Sentani, Jubi – Keheningan dan ketenangan menjadi sumber inspirasi Beatrix Antonieta Manggo dalam membangun merek kriya Papua bernama Ticia. Melalui merek tersebut, Beatrix Manggo ingin menghadirkan karya yang tidak hanya memiliki nilai estetika, juga cerita, identitas, dan kekayaan budaya Papua.
Perempuan yang memiliki akar keluarga dari Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Ia mengembangkan berbagai produk kriya dengan memanfaatkan kekayaan budaya dan alam Papua.
Noken, batik, tenun, kulit, hingga motif flora dan fauna Papua dipadukan menjadi produk fesyen yang lebih modern.
Produk-produk tersebut ia bawa dalam Festival Danau Sentani atu FDS XV di Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua sebagai bagian dari upayanya memperkenalkan kriya Papua sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.
Nama Ticia dipilih Beatrix Manggo setelah melalui proses pencarian. Ia ingin menemukan nama yang dapat merepresentasikan produk sekaligus menjadi identitas karya-karyanya.
Manggo mengatakan, Ticia terinspirasi dari bahasa Slavia, termasuk bahasa Ceko dan Slovakia, yang bermakna diam dan tenang. Makna tersebut ia hubungkan dengan proses kreatif dalam menghasilkan sebuah karya.
“Untuk membuat satu karya itu memang kita harus diam, kita harus tenang. Dari situ akan keluar inspirasi-inspirasi baru yang bisa menciptakan karya-karya terbaik,” kata Beatrix saat ditemui wartawan Jubi di lokasi FDS ke XV Pantai Kalkote, Kampung Harapan, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Sabtu (5/9/2026).
Filosofi tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan Ticia sebagai merek yang mengangkat kekayaan budaya Papua melalui kriya dan fesyen.
Beatrix Manggo tidak ingin noken hanya dipandang sebagai barang tradisional untuk membawa hasil kebun atau kebutuhan sehari-hari.
Menurutnya, noken memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk fesyen dengan tetap mempertahankan identitas dan teknik tradisional yang melekat di dalamnya.
Ia kemudian mengombinasikan noken dengan bahan lain seperti kulit dan batik. Hasilnya berupa tas dan berbagai produk fesyen yang dapat digunakan dalam kegiatan formal maupun sehari-hari.
“Bagaimana supaya tas yang ada itu, noken, saya kolaborasikan supaya lebih kekinian dengan produk-produk yang bisa saya kombinasi dengan kulit dan lainnya,” ujarnya.
Upaya tersebut mulai ia kembangkan sejak 2024. Produk noken hasil modifikasinya kemudian mendapat kesempatan diperkenalkan ke luar negeri, termasuk di Busan, Korea Selatan.
Ia membawa produk noken melalui kerja sama dengan mitra untuk ditempatkan di sebuah toko yang menampilkan berbagai produk wastra Nusantara.
Pengalaman tersebut semakin memperkuat keyakinannya bahwa produk Papua memiliki peluang diterima di pasar internasional apabila dikembangkan dengan inovasi dan kualitas yang baik.
Selain noken, Manggo juga mengembangkan batik dengan mengangkat berbagai simbol, flora, fauna, dan cerita masyarakat Papua. Tidak hanya menggunakan motif yang sudah umum dikenal seperti cenderawasih, tifa, honai atau koteka.
Beatrix Manggo mencoba menggali objek-objek lain yang memiliki cerita dalam kehidupan masyarakat Papua, salah satunya adalah kuskus.
Baginya, kuskus bukan sekadar hewan yang hidup di hutan Papua. Hewan tersebut memiliki keterkaitan dengan kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat di wilayah pegunungan.
Cerita dan pengalaman masyarakat mengenai kuskus kemudian diterjemahkan ke dalam motif batik.
“Hal-hal yang menurut orang tidak penting saya tampilkan menjadi satu ikon atau gambar ciri khas yang bisa mengangkat gambar tersebut menjadi salah satu produk di dalam batik saya,” ucapnya.
Ia juga menggabungkan batik, noken, tenun dan alat musik tradisional seperti pikon dalam sejumlah karyanya. Inovasi tersebut merupakan salah satu cara agar budaya Papua tetap hidup dan dapat mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan identitasnya.

Beatrix Manggo berpandangan bahwa pelestarian budaya tidak cukup dilakukan dengan memperkenalkan budaya kepada generasi muda. Budaya juga harus diberi ruang untuk digunakan dan dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu caranya adalah memasukkan unsur budaya ke dalam pakaian, tas dan berbagai produk fesyen.
“Kalau kita bikin dalam bentuk noken, dalam bentuk baju, maka pelestarian budaya itu akan terus terjaga dan tidak hilang,” ujarnya.
Menurutnya, generasi muda Papua tidak boleh hanya menjadi penonton kebudayaan. Mereka harus diberi ruang untuk menciptakan inovasi baru.
“Anak-anak sekarang diperkenalkan. Tapi kalau mereka tidak bertindak, tidak berinovasi, maka ini akan hilang,” katanya.
Ia melihat fesyen sebagai salah satu medium efektif untuk membawa identitas Papua ke ruang publik. Ketika seseorang menggunakan tas atau pakaian yang dibuat dari noken dengan motif Papua, identitas budaya tersebut ikut diperkenalkan kepada orang lain.
Inovasi noken juga meningkatkan nilai ekonomi produk tersebut. Harga produk yang dibuat Manggo bervariasi, bergantung pada bahan, ukuran, tingkat kesulitan pengerjaan, serta desain.
Noken dengan rajutan rumit dan kombinasi bahan kulit, harganya dapat mencapai lebih dari Rp10 juta. Beberapa produknya bahkan pernah terjual sekitar Rp15 juta. Sementara produk dengan desain lebih sederhana berada di kisaran Rp3,5 juta.
Menurut Manggo, harga tersebut bukan sekadar harga sebuah tas. Di dalamnya terdapat proses pengerjaan, keterampilan perajin, bahan yang digunakan, cerita budaya, serta identitas Papua.
Karenanya, ia mendorong mama-mama Papua untuk tidak berhenti membuat noken dengan model yang sama.
Kolaborasi dapat dilakukan dengan berbagai bahan. Noken dapat dipadukan dengan batik, tenun maupun kulit untuk menghasilkan produk baru yang memiliki nilai tambah.
Namun menurutnya, tidak semua produk harus berharga mahal. Yang terpenting adalah identitas noken dan budaya Papua tetap terlihat.
Pengalaman memperkenalkan produk Papua ke luar negeri menjadi salah satu hal yang semakin meyakinkan Beatrix Manggo bahwa kriya Papua memiliki peluang besar di pasar global.
Ia pernah membawa produk noken hingga ke Belanda. Respons masyarakat di sana, menurutnya, menunjukkan bahwa produk budaya Papua memiliki daya tarik tersendiri.
Manggo mengaku terharu ketika melihat ada orang yang menangis karena bangga melihat noken Papua dibawa hingga ke luar negeri. “Orang di luar sangat bangga dengan produk kita,” katanya.
Katanya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa produk budaya tidak hanya memiliki nilai ekonomi. Produk tersebut juga membawa nilai emosional dan identitas suatu masyarakat.
Keikutsertaan Beatrix dalam FDS XV menjadi kesempatan untuk memperkenalkan karya-karyanya kepada masyarakat. Namun, ia juga melihat masih ada tantangan dalam pengembangan produk kriya lokal.
Menurutnya, stan yang tersedia dalam festival masih banyak didominasi produk kuliner dan pangan lokal. Sementara produk kriya dan kerajinan tangan masih relatif terbatas dan memiliki model yang hampir serupa.
“Kalau untuk kriya kerajinan tangan, saya lihat masih terbatas dan banyak yang biasa-biasa. Hampir semua sama model,” ujarnya.
Padahal menurutnya, festival seperti FDS seharusnya tidak hanya menjadi tempat menjual produk atau menampilkan pertunjukan budaya. Festival juga dapat menjadi ruang belajar bagi masyarakat dan generasi muda.
Ia melihat banyak anak sekolah yang datang mengunjungi stan-stan di arena festival. Kondisi tersebut dinilai merupakan peluang untuk memberikan edukasi mengenai proses produksi, kreativitas, kewirausahaan dan pengembangan budaya menjadi sumber ekonomi.
“Ini memberikan mereka salah satu edukasi baru. Bagaimana mereka bisa tahu berwirausaha ketika nanti mereka dewasa,” katanya.
Karenanya, ia berharap pemerintah dan penyelenggara event dapat menghadirkan lebih banyak produk unggulan dari berbagai daerah.
Dengan begitu, mama-mama Papua dan pelaku usaha lokal dapat melihat contoh baru dan memperoleh inspirasi untuk mengembangkan produknya.
Ada pengalaman lain yang menarik perhatian Beatrix Manggo selama mengikuti FDS XV. Sejumlah pembeli yang menunjukkan ketertarikan terhadap produknya justru berasal dari kalangan pendatang.
Menurutnya, mereka melihat kualitas sekaligus nilai budaya yang terdapat dalam produk Papua. “Yang saya heran justru orang pendatang yang menghargai budaya kita. Dari kemarin mereka justru beli karena mungkin mereka tahu bahwa ini berkualitas dan betul-betul dilestarikan.”
Pengalaman itu kata Manggo, menjadi refleksi baginya bahwa masyarakat Papua sendiri perlu semakin menghargai produk budaya mereka.
Menurutnya, kekayaan budaya tidak cukup hanya dibanggakan. Kekayaan tersebut harus dirawat, dikembangkan dan diberi nilai tambah agar mampu bersaing dengan produk dari daerah lain.
Ia mencontohkan batik yang dibuatnya menggunakan bahan katun premium. Kualitas bahan menjadi salah satu faktor penting agar produk Papua tidak hanya memiliki identitas, tetapi juga mampu bersaing di pasar.
Beatrix Manggo berharap pemerintah tidak hanya memberikan ruang bagi pelaku usaha lokal melalui festival atau pameran.
Katanya, pemerintah perlu memberikan dukungan yang berkelanjutan melalui pelatihan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pendampingan desain dan pemasaran, hingga akses permodalan.
“Pertama-tama memberikan banyak pelatihan kepada pengrajin lokal dalam hal pengembangan sumber daya manusia,” katanya.
Setelah keterampilan meningkat, pemerintah juga dinilai perlu membantu membuka akses pasar dan permodalan sehingga produk masyarakat Papua dapat berkembang dari pasar lokal menuju pasar nasional dan internasional.
Manggo menilai pemberdayaan ekonomi sebaiknya dimulai dari masyarakat di lapisan bawah, terutama mama-mama Papua yang menggantungkan pendapatan dari kerajinan dan perdagangan kecil.
“Kalau mau bilang Papua sejahtera, kita mulai dari mama-mama, kita mulai dari pengusaha-pengusaha lokal, kita mulai dari masyarakat kalangan bawah,” ujarnya.
Bagi Beatrix Manggo, pemberdayaan mama-mama Papua bukan hanya persoalan meningkatkan pendapatan keluarga. Di tangan mereka terdapat pengetahuan tradisional, keterampilan merajut, menenun dan mengolah bahan yang menjadi bagian dari identitas budaya Papua.
Ketika keterampilan tersebut mampu menghasilkan pendapatan, maka yang tumbuh bukan hanya ekonomi keluarga, tetapi juga keberlanjutan budaya.
Bagi Beatrix, Ticia bukan sekadar nama merek. Filosofi diam dan tenang yang melatarbelakangi nama tersebut menjadi bagian dari proses kreatifnya dalam melihat kembali kekayaan Papua.
Ia ingin produk-produk yang dihasilkan tidak berhenti sebagai kerajinan tradisional, tetapi berkembang menjadi karya yang memiliki nilai ekonomi sekaligus membawa cerita Papua ke berbagai tempat.
Ia mengatakan, pengalaman membawa noken ke Korea Selatan dan Belanda membuatnya percaya bahwa produk Papua memiliki peluang menembus pasar dunia.
Namun, ia menyadari peluang tersebut membutuhkan kerja bersama antara perajin, pelaku usaha, masyarakat dan pemerintah.
FDS menurutnya, dapat menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan pelestarian budaya, inovasi dan peningkatan ekonomi masyarakat.
Sebab, ketika festival selesai dan panggung pertunjukan dibongkar, cerita tentang Papua masih dapat terus berjalan melalui noken, batik, tenun dan berbagai produk kriya yang dibawa pulang oleh pengunjung.
Dengan cara itu, budaya Papua dinilai tidak hanya dipertontonkan, tetapi ikut bergerak, digunakan, berkembang dan dikenal lebih luas hingga ke pasar dunia.
Keunikan produk Beatrix Manggo juga menarik perhatian pengunjung FDS XV. Salah satunya Magdalifa Siombing, yang mengunjungi stan penjualan noken dan batik tersebut.
Magdalifa mengatakan, produk yang dipamerkan memiliki berbagai variasi karena noken dan batik dimodifikasi dengan cara berbeda. Menurutnya, perpaduan bahan noken dengan motif flora dan fauna Papua membuat produk tersebut terlihat unik.
Ia juga tertarik pada batik Papua yang menurutnya memiliki ciri khas tersendiri. “Saya sudah membeli batik karena khas Papua itu salah satunya batik Papua. Ketika dipakai, estetikanya bagus dan enak dipandang,” kata Magdalifa.
Menurutnya, keunikan produk tidak hanya terletak pada bentuknya, tetapi juga pada cerita dan unsur budaya yang terdapat di dalamnya.
Ia berharap pengunjung FDS XV tidak hanya datang untuk membeli produk, tetapi juga menyempatkan diri mengunjungi stan Beatrix untuk mendapatkan pengetahuan mengenai proses pembuatan noken.
Magdalifa menilai pengetahuan Beatrix Manggo mengenai noken dan kerajinan Papua sangat luas karena didukung pengalaman dan proses belajar yang panjang.
“Selain membeli, kita juga bisa dapat pengetahuan tentang merajut dan membuat noken,” ujarnya.
Kata Magdalifa, pengalaman tersebut menjadi nilai tambah bagi pengunjung. Mereka tidak hanya membawa pulang barang, tetapi juga memperoleh pengetahuan mengenai proses pembuatan dan makna budaya yang menyertai produk tersebut. (*)




Discussion about this post