Jayapura, Jubi – Komoditas pertanian Papua Nugini (PNG), yang dipimpin oleh kakao, kopi, minyak sawit, dan kopra, tetap menjadi tulang punggung ekonomi nasional, menopang mata pencaharian lebih dari 80 persen penduduk di kampung-kampung.
Dewan Kakao PNG telah meluncurkan rencana strategis 10 tahun yang bertujuan untuk mendorong lapangan kerja nasional dan meningkatkan pendapatan pedesaan dengan membuka potensi miliaran kina dari kakao dan komoditas pertanian utama lainnya.
Dewan Kakao PNG dan Departemen Perencanaan dan Pemantauan Nasional mengatakan ada potensi untuk menciptakan hingga satu juta lapangan kerja melalui sektor pertanian.
Untuk mengubah sektor ini dari sistem subsisten dasar menjadi mesin utama untuk lapangan kerja nasional, Departemen Perencanaan dan Pemantauan Nasional dan dewan komoditas seperti Dewan Kakao PNG mengalihkan fokus mereka dari ekspor bahan mentah ke pengolahan hilir domestik dan penambahan nilai.
“Rencana strategis ini merupakan instrumen nyata dari komitmen Pemerintah Marape-Rosso untuk mengembangkan ekonomi PNG hingga 200 miliar dan menciptakan satu juta lapangan kerja,” demikian dikutip Jubi dari laman internet http://tvwan.com.pg, Selasa (29/9/2026).
“Keberhasilan sejati dari rencana ini bukan hanya kata-kata di atas kertas, tetapi hasil nyata dari tingkat petani untuk memastikan tercapainya target,” kata Menteri Pertanian John Boito.
Di bawah Rencana Strategis Industri Kakao 2026–2035, pengolahan hilir dan penambahan nilai merupakan pilar utama.
Strategi ini bertujuan untuk menggeser Papua Nugini dari pengekspor bahan mentah menjadi pusat pengolahan regional.
Wakil Sekretaris Departemen Perencanaan dan Pemantauan Nasional, Michael Kumung, mengatakan pemberdayaan sektor komoditas pertanian negara dapat menciptakan peluang kerja yang signifikan bagi kaum muda.
Ia mengatakan modernisasi rantai nilai dan pendanaan pabrik lokal dapat membantu sektor ini menyerap ribuan lulusan sekolah dan pemuda pedesaan ke dalam karier manufaktur dan pertanian yang berkelanjutan.
“Ketika kita mengalokasikan dana ke area tertentu, satu juta lapangan kerja yang kita proyeksikan pasti akan tercapai. Ketika kita menciptakan pemberdayaan di bidang pertanian melalui kakao, kopi, dan sektor lainnya, satu juta lapangan kerja mudah diciptakan,” kata Michael Kumung, Wakil Sekretaris Departemen Perencanaan dan Pemantauan Nasional.
Sementara itu, mengutip laman internet http://www.fao.org, Program EU-STREIT PNG yang dipimpin FAO telah memberikan dukungan dan bantuan teknis kepada 361 kampung dan komunitas kampung mengenai komponen rantai nilai kakao di seluruh Greater Sepik, antara lain:
- Mengembangkan kapasitas 5.065 petani kakao (termasuk 929 perempuan dan 1.989 pemuda) sebagai pelatih utama (Training of Trainers) untuk memberikan layanan penyuluhan tingkat akar rumput tentang produksi bibit kakao dan praktik pengelolaannya.
- Melatih 3.416 petani kakao (termasuk 498 perempuan dan 911 pemuda) tentang rehabilitasi lahan dan penggantian bertahap pohon tua dan layu dengan hibrida/klon/pencangkokan tunas chupon.
- Mempromosikan dan meningkatkan kapasitas 2.631 petani kakao (termasuk 333 perempuan dan 714 pemuda) untuk mengadopsi praktik pertanian berkelanjutan/cerdas iklim di lahan kakao.
- Meningkatkan kapasitas dan keterampilan 88 UMKM kakao dalam pengembangan usaha dan perencanaan bisnis, termasuk akses ke layanan keuangan, serta peningkatan literasi keuangan.
- Mendukung dan memfasilitasi pembentukan 90 kelompok/kluster kakao – mencakup 794 penerima manfaat termasuk 129 perempuan dan 240 pemuda. (*)





















Discussion about this post