Jayapura, Jubi – Dalam beberapa hari terakhir Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua dikepung kabut asap yang diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla di wilayah utara Papua Nugini (PNG).
Prakirawan Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah V Jayapura, Naufal Rieki menjelaskan berdasarkan hasil pemantauan BMKG pada 9–11 Oktober 2026, terdeteksi adanya titik panas (hotspot) di wilayah Kota Jayapura serta Kabupaten Jayapura dan sekitarnya, yakni di Distrik Gresi Selatan, Kabupaten Jayapura.
Sementara itu, berdasarkan penampakan citra satelit Himawari pada 9-11 Oktober 2026, sebaran kabut asap terpantau di sejumlah wilayah Papua, termasuk Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura.
“Ini disebabkan oleh adanya sebaran partikulat yang berada di udara akibat keberadaan massa partikulat hasil pembakaran bahan organik seperti kebakaran hutan dan lahan yang bersumber dari wilayah utara Papua Nugini oleh angin yang bertiup ke arah barat, barat laut menuju Kota/Kabupaten Jayapura,” ujar Naufal Rieki, Senin (12/10/2026).
Naufal mengatakan, selain itu dijumpai pula adanya karhutla yang terpantau pada 11 Oktober 2026 di lereng bukit wilayah Doyo Baru, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura.
Kombinasi kedua peristiwa ini disebut menyebabkan kondisi udara dalam periode tersebut menjadi kabur akibat terbentuknya akumulasi partikulat yang tipis di dekat permukaan.
Naufal Rieki menjelaskan, adapun nilai Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura pada periode 10-12 Oktober 2026, menunjukkan kategori sedang, khususnya pada partikel PM 2.5 dengan kisaran nilai 66-73.
Katanya, kondisi itu menunjukkan tingkat mutu udara yang masih dapat diterima kesehatan. Meski begitu masyarakat tetap diimbau mengurangi paparan asap dengan memakai masker yang sesuai.
“Apabila terjadi, hindari pembakaran di ruang terbuka, tutup pintu dan jendela saat berasap, dan selalu memantau informasi dari BMKG,” katanya.
Ia mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan hotspot pada 11 Oktober 2026 pukul 02.00 WP (Waktu Papua) – 12 Oktober 2026 pukul 02.00 WP, terpantau sebanyak 7.991 titik hotspot di seluruh wilayah Papua.
Sebaran hotspot didominasi oleh tingkat kepercayaan sedang sebanyak 7.002 titik, diikuti tingkat kepercayaan tinggi sebanyak 544 titik, dan tingkat kepercayaan rendah sebanyak 445 titik.
“Pada pemantauan kali ini, banyak hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi terpantau berada di wilayah Kabupaten Merauke, sehingga wilayah tersebut perlu mendapat perhatian khusus karena berpotensi mengalami kebakaran lahan,” ucapnya.
Secara umum kata Naufal Rieki, sebaran hotspot paling banyak terpantau di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, yaitu 4.910 titik, diikuti Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua Selatan dengan 1.132 titik, dan Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat 724 titik.
Sebelumnya, pihak Balai Taman Nasional Wasur menyatakan penanganan karhutla menghadapi tantangan berupa kondisi vegetasi yang mengering, medan yang sulit dijangkau, serta kebutuhan peralatan dan personel pemadaman.
Upaya yang dilakukan mencakup patroli, pemadaman, pemantauan menggunakan drone, dan edukasi kepada masyarakat.
Kondisi kekeringan disebut meningkatkan kerawanan kebakaran. Kebakaran dan kekeringan dinilai sebagai persoalan yang saling berkaitan karena kondisi vegetasi yang kering memudahkan api menyebar, sementara keterbatasan air menyulitkan upaya pemadaman.
Untuk memperkuat penanganan, Balai Taman Nasional Wasur menekankan perlunya dukungan sarana pemadaman dan koordinasi lintas instansi.
Dukungan pemerintah pusat juga diharapkan, termasuk kemungkinan bantuan udara untuk menjangkau lokasi kebakaran yang sulit diakses. (*)




















Discussion about this post