logam berat yang lain adalah kanker,” ujarnya.

Banyak orang menggantungkan hidup di Danau Sentani. Ia memiliki fungsi ekologi, ekonomi, pariwisata dan transportasi bagi masyarakat.

Berdasarkan data Dinas Perikanan dan Kelautan Papua pada 2023 menyebutkan jumlah nelayan tangkap di Danau Sentani mencapai 892 orang. Jumlahnya terbagi di wilayah barat, tengah dan timur.

Jumlah hasil tangkapan per tahun sekitar 1,823.52 ton dari total potensi 8.922,8 ton per tahun. Tak hanya itu, perairan di sana juga menjadi salah satu sentra perikanan budidaya di Provinsi Papua.

Pembiaran tambang ilegal?

Salmon Telenggen, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jayapura mengatakan, status tambang di Buper sampai saat ini belum memiliki penetapan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) maupun Surat Izin Pertambangan Rakyat (SIPRD) dari Pemerintah Papua jadi berstatus ilegal.

Namun tambang itu sudah beroperasi sejak sekitar 1998 oleh pemilik tanah ulayat secara tradisional.

“Bupati Jayapura Yunus Wonda juga telah menyatakan ada delapan tambang tanpa izin di Kabupaten Jayapura yang tidak berkontribusi ke pendapatan asli daerah dan akan ditertibkan. Tambang di Buper itu tergolong tambang tidak berizin. Meskipun dikelola masyarakat pemilik ulayat dan sudah lama berjalan,” katanya, Kamis (6/8/2026).

Danau Sentani
Danau Sentani, danau terluas di Papua. Memiliki kekayaan ragam hayati dan penting untuk sosial ekonomi masyarakat. Larius Kogoya/Mongabay Indonesia

Lokasi tambang Buper dekat kawasan penyangga Cagar Alam Pegunungan Cycloop, yang secara aturan sangat dibatasi bahkan dilarang untuk pertambangan.

Limbah atau endapan tambang dan erosi material galian, lumpur, pasir dari penambangan dan pembukaan lahan di hulu terbawa air hujan masuk ke sungai lalu ke danau.

Hal ini, katanya menjadi ancaman nyata, terjadi penurunan kualitas air drastis, pencemaran hingga tidak lagi layak pakai sebagai air bersih.

Danau menjadi penampung segala limbah, bisa disebut sudah seperti “bak penampung raksasa.” Semua kotoran bermuara ke danau, karena hanya ada satu saluran keluar air (Kali Jaifuri) yang sempit dan pendangkalan makin parah.

“Sedimentasi atau pendangkalan parah karena endapan lumpur dan pasir dari tambang dan hulu mengurangi kedalaman danau, kapasitas tampung air berkurang, banjir semakin sering melanda pemukiman sekitar danau,” katanya.

Ancaman kesehatan masyarakat yang mandi, mencuci, minum air danau berisiko tertular penyakit kulit, pencernaan, dan lain-lain akibat bakteri dan zat berbahaya dari limbah tambang.

Ia pun berjanji melakukan penertiban sumber pencemaran di hulu, misal, larangan tambang dan pembukaan lahan di kawasan lindung Cycloop, rehabilitasi hutan penyangga agar erosi dan endapan berkurang.

“Pemerintah bersama aparat penegak hukum untuk penegakan untuk memberikan efek jera bagi pelaku agar tidak terulang kejadian bencana banjir bandang 2019, karena Kabupaten Jayapura masuk zona rawan bencana dan Cycloop memberikan kehidupan bagi warga kota dan kabupaten Jayapura.”

Maikel katakan, upaya pemerintah saat ini masih omong kosong karena tidak ada penertiban dan pengawasan. Pemerintah terlalu lama melakukan pembiaran walau tambang itu ilegal.

“Aktivitas tambang ini semakin lama pembukaanya semakin besar mengarah ke daerah gunung berdekatan zona penyangga Cagar Alam Cycloop. Kalau dibiarkan sebetulnya ini melanggar,” katanya.

Henderite menyarankan, pemilik ulayat perlu memikirkan generasi ke depan dan masa depan danau Sentani.

“Kalau bapak, kakak dorang sayang, saudara dan keturunan yang ada sekarang, sebaiknya tambang ditutup. Karena tidak hanya menghasilkan ancaman dalam hal ikannya tercemar, juga akan membuat danau ini makin lama bisa menjadi daratan,” ucapnya.

Kalau terus masuk bahan erosi material itu dari penambangan, pelan tetapi pasti, danau ini akan menjadi daratan.

“Kita tidak bisa bilang 1-2 tahun, tapi 5-10 dan 20 tahun yang akan datang, itu kemungkinan bisa terjadi. Saya tahu bahwa akan mengurangi pendapatan, tetapi ya kalau kita berpikir dengan bijaksana untuk selamatkan danau, maka inilah langkah terbaik yang bisa dilakukan yaitu tutup tambang saja.”

Hans Ohee khawatir, 20 tahun mendatang danau bisa menjadi dangkal rata sampai ke tengah. Masyarakat, tidak punya kuasa menghentikan itu, jadi pemerintah harus selamatkan danau.

“Pemerintah harus peduli terkait situasi, kalau tambang terus jalan makan kedangkalan danau akan terus terjadi,” ujarnya. (*)

Tulisan ini pertama kali terbit di mongabay.co.id

https://mongabay.co.id/2026/08/27/ancaman-tambang-emas-ilegal-di-hulu-danau-sentani/

Tags: Danau SentaniilegalmengancamTambang
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Ikan endemik Danau Sentani

Predator mengancam keberlangsungan ikan endemik Danau Sentani

October 11, 2026
Perusahaan Ok Tedi

Perusahaan Ok Tedi terapkan radar baru pantau lereng tambang terbuka

September 30, 2026

Ikan gabus asli Danau Sentani makin sulit ditemukan

September 30, 2026

Danau Sentani semakin dijajah ikan “setan merah”

September 30, 2026

Presiden Bougainville mengutuk pembakaran di tambang Panguna

September 14, 2026

Belum ada tersangka dugaan penyeludupan BBM ilegal dari Bintuni ke Manokwari

September 7, 2026

Discussion about this post

Survey Pembaca
Reader's Survey

English Story

Merauke prison riot: Buildings Set Ablaze, Several Inmates Escape
12 October 2026
Merauke prison riot: Buildings Set Ablaze, Several Inmates Escape

Merauke, Jubi – A riot broke out at Merauke Class IIB Correctional Facility in South Papua on Friday morning, 9 [...]

LBH APIK Jayapura Urges Papua Police to Protect Child Sexual Abuse Victims and Their Advocates
12 October 2026
LBH APIK Jayapura Urges Papua Police to Protect Child Sexual Abuse Victims  and Their Advocates

Jayapura, Jubi – The Jayapura Legal Aid Institute of the Indonesian Women’s Association for Justice (LBH APIK Jayapura) has urged [...]

Papuan Indigenous Communities Achieve Self-Reliance Through Customary Forest Management
10 October 2026
Papuan Indigenous Communities Achieve Self-Reliance Through Customary  Forest Management

Teminabuan, Jubi – Indigenous Papuans have their own ways of managing customary forests to ensure they remain protected. They harvest [...]

Cenderawasih University student reports police officers over alleged assault
9 October 2026
Cenderawasih University student reports police officers over alleged assault

Jayapura, Jubi – Wialo Silak, chair of Cenderawasih University’s Student Consultative Assembly (MPM Uncen) for the 2026–2027 term, has reported [...]

Merauke regent calls for 2027 special autonomy funds to target three priorities
9 October 2026
Merauke regent calls for 2027 special autonomy funds to target three priorities

Merauke, Jubi – Merauke Regent Yoseph Bladib Gebze has called for Papua’s 2027 Special Autonomy (Otsus) funds to focus on [...]

  • Latest
  • Trending
  • Comments
Usulan mutasi antar-OPD

Usulan mutasi antar-OPD di Papua Tengah mesti sesuai persyaratan

October 12, 2026
Kabut asap karhutla

Kabut asap karhutla kepung Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura

October 12, 2026
Bantuan ambulans untuk tiga kabupaten

Pemprov Papua Selatan serahkan bantuan ambulans untuk tiga kabupaten

October 12, 2026
27 tahun Papua Barat

27 tahun Papua Barat: Angka kemiskinan menurun

October 12, 2026
Pemetaan Hutan Ulayat, Hutan Adat

Masyarakat adat Papua minta pemerintah percepat penetapan hutan adat

October 12, 2026
Keluarga Ifira di Vanuatu

Keluarga Ifira di Vanuatu melestarikan seni ukiran perahu tradisional

October 12, 2026
KRI rawat warga Fiji

KRI dr. Wahidin Sudirohusodo-991 merawat 686 Warga Fiji

October 12, 2026
Kabut asap karhutla

Kabut asap karhutla kepung Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura

October 12, 2026
RSUD Yowari

Keluarga pasien berharap Pemkab Jayapura evaluasi menyeluruh RSUD Yowari

March 17, 2026
KontraS

Koalisi desak presiden perintahkan tangkap pelaku teror terhadap aktivis KontraS

April 10, 2026
Pemeriksaan kesehatan

Dinkes Jayapura hadirkan dokter spesialis saat pemeriksaan kesehatan gratis

March 17, 2026
Pohon

Ratusan relawan tanam 420 pohon cemara di bukit Telaga Ria

March 14, 2026
pedagang pakaian

Potret lesu pedagang pakaian kaki lima jelang Idulfitri di Jayapura

March 17, 2026
Komnas HAM

Penggusuran paksa tanah masyarakat adat Biak diadukan ke Komnas HAM

March 17, 2026
Usulan mutasi antar-OPD

Usulan mutasi antar-OPD di Papua Tengah mesti sesuai persyaratan

0
Kabut asap karhutla

Kabut asap karhutla kepung Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura

0
Bantuan ambulans untuk tiga kabupaten

Pemprov Papua Selatan serahkan bantuan ambulans untuk tiga kabupaten

0
27 tahun Papua Barat

27 tahun Papua Barat: Angka kemiskinan menurun

0
Pemetaan Hutan Ulayat, Hutan Adat

Masyarakat adat Papua minta pemerintah percepat penetapan hutan adat

0
Keluarga Ifira di Vanuatu

Keluarga Ifira di Vanuatu melestarikan seni ukiran perahu tradisional

0
KRI rawat warga Fiji

KRI dr. Wahidin Sudirohusodo-991 merawat 686 Warga Fiji

0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara