• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Lingkungan

Danau Sentani semakin dijajah ikan “setan merah”

September 30, 2026
in Lingkungan
Reading Time: 7 mins read
0
Penulis: Islami Adisubrata - Editor: Aryo Wisanggeni G
Keramba, Danau Sentani

Keramba ikan mujair milik Edi di perairan Telaga Ria, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. -Jubi/Islami Adisubrata

0
SHARES
0
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jayapura, Jubi – Habitat ikan di Danau Sentani, danau yang berada di Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, menghadapi tekanan ekologis yang cukup berat. Mulai akibat alih fungsi lahan, pencemaran, dan invasi spesies asing.

Danau tektonik yang terletak di bawah kaki Pegunungan Cycloop itu pernah menjadi rumah aman bagi keanekaragaman hayati ikan di sana. Laporan penelitian “Keanekaragaman Ikan di Danau Sentani” yang dipublikasikan Lasmining Pujiyani Astuti bersama Chairulwan Umar dan Andriwarsa pada 2017 nmenyebutkan ada 33 spesies ikan di danau seluas 9.630 hektare itu. Sejumlah 13 di antaranya, merupakan spesies asli Danau Sentani.

Terdapat lima spesies ikan endemik Papua—yaitu Anus sp, Neosilirus novaegunineneae, Chilatenina sentaniensis, Glossolepis incisus, dan Glossogobius koragensis. Danau Sentani juga rumah bagi ikan hiu gergaji (Pritis microdon), satu-satunya jenis hiu air tawar di dunia.

Selain itu, Danau Sentani juga menjadi rumah bagi banyak spesies ikan introduksi seperti ikan nila (Oreochromis niloticus), ikan nilem (Osteochilus vittatus), ikan red devil (Amphilophus citrinellus), ikan sembilang atau lele (Arius velutinus), ikan pelangi bergaris (Chilatherina fasciata), dan ikan pelangi merah (Glossolepis incisus).

Sejak lama, Danau Sentani menjadi tempat budidaya berbagai jenis ikan air tawar. Data Pemerintah Provinsi Papua menyatakan terdapat menyebut terdapat 542 unit keramba di Danau Sentani yang dimiliki 274 nelayan keramba. Akan tetapi, dalam beberapa tahun terakhir keanekaragaman hayati ikan Danau Sentani semakin terancam oleh dominasi satu jenis ikan introduksi, yaitu ikan red devil (Amphilophus citrinellus).

Ikan red devil dominan, kerap menghabiskan pakan ikan keramba, atau bahkan memasuki keramba dan memangsa ikan di dalam keramba. Dari pinggir Danau Sentani, orang bisa dengan mudah menemukan ikan red devil, menunjukkan semakin banyaknya populasi “setan merah” di sana.

Para pengusaha keramba harus beradaptasi melawan banyaknya ikan red devil yang dikenal warga sebagai “ikan louhan”. Edi, salah satu pengusaha keramba di Danau Sentani, memilih meninggalkan keramba model tancap dan kolam ikan, karena rawan dimasuki ikan red devil. Edi yang membuka usaha keramba ikan di sekitar Telaga Ria, Kabupaten Jayapura, sudah 10 tahun membudidaya ikan nila dan ikan mujair. Budidaya itu ia lakukan dengan 117 keramba di perairan yang ia sewa dari pemilik tanahnya.

BERITATERKAIT

Danau Sentani Menyimpan PR Besar: Analisis AHP Ungkap Kampung Yoboi Jadi Prioritas Utama Penanganan Anak Putus Sekolah

Tambang emas ilegal mengancam Danau Sentani

Anggota DPR Papua usulkan pembersihan Danau Sentani

Ikan sapu-sapu sudah ditemukan di Danau Sentani

Ia memilih membudidayakan ikan dalam keramba apung, yaitu keramba ikan berpelampung yang selalu menyesuaikan pasang dan surut air Danau Sentani. “Keramba yang tancap itu, biasa kalau air danau naik, maka jaring akan tertutup dengan air sehingga memudahkan ikan louhan masuk dan memakan ikan di dalam keramba. [Ikan louhan] terutama [memasuki keramba atau kolam budidaya bibit mujair dan lele,” kata Edi saat ditemui di lokasi kerambanya pada Kamis (25/6/2026).

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

Edi mengisi keramba apungnya dengan bibit ikan mujair dari Koya, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura. Ia membudidayakan ikan di dalam kerambanya, lalu menjual ikan yang masih berupa bibit ataupun yang telah siap dikonsumsi. Untuk menghidupi ikan di ratusan kerambanya, setiap hari Edi harus menyediakan pakan sekitar 200 kilogram. Panenan ikannya dijual dengan harga berkisar Rp80 ribu per kilogram.

Sebagai pemasok ikan ke sejumlah rumah makan, Edi harus mengikuti standar ukuran ikan konsumsi yang dibutuhkan setiap rumah makan. “Jadi, kami harus jaga besar kecilnya ikan. Kalau di warung atau rumah makan, kadang tidak suka juga dengan [ikan mujair] yang terlalu besar. Kira-kira [seukuran] tiga atau empat jari lah, baru [mereka] mau,” kata Edi.

Keramba, Danau Sentani, Ikan Red Devil
Ikan red devil (Amphilophus citrinellus) yang kini mendominasi Danau Sentani di Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. – Jubi/Islami Adisubrata

Berkurangnya habitat asli

Edi bukan satu-satunya pembudidaya ikan yang harus berhadapan dengan ikan red devil. Yan Flanig Pulalo (34), masyarakat adat yang sehari-hari hidup dengan mencari ikan tangkapan dan membudidayakan ikan dalam keramba di Danau Sentani juga merasakan dominasi ikan red devil di sana. Ia bahkan khawatir ikan asli Danau Sentani, seperti ikan gabus hitam asli Danau Sentani (Oxyeleotris heterodon) bakal punah, tergusur ikan red devil.

“Dulu waktu saya masih kecil, [saya sering] ikut cari ikan di danau, masih bisa ketemu gabus asli Sentani atau ikan asli lainya. Sekarang, kalau cari ikan [di Danau Sentani], kebanyakan dapat ikan louhan,” kata Yan Pulalo saat ditemui di rumahnya, Rabu (22/7/2026).

Menurutnya, kemunculan ikan red devil yang invasif mulai disadari masyarakat adat yang bermukim di Danau Sentani saat mereka berburu ikan dengan cara menyelam (molo). Awalnya, keberadaan ikan red devil masih asing. Seiring berjalannya waktu, populasi red devil melonjak tajam dan menggeser populasi ikan asli danau seperti ikan hewu, gete-gete danau, hingga ikan gabus asli Danau Sentani.

Kekhawatiran Yan Pulalo itu juga menjadi temuan publikasi tiga peneliti Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumberdaya Ikan—Chairulwan Umar, Endi Setiadi Kartamihardja, dan Aisyah dalam laporan berjudul “Dampak Invasif Ikan Red Devil (Amphilophus citrinellus) Terhadap Keanekaragaman Ikan di Perairan Umum Daratan di Indonesia”. Laporan itu menyebut ikan red devil mulai ditemukan di Danau Sentani sejak 2005, dan sejak saat itu semakin dominan di sana.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa semakin bertambahnya populasi ikan red devil telah menyebabkan berkurangnya populasi ikan gabus hitam. Padahal, ikan gabus hitam merupakan ikan yang diminati pasar, dan memiliki harga jual yang tinggi. Laporan Chairulwan Umar dan kawan-kawan itu menyatakan sekitar 45 persen hasil tangkapan ikan di Danau Sentani adalah ikan red devil.

Yan Pulalo pun mengakui semakin kesulitan mencari ikan gabus hitam. “Dulu, kalau orang pesan ikan gabus, mau berapa pun, dari malamnya cari sampai pagi, dan bisa dapat. Tapi semenjak ikan louhan ini muncul, gabus dengan sendirinya berkurang,” katanya. Ia bercerita, ikan asli Danau Sentani yang disebut warga ikan hewu kini juga semakin jarang ditemukan.

Dulu Yan Pulalo juga memiliki keramba ikan untuk membudidayakan mujair dan lele. Namun, semenjak kemunculan ikan red devil, ikan di dalam kerambanya  perlahan habis dimakan si “setan merah”.

Jika ia menangkap ikan memakai jala, ikan red devil sering kali tersangkit di jaringnya. Proses pelepasan ikan red devil dari jaring nelayan bisa memakan waktu berjam-jam, saking banyaknya red devil yang tersangkut jaring. Repotnya, ikan red devil memiliki nilai jual yang sangat murah dibanding ikan asli Danau Sentani. Ikan red devil bahkan tidak pernah dijual per ekor atau per ikat, dan lebih sering dijual dalam bentuk tumpukan atau dijual per ember.

“Nilai jualnya kecil, kadang satu tumpuk cuma Rp20.000 sampai Rp30.000. Kalau ada yang pesan Rp100.000 atau Rp200.000, kami kasih satu ember besar penuh. Ikan itu gampang sekali didapat, jadi harganya murah,” ujarnya.

Bila dibandingkan, harga ikan gabus asli Danau Sentani jauh lebih mahal. Seikat ikan gabus (berisi 12 ekor) dapat dijual seharga Rp200.000.

Dulu nelayan bisa mendapatkan enam hingga 10 ekor ikan gabus asli Danau Sentani dengan mudah. Kini, nelayan harus menyelam hingga kedalaman 6 hingaa 7 meter, atau membuat sarang buatan dari karung semen berisi batu. Pembeli bahkan harus memesan tiga hari sebelumnya jika menginginkan ikan gabus asli Danau Sentani.

Gara-gara ikan red devil merepotkan pemilahan ikan, kini Yan Pulalo lebih memilih fokus mencari ikan sembilang sebagai mata pencaharian hariannya. Ia hanya akan mencari ikan louhan, mujair, dan gabus asli danau jika ada pesanan khusus.

Pulalo mengaku tak tahu bagaimana mengurangi populasi ikan red devil di Danau Sentani. “Kalau untuk dihabiskan, memang susah sekali. Solusinya kembali ke kita saja. Kalau rajin pasang jaring, ya bisa sedikit mengurangi, tapi kalau dibiarkan, besok-besok jumlahnya tambah banyak lagi,” katanya.

Para Pedagang di depan Taman Budaya Expo Waena Kota Jayapura
Para pedagang ikan yang berjualan di depan Taman Budaya Expo Waena, Kota Jayapura, Provinsi Papua. – Jubi/Islami Adisubrata

Bisa dimanfaatkan

Meski dianggap sebagai hama karena memangsa ikan keramba maupun ikan asli Danau Sentani, ikan red devil juga bisa memberi penghasilan untuk warga. Mama Maria Ongge (45) yang sudah sekitar 20 tahun berjualan ikan di seberang Taman Budaya di Waena, Kota Jayapura menuturkan minat pembeli terhadap ikan red devil bertambah. Akan tetapi, ia menyebut ikan red devil tetaplah lebih murah dibandingkan ikan mujair, apalagi ikan gabus.

“Sekarang banyak yang cari ikan louhan. Awal-awal orang belum tahu rasanya dan kurang suka. Tetapi setelah dicoba, justru pembelinya makin banyak,” kata Maria saat ditemui di tempat berjualannya, Rabu (26/8/2026).

Menurut Maria, cita rasa daging ikan red devil itu berbeda dari ikan mujair. Jika mujair memiliki sedikit rasa manis pada dagingnya, ikan red devil cenderung berasa lebih tawar. Meski begitu, ikan ini tetap diminati oleh warga, terutama untuk dijadikan ikan bakar.

Namun, ia pun mengeluhkan keberadaan ikan red devil di Danau Sentani juga dikenal agresif. Menurutnya, ikan mujair lepas dari karamba bakal menjadi sasaran ikan red devil.

“Ikan mujair biasa matanya digerogoti oleh ikan lohan. Padahal ikannya masih segar, tetapi ada bagian yang rusak karena diserang,” katanya.

Secara visual, ikan louhan di Danau Sentani memiliki variasi warna yang beragam. Selain ikan red devil yang berwarna merah, juga ada yang berwarna hitam, kuning, hingga merah muda. Variasi warna ini dipengaruhi oleh habitat dan pakan mereka di danau.

Ikan louhan berwarna merah muda biasanya ditemukan di area tengah Danau Sentani. Sementara yang berwarna kuning dan merah kerap berkeliaran di sekitar keramba warga, memanfaatkan sisa-sisa pakan ikan mujair.

Untuk memenuhi permintaan pembeli, Maria mendapatkan pasokan ikan red devil dari hasil tangkapan sendiri, serta membeli dari para nelayan langganannya. Ikan-ikan segar tersebut ditangkap setiap hari dan langsung dijual di pinggir jalan.

Ikan red devil biasanya dijual dalam satuan tumpukan atau per ikatan. Satu tumpuk ikan red devil berisi sekitar lima hingga enam ekor bisa dijual dengan harga berkisar Rp50.000 hingga Rp150.000, tergantung ukuran ikan. “Dalam seminggu bisa dapat lebih dari 10 tumpuk. Harganya memang relatif lebih murah dibanding ikan lain,” ujar Maria.

Meski kondisi pasar kadang pasang surut, peminat ikan red devil selalu ada setiap harinya. Dari hasil penjualan harian tersebut, Maria bisa mengantongi pendapatan yang cukup lumayan.

“Kalau jual per hari dapatnya tergantung ukuran per tumpuk. Terkadang hasilnya bisa sampai Rp300.000 per hari,” katanya.

Seorang warga, Dimas yang ditemui saat berbelanja ikan mengaku membeli ikan red devil karena ingin mencoba rasanya. “Cuma ingin rasa saja, apa sama seperti mujair atau nila pada umumnya atau tidak,” katanya.

Penataan ulang Danau Sentani

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua, Iman Djuniawal menyatakan dari sisi hidrologi, Danau Sentani memiliki pola aliran air yang unik namun berisiko tinggi. Danau itu memiliki 17 pintu air masuk, tetapi hanya mengandalkan satu pintu keluar utama, yakni di wilayah Jefuri. Kondisi ini membuat permukaan air danau berpotensi melonjak drastis, terutama saat curah hujan tinggi serta semakin berkurangnya resapan air di wilayah pegunungan sekitarnya.

Situasi diperparah oleh maraknya aktivitas penebangan hutan di area hilir Jefuri. Pembalakan itu berisiko menyumbat dan mempersempit jalur pelepasan air, yang pada akhirnya dapat memicu bencana banjir bandang di kawasan permukiman sekitarnya.

Tidak hanya ancaman fisik berupa banjir, kesuburan alami perairan Danau Sentani juga mulai mengalami gangguan signifikan. Fenomena upwelling—yaitu pembalikan massa air akibat perbedaan suhu permukaan yang panas dan air dasar danau yang dingin—makin sering memicu pengangkatan gas-gas beracun dari dasar ke permukaan.

Ketidakseimbangan antara daya dukung lingkungan dan tekanan akibat budidaya perikanan yang melebihi kapasitas disinyalir menjadi penyebab utama memburuknya kualitas air. Dampak dari penurunan kualitas lingkungan ini menghantam langsung keberadaan biota asli Danau Sentani. Ikan khas endemik seperti ikan gurendang (Glossolepis incisus), ikan goby, dan ikan kaskadu kini berada dalam bayang-bayang kepunahan.

Selain kalah bersaing akibat maraknya budidaya ikan mujair dan ikan mas, ikan endemik Danau Sentani makin terdesak oleh hadirnya ikan predator invasif seperti ikan gabus toraja (Channa striata) dan Red Devil.

Penanganan ancaman krisis ekologi itu membutuhkan pengelolaan Danau Sentani. Pemerintah Provinsi Papua diharapkan mengambil peran aktif sebagai fasilitator, sementara Pemerintah Kabupaten Jayapura dan Pemerintah Kota Jayapura bertindak sebagai pemegang kewenangan langsung atas perairan darat.

Regulasi untuk melindungi ekosistem Danau Sentani harus diperkuat, membatasi jumlah aktivitas di Danau Sentani agar tidak melampaui daya dukungnya. Aktivitas perikanan budidaya maupun perikanan tangkap harus ditata ulang demi menjaga keseimbangan ekosistem Danau Sentani agar tetap berkelanjutan.

“Kenapa sekarang ikan red devil bisa mendominasi, berarti ada upaya atau masuk dari mana. Perkembangan ikan itu lebih ganas lagi dibandingkan gabus yang selama ini dianggap sebagai predator puncak di Danau Sentani,” katanya.

Ikan red devil ini merupakan jenis ikan yang tidak bisa dimakan ikan lain, karena memiliki sirip punggung yang keras. Harus ada upaya lain untuk mengurangi populasi ikan red devil di Danau Sentani. “Misalnya ditangkap, kemudian diolah menjadi suatu produk entah itu cemilan atau apa, sehingga ekonomi masyarakat bisa berjalan,” katanya.

Iman menyatakan pihaknya hanya berwenang memfasilitasi penataan ulang pemanfaatan Danau Sentani. Sedangkan Pemerintah Kabupaten Jayapura dan Pemerintah Kota Jayapua berwenang mengelola aktivitas perikanan budidaya di Danau Sentani. Iman menyatakan harus ada upaya untuk membudidayakan lagi ikan gabus hitam asli Danau Sentani.

Menurutnya, produktivitas perikanan budidaya di Danau Sentani juga sudah berkurang. Volume produksi perikanan budidaya di sana tinggi ketika pemerintah daerah membuat program khusus di sana. “Namun setelah program itu berakhir, perkembangan keberlanjutan itu tidak [ada] lagi, hanya beberapa saja yang masih bertahan,” katanya. (*)

Tags: Danau SentaniIkan Gabus SentaniIkan Red Devilperikanan budidayaPerikanan Tangkap
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Danau Sentani

Danau Sentani Menyimpan PR Besar: Analisis AHP Ungkap Kampung Yoboi Jadi Prioritas Utama Penanganan Anak Putus Sekolah

September 5, 2026
Tambang emas ilegal

Tambang emas ilegal mengancam Danau Sentani

August 27, 2026

Anggota DPR Papua usulkan pembersihan Danau Sentani

June 14, 2026

Ikan sapu-sapu sudah ditemukan di Danau Sentani

June 2, 2026

Gubernur Fakhiri salurkan bantuan banjir ke Pemerintah Kabupaten Jayapura

April 29, 2026

Pasar Lama Sentani, tetap hidup dan menghidupi

April 18, 2026

Discussion about this post

Survey Pembaca
Reader's Survey

English Story

Different approaches to Papua’s problems are blocking dialogue
29 September 2026
Different approaches to Papua’s problems are blocking dialogue

Jayapura, Jubi – Papuan political figure Laurenzus Kadepa says differences in perspectives have made it difficult to find the best [...]

The Legal and Human Rights Department of the Evangelical Church in Indonesia launches legal aid institute
29 September 2026
The Legal and Human Rights Department of the Evangelical Church in  Indonesia launches legal aid institute

Jayapura, Jubi – The Legal and Human Rights Department of the Evangelical Church in Indonesia (GIDI) has launched the GIDI [...]

Maybrat resident allegedly tortured at Marine post
28 September 2026
Maybrat resident allegedly tortured at Marine post

Sorong, Jubi – A resident of Wakom Village, East Aifat District, Maybrat Regency, Southwest Papua, identified as Wilem, also known [...]

YKKMP: Indonesia must address human rights concerns in Papua with evidence
28 September 2026
YKKMP: Indonesia must address human rights concerns in Papua with evidence

Jayapura, Jubi – The Papua Foundation for Justice and Human Integrity (YKKMP) says the Indonesian government should respond to allegations [...]

Farewell to two Papuan journalists, Joost Mirino and Hendrikus Ondi
26 September 2026
Farewell to two Papuan journalists, Joost Mirino and Hendrikus Ondi

Jayapura, Jubi – Papua has lost two journalists who studied at Satya Wacana Christian University in Salatiga, Central Java. Joost [...]

  • Latest
  • Trending
  • Comments
Keramba, Danau Sentani

Danau Sentani semakin dijajah ikan “setan merah”

September 30, 2026
Komisi Yudisial atau KY Papua

Penghubung KY Papua dorong masyarakat adat terlibat mengawasi integritas hakim

September 29, 2026
PNG

Strategi kakao di PNG: Menargetkan menciptakan lapangan kerja

September 29, 2026
PINA

Presiden PINA: Memperkuat ruang redaksi di wilayah Pasifik

September 29, 2026
PNG

Tiga bayi kembar prematur di pedalaman PNG meninggal sebelum bantuan tiba

September 29, 2026
praperadilan

Hakim kabulkan praperadilan: Penetapan tersangka Yonex Carter tidak sah

September 29, 2026
Sulitnya menyelesaikan masalah Papua

Perbedaan cara pandang penyebab sulitnya menyelesaikan masalah Papua

September 28, 2026
Kantor ICC

AS mengucapkan selamat kepada Naoero atas keputusan penarikan diri dari ICC

September 28, 2026
Pasifik

Para pemimpin Pasifik mendesak Jakarta mengizinkan kunjungan PBB ke Papua Barat

September 28, 2026
praperadilan

Hakim kabulkan praperadilan: Penetapan tersangka Yonex Carter tidak sah

September 29, 2026
Pre-COP

Jelang Pre-COP: Masyarakat sipil Pasifik meluncurkan ‘seruan funafuti keadilan iklim’

September 28, 2026
LBH GIDI

Departemen Hukum dan HAM GIDI luncurkan LBH GIDI

September 28, 2026
Sulitnya menyelesaikan masalah Papua

Perbedaan cara pandang penyebab sulitnya menyelesaikan masalah Papua

September 28, 2026
pedagang pakaian

Potret lesu pedagang pakaian kaki lima jelang Idulfitri di Jayapura

March 17, 2026
Keramba, Danau Sentani

Danau Sentani semakin dijajah ikan “setan merah”

0
Komisi Yudisial atau KY Papua

Penghubung KY Papua dorong masyarakat adat terlibat mengawasi integritas hakim

0
PNG

Strategi kakao di PNG: Menargetkan menciptakan lapangan kerja

0
PINA

Presiden PINA: Memperkuat ruang redaksi di wilayah Pasifik

0
PNG

Tiga bayi kembar prematur di pedalaman PNG meninggal sebelum bantuan tiba

0
praperadilan

Hakim kabulkan praperadilan: Penetapan tersangka Yonex Carter tidak sah

0
Sulitnya menyelesaikan masalah Papua

Perbedaan cara pandang penyebab sulitnya menyelesaikan masalah Papua

0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara