Jayapura, Jubi – Keberadaan ikan gabus asli dan ekosistem Danau Sentani dalam sekitar 15 tahun terakhir menunjukkan perubahan yang perlu mendapat perhatian, termasuk keberadaan ikan asli dan endemik lainnya. Sejumlah jenis ikan yang sebelumnya relatif mudah ditemukan kini semakin sulit didapati.
Ini disampaikan Peneliti Universitas Cenderawasih (Uncen), Suriani Surbakti, di kantornya, Universitas Cenderawasih, Kota Jayapura, Papua, Rabu (23/9/2026).
Suriani Surbakti mengatakan, kondisi tersebut perlu dikaji secara ilmiah untuk mengetahui perubahan populasi dan tingkat keterancaman ikan-ikan asli dan endemik di Danau Sentani.
“Kalau kita berbicara mengenai ikan endemik yang mengalami keterancaman, tentu ada standar dan parameter ilmiah yang harus digunakan. Karena itu, perlu dilakukan kajian lebih lanjut untuk mengetahui kondisi populasinya dan tingkat keterancamannya,” kata Suriani Surbakti.
Salah satu ikan yang perlu mendapat perhatian, kata Suriani, adalah ikan Gabus Danau Sentani (Glossogobius maculatus) yang merupakan bagian dari kekayaan ikan asli dan endemik yang memiliki keterkaitan erat dengan ekosistem Danau Sentani.
Menurutnya, berkurangnya ikan asli tidak dapat dilepaskan dari perubahan kondisi habitat.
Pembangunan dan pelebaran jalan, berkurangnya vegetasi, pendangkalan danau, pencemaran, aktivitas pertambangan, serta sampah dan limbah domestik yang masuk ke perairan turut memberikan tekanan terhadap ekosistem danau.
“Persoalannya bukan hanya pada ikannya, tetapi juga habitatnya. Ketika vegetasi dan struktur habitat berkurang, tempat berlindung, mencari makanan, dan berkembang biak bagi ikan juga ikut berkurang,” ujarnya.
Suriani menjelaskan, keberadaan ikan introduksi atau ikan eksotik juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan ekosistem Danau Sentani.
Beberapa jenis ikan pendatang, seperti mujair dan jenis ikan lainnya yang bersifat predator, dapat berinteraksi dan bersaing dengan ikan asli dalam memperoleh makanan dan ruang hidup.
Dalam kondisi tertentu, ikan-ikan tersebut juga dapat memangsa telur maupun anakan ikan asli. Ikan endemik memiliki karakteristik ekologis yang berbeda dengan ikan pendatang.
“Mereka telah beradaptasi dengan kondisi lingkungan Danau Sentani dalam waktu yang panjang. Ketika terjadi perubahan habitat dan muncul tekanan baru, kemampuan adaptasinya perlu dikaji lebih lanjut,” ucapnya.
Menurutnya, ikan asli dan endemik juga memiliki ketergantungan yang kuat terhadap struktur habitat tertentu.
Akar pohon, batang kayu, batu, serta vegetasi di sekitar perairan dapat menjadi tempat berlindung sekaligus lokasi pemijahan dan perlindungan bagi telur serta anakan ikan.
“Kalau habitat tersebut hilang akibat pembangunan atau perubahan lingkungan, ikan kehilangan tempat berlindung dan berkembang biak. Ini menjadi salah satu tekanan yang perlu mendapat perhatian,” katanya.
Selain memiliki nilai ekologis, ikan asli dan endemik Danau Sentani juga memiliki hubungan dengan kehidupan dan budaya masyarakat setempat.
Katanya, apabila ikan asli dan endemik semakin sulit ditemukan, masalahnya bukan hanya mengenai keanekaragaman hayati, juga berkaitan dengan budaya.
“Ikan-ikan tersebut merupakan bagian dari kekayaan alam yang telah lama berhubungan dengan kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Suriani, menjaga ikan asli dan endemik pada akhirnya berarti menjaga ekosistem Danau Sentani secara keseluruhan.
Karenanya lanjut Suriani, diperlukan kerja sama antara pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat, lembaga penelitian, serta pemangku kepentingan lainnya untuk menyusun program perlindungan dan pemulihan Danau Sentani.
“Danau Sentani tidak bisa dijaga oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kerja sama dan program yang berkelanjutan untuk melindungi danau, habitat, serta ikan asli dan endemiknya,” kata Suriani.
Ia berharap kajian mengenai kondisi ikan dan ekosistem Danau Sentani dapat terus dilakukan sehingga tersedia data ilmiah yang memadai sebagai dasar pengelolaan dan konservasi.
Sebab, menjaga Danau Sentani berarti menjaga habitat, ikan asli dan endemik, keanekaragaman hayati, sekaligus menjaga keterkaitannya dengan kehidupan dan budaya masyarakat.
“Ini menjadi tanggung jawab bersama agar Danau Sentani tetap lestari untuk generasi mendatang,” katanya.
Suriani menegaskan, upaya pelestarian ikan endemik tidak cukup dilakukan dengan menjaga populasinya saja. Perlindungan harus dilakukan secara bersamaan dengan menjaga kualitas dan keberlanjutan habitat Danau Sentani.
Dalam penelitian yang pernah dilakukan di Laboratorium Uncen, upaya rekayasa habitat dan pemijahan ikan asli telah dilakukan.
Hasilnya menunjukkan proses pemijahan dan penetasan telur dapat berlangsung dengan baik pada kondisi tertentu. Namun, tahap pemeliharaan anakan masih menghadapi tantangan.
Ia mengatakan, penelitian dengan pendekatan in vitro, pemberian hormon dari luar dapat merangsang pemijahan dan menghasilkan penetasan yang baik.
Tetapi pada tahap pemeliharaan anakan, tingkat kelangsungan hidup masih menjadi tantangan. Sekitar 50 persen anakan dapat bertahan dalam pengamatan pihaknya.
Katanya, keberhasilan konservasi ikan endemik sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, seperti suhu, pH, kualitas air, ketersediaan makanan, vegetasi, serta struktur habitat.
Karena itu, penelitian terhadap ikan seperti _Glossogobius maculatus_ perlu terus dikembangkan agar kebutuhan ekologisnya dapat dipahami secara lebih mendalam.
Ondofolo (Kepala Suku Adat Besar) Yanpit Wally (72 tahun) mengatakan, dulunya ia pernah menggantungkan hidup di Danau Sentani karena berlimpah, tapi sekarang ikan asli makin menghilang dan berkurang serta sulit didapatkan.
“Setelah ikan-ikan baru seperti ikan Lohan itu masuk, hampir semua kita punya ikan asli ini terdesak. Sekarang tidak kelihatan lagi dan jarang sekali didapatkan,” kata Yanpit Wally di Kampung Nendali, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua, Selasa (22/9/2026).
Wally, mengatakan dulu ikan asli itu banyak, jadi kalau kita cari ikan di danau dapatnya juga banyak. Dulu hanya gunakan alat tangkap sederhana saja.
Masyarakat nelayan pasang Bukhere (rumah ikan). Suatu waktu kemudian, lewat satu tahun begitu masyarakat panen ikan banyak sekali.
“Sekarang kita punya ikan asli dan ikan endemik sudah mulai punah dan hilang. Harapannya pemerintah buat peraturan untuk perlindungan ikan asli Danau Sentani,” ujarnya. (*)




















Discussion about this post