Jayapura, Jubi – Kematian ibu hamil dan bayi biasanya terjadi karena terlambat mengambil keputusan, terlambat sampai ke fasilitas kesehatan, dan terlambat mendapatkan penanganan.
Salah satu kasus kematian tiga bayi kembar di daerah terpencil di Papua New Guinea (PNG) terjadi karena kendala jarak geografis dan sulitnya akses transportasi yang memperlambat proses rujukan pasien ke tempat yang memadai.
Seorang ibu muda yang melahirkan bayi kembar tiga di daerah terpencil Papua Nugini berhasil dievakuasi, tetapi ketiga bayinya meninggal sebelum bantuan dapat sampai kepada mereka, sebagaimana dilansir Jubi dari laman RNZ Pasifik, Selasa (29/9/2026).
Manolos Aviation melakukan evakuasi medis darurat pagi ini, Senin (28/9/2026) dari Onga-Waffa di Distrik Markham, membawa ibu tersebut ke ibu kota Provinsi Morobe, Lae, tak lama setelah pukul 10.00 pagi sebelum dibawa ke rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut.
Wanita itu melahirkan bayi kembar tiga secara prematur sekitar bulan kedelapan kehamilannya.
Terlepas dari upaya petugas kesehatan di fasilitas kesehatan setempat, ketiga bayi tersebut meninggal dalam selang waktu beberapa jam.
Klinik tersebut memiliki sumber daya terbatas dan tidak mampu memberikan tingkat perawatan neonatal khusus yang dibutuhkan oleh bayi prematur tersebut.
Neonatal adalah istilah medis yang merujuk pada bayi baru lahir, yaitu rentang usia dari hari pertama kelahiran hingga genap berusia 28 hari.
CEO dan pilot Manolos Aviation, Kapten Jurgen Ruh, mengatakan bahwa hasilnya berpotensi berbeda jika tim evakuasi medis menerima panggilan darurat lebih awal.
“Tidak satu pun bayi yang selamat. Satu bayi meninggal tadi malam dan dua lainnya meninggal pagi ini pukul sembilan,” kata Kapten Ruh.
Tragedi ini sekali lagi menyoroti kesulitan yang dihadapi oleh para ibu dan bayi baru lahir di daerah terpencil Papua Nugini.
Di mana isolasi geografis, buruknya akses transportasi, dan keterbatasan sumber daya medis dapat mengubah komplikasi selama persalinan menjadi keadaan darurat yang mengancam jiwa.
Bagi Manolos Aviation, kasus ini juga mengingatkan pada evakuasi sebelumnya yang melibatkan seorang ibu lain yang melahirkan anak kembar tiga.
Pada Mei 2017, perusahaan tersebut mengevakuasi Rose Andy yang berusia 25 tahun dan bayi kembar tiganya yang baru lahir dua laki-laki dan satu perempuan dari desa terpencil Sikami di Distrik Obura-Wonenara, Provinsi Dataran Tinggi Timur.
Sang ibu mengalami komplikasi serius setelah melahirkan dan mengalami pendarahan saat panggilan bantuan dilakukan.
Kapten Ruh dan seorang perawat evakuasi medis terbang ke komunitas terpencil itu, menstabilkan kondisi ibu dan bayi-bayinya, lalu membawa mereka ke Rumah Sakit Umum Angau di Lae.
Ketiga bayi tersebut selamat, dan setelah empat minggu di Angau, keluarga tersebut diizinkan untuk kembali ke rumah.
Sejak itu, pekerjaan evakuasi medis Manolos Aviation telah berkembang pesat, dengan program MAMA Medevac yang menyediakan transportasi udara darurat bagi pasien dari beberapa komunitas paling terpencil di negara tersebut.
Salah satu misi terbarunya yang paling terkenal melibatkan bayi kembar siam Tom dan Sawong, yang lahir di Rumah Sakit Braun Memorial di Finschhafen pada Oktober 2025.
Dalam waktu dua hari setelah kelahiran mereka, Manolos Aviation mengevakuasi si kembar ke Rumah Sakit Angau Memorial sebelum akhirnya dipindahkan ke Australia untuk perawatan medis yang sangat khusus.
Para dokter kemudian melakukan operasi pemisahan yang kompleks di Sydney. Tom, yang mengalami komplikasi medis parah, tidak selamat, tetapi operasi tersebut menyelamatkan Sawong.
Dikutip dari http://www.who.int, bahwa di Papua Nugini telah mengambil langkah penting untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi baru lahir dengan menyelenggarakan lokakarya penulisan nasional untuk menyelesaikan alat-alat yang akan membantu meningkatkan kualitas perawatan selama persalinan, dan pascapersalinan awal yang akan berdampak positif pada perawatan bayi baru lahir yang penting sejak dini.
Meskipun 56% wanita di PNG menerima perawatan antenatal dari penyedia layanan kesehatan yang terampil, hanya 42% persalinan yang ditangani oleh petugas kesehatan terlatih.
Antenatal care (ANC) atau perawatan antenatal adalah serangkaian pemeriksaan kesehatan fisik dan mental yang diberikan secara rutin kepada ibu hamil oleh tenaga medis profesional. Rasio kematian ibu tetap tinggi, yaitu 171 kematian per 100.000 kelahiran hidup.
Salah satu alasan mengapa banyak wanita masih memilih untuk melahirkan di rumah adalah karena kekhawatiran tentang kualitas perawatan yang mereka terima di fasilitas kesehatan.
Meningkatkan perawatan selama persalinan sangat penting untuk menyelamatkan nyawa dan membangun kepercayaan pada sistem kesehatan.
Untuk mendukung hal ini, Departemen Kesehatan Nasional, dengan bantuan dari WHO dan mitra lainnya, mengembangkan alat khusus untuk membantu petugas kesehatan memantau dan meningkatkan perawatan yang mereka berikan.
Alat-alat ini diuji pada tahun 2024 di Rumah Sakit Umum Port Moresby, Rumah Sakit Modilon, dan Rumah Sakit Buka. Sekarang, alat-alat tersebut sedang ditinjau dan ditingkatkan berdasarkan umpan balik dari lokasi-lokasi tersebut.
Dr. Masahiro Zakoji, Pejabat Sementara WHO di PNG, menyoroti pentingnya pekerjaan ini:
“Meningkatkan kualitas perawatan selama persalinan adalah salah satu cara paling efektif untuk mengurangi kematian ibu dan bayi baru lahir.”
“Lokakarya penulisan ini merupakan langkah penting dalam memastikan bahwa setiap wanita dan bayi baru lahir di PNG menerima perawatan yang aman, penuh hormat, dan berbasis bukti.” (*)





















Discussion about this post