• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Nasional & Internasional

PAPEDA Summit 2026: Akibat ekstraktivisme Tanah Papua merugi Rp450 triliun

September 4, 2026
in Nasional & Internasional
Reading Time: 3 mins read
0
Penulis: Gamaliel M Kaliele - Editor: Arjuna Pademme
PAPEDA Summit

Suasana diskusi PAPEDA Summit Parallel 5: Pembiayaan dan Ekonomi Masa Depan, Pembangunan Pembiayaan Iklim, Ekonomi Restoratif, dan Kemitraan Global, di Vega Hotel, Kota Sorong, Papua Barat Daya, Jumat (04/09/2026) - Jubi/Gamaliel M Kaliele

0
SHARES
179
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Sorong, Jubi – Peneliti Center of Economic and Law Studies (Celios), Jaya Darmawan mengungkapkan, kerugian ekonomi akibat praktik ekstraktivisme di Tanah Papua mencapai Rp450 triliun setiap tahun, apabila biaya ekologis dan sosial yang selama ini tidak tercatat dalam perhitungan ekonomi ikut dimasukkan.

Katanya, kerugian ini merupakan dampak pengerukan sumber daya alam di Tanah Papua melalui pertambangan dan pembukaan lahan untuk menghasilkan penerimaan negara serta mendorong angka ekonomi daerah.

Namun di sisi lain, masyarakat Papua harus berhadapan dengan kerusakan hutan, hilangnya sumber pangan, rusaknya ekosistem air, hingga beban sosial dan kesehatan yang nilainya jauh lebih besar.

Pernyataan itu disampaikan Jaya Darmawan dalam diskusi Parallel 5: Pembiayaan dan Ekonomi Masa Depan, Pembangunan Pembiayaan Iklim, Ekonomi Restoratif, dan Kemitraan Global, PAPEDA Summit 2026 di Vega hotel, Kota Sorong, Papua Barat Daya, Jumat (4/9/2026).

Jaya Darmawan mengatakan, selama ini kita hanya melihat ekonomi dari berapa banyak yang diproduksi, berapa besar investasi masuk, berapa besar penerimaan negara, dan berapa besar pertumbuhan ekonomi.

Akan tetapi, tidak menghitung secara serius berapa biaya yang harus dibayar masyarakat ketika hutan hilang, air rusak, pangan lokal berkurang, dan kesehatan masyarakat terdampak.

Menurutnya, masalah utama di Tanah Papua adalah model investasi dan pembangunan yang selama ini bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam. Sementara biaya kerusakannya justru ditinggalkan kepada masyarakat dan generasi berikutnya.

BERITATERKAIT

Komnas HAM dan DPD RI bahas situasi HAM di Tanah Papua

PAPEDA Summit 2026: Pembangunan dan investasi mengabaikan masyarakat adat Papua

PAPEDA Summit 2026: Masalah pembangunan Tanah Papua adalah kebijakan

PAPEDA Summit 2026: Tanah Papua memiliki posisi strategis pengembangan ekonomi biru

“Kalau [pohon di] hutan ditebang, aktivitas ekonominya masuk dalam perhitungan sebagai pertumbuhan. Tetapi ketika masyarakat kehilangan sumber pangan, kehilangan tempat berburu, kehilangan obat-obatan alami, kehilangan kualitas air, itu sering kali tidak dihitung sebagai kerugian ekonomi,” kata Jaya Darmawan.

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

Jaya menyebut sekira 84–86 persen wilayah Tanah Papua masih berupa kawasan hutan. Namun, dalam satu dekade terakhir, hampir satu juta hektare tutupan hutan telah hilang akibat berbagai aktivitas pembangunan dan pemanfaatan lahan.

Katanya, yang dipertanyakan adalah apabila Tanah Papua kehilangan hutannya, siapa yang mendapatkan keuntungan dan siapa yang menanggung kerugiannya.

“Jangan sampai angka pertumbuhan ekonomi terlihat tinggi, tetapi masyarakat adat justru kehilangan ruang hidupnya,” ucapnya.

Menurut Jaya, Celios mencatat sektor pertambangan menyumbang lebih dari 18 persen terhadap PDRB Papua. PT Freeport Indonesia disebut memberikan setoran sekitar Rp75 triliun kepada negara.

Namun kata Jaya, besarnya nilai ekonomi tersebut belum otomatis menjamin masyarakat lokal menjadi penerima manfaat terbesar.

“Pertanyaannya adalah berapa yang benar-benar tinggal di Papua, berapa yang diterima masyarakat adat, dan berapa besar biaya sosial serta ekologis yang harus ditanggung masyarakat Papua,” ujarnya.

Karenanya lanjut Jaya Darmawan, apabila sebuah sektor menghasilkan triliunan rupiah tetapi kemiskinan tetap tinggi, dan masyarakat di sekitar wilayah eksploitasi masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, model ekonominya harus dievaluasi.

Ia mengatakan, potensi kerugian tersebut semakin besar apabila pembukaan lahan dalam skala luas terus berlangsung. Rencana alih fungsi sekitar dua juta hektare lahan di Papua Selatan, diperkirakan berpotensi menimbulkan kerugian emisi karbon mendekati Rp50 triliun.

“Kalau kita terus membuka hutan dengan alasan pembangunan, kita sebenarnya sedang mengambil nilai ekonomi dari masa depan untuk membiayai ekonomi hari ini,” kata Jaya.

Celios pun mendorong pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap model pembangunan di Tanah Papua.

Salah satu langkah yang dinilai mendesak adalah moratorium terhadap perizinan pertambangan dan kegiatan alih fungsi lahan pada kawasan yang memiliki nilai ekologis dan sosial tinggi.

Sementara itu Managing Director World Resources Institute (WRI) Indonesia, Arief Wijaya dalam forum yang sama mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak otomatis berarti kesejahteraan masyarakat.

WRI melalui system dynamics periode 2010–2050, memproyeksikan pendapatan daerah Papua Barat Daya dapat meningkat hampir empat kali lipat, dari sekitar Rp824 miliar menjadi Rp2,65 triliun pada 2050.

Namun menurutnya, peningkatan pendapatan tersebut masih dibayangi ketergantungan tinggi terhadap sektor berbasis lahan.

“Kita harus melihat siapa yang menikmati pertumbuhan itu, siapa yang memperoleh pekerjaan, siapa yang memperoleh pendapatan, dan bagaimana dampaknya terhadap lingkungan serta masyarakat adat, kata Arief Wijaya.

WRI memproyeksikan tingkat kemiskinan Papua Barat Daya dapat turun hingga sekitar 14 persen pada 2050. Namun jumlah absolut penduduk miskin diperkirakan mencapai lebih dari 130.000 orang.

Angka tersebut dinilai menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan kesejahteraan. Namun harus memastikan pertumbuhan tersebut inklusif.

WRI juga mengingatkan ekspansi pembangunan berbasis lahan dan konektivitas jalan dapat membawa konsekuensi ekologis apabila tidak dikendalikan.

“Berkurangnya hutan primer dan keanekaragaman hayati berarti berkurangnya sumber pangan, obat-obatan serta sumber penghidupan masyarakat adat,” ujarnya.

Katanya, bagi masyarakat adat, hutan bukan hanya aset ekonomi, melainkan bagian dari sistem kehidupan. Karena itu kerusakan habitat pada akhirnya merupakan ancaman terhadap ketahanan pangan dan kehidupan masyarakat. (*)

Tags: EkstraktivismeMerugiPAPEDA SummitTanah Papua
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Masalah HAM Papua

Komnas HAM dan DPD RI bahas situasi HAM di Tanah Papua

September 5, 2026
PAPEDA Summit

PAPEDA Summit 2026: Pembangunan dan investasi mengabaikan masyarakat adat Papua

September 4, 2026

PAPEDA Summit 2026: Masalah pembangunan Tanah Papua adalah kebijakan

September 4, 2026

PAPEDA Summit 2026: Tanah Papua memiliki posisi strategis pengembangan ekonomi biru

September 4, 2026

PAPEDA Summit 2026: Kepentingan ekstraktif dan konservasi di Tanah Papua

September 3, 2026

PAPEDA Summit 2026: Kepemimpinan masyarakat adat fondasi pembangunan Tanah Papua

September 3, 2026

Discussion about this post

Survey Pembaca
Reader's Survey

English Story

TPNPB Yahukimo command declares national mourning after four members killed
4 September 2026
TPNPB Yahukimo command declares national mourning after four members killed

Jayapura, Jubi — The West Papua National Liberation Army (TPNPB) Regional Defence Command (Kodap) XVI Yahukimo has declared a period [...]

Baros villagers in Sorong Regency struggle to access clean water
4 September 2026
Baros villagers in Sorong Regency struggle to access clean water

Sorong, Jubi — Residents of Baros village in Klasafet District, Sorong Regency, Southwest Papua Province, are struggling to access clean [...]

Dozens protest against PAPEDA Summit 2026 in Sorong
3 September 2026
Dozens protest against PAPEDA Summit 2026 in Sorong

Sorong, Jubi — At least 15 people staged a peaceful protest at a hotel in Sorong, Southwest Papua Province, where [...]

Harhubnas 2026: South Papua Transport Agency steps up transport safety campaign
3 September 2026
Harhubnas 2026: South Papua Transport Agency steps up transport safety campaign

Merauke, Jubi — The South Papua Provincial Transportation Agency is highlighting the importance of transport safety as part of National [...]

Developer absent from hearing in subsidised housing class action in Manokwari
2 September 2026
Developer absent from hearing in subsidised housing class action in Manokwari

Manokwari, Jubi — PT Trikora Bangun Papua, the developer of Green Valley Residence, a subsidised housing complex on Jalan Lembah [...]

  • Latest
  • Trending
  • Comments
Masalah HAM Papua

Komnas HAM dan DPD RI bahas situasi HAM di Tanah Papua

September 5, 2026
Gubernur Papua Tengah

Kunker Gubernur Nawipa ke Dogiyai dan Deiyai untuk memastikan realisasi program

September 4, 2026
PASI Papua Tengah

PASI Papua Tengah gelar rapat pleno pertama

September 4, 2026
ASN Deiyai

Pejabat asal Deiyai mantapkan penyambutan kunker Gubernur Papua Tengah

September 4, 2026
PAPEDA Summit

PAPEDA Summit 2026: Pembangunan dan investasi mengabaikan masyarakat adat Papua

September 4, 2026
Pelapor Khusus PBB untuk Hak Masyarakat Adat ketika berbicara dihadapan masyarakat adat Papua pada bulan Juli 2025 lalu - Jubi/Victor Mambor

MSG desak Indonesia ijinkan Komisaris Tinggi untuk HAM PBB kunjungi Papua

September 4, 2026
PAPEDA Summit

PAPEDA Summit 2026: Akibat ekstraktivisme Tanah Papua merugi Rp450 triliun

September 4, 2026
Komisaris Tinggi PBB

Indonesia didesak fasilitasi kunjungi Komisaris Tinggi PBB ke Papua Barat

September 3, 2026
PIF mengecam nuklir China

PIF diakhiri dengan mengecam uji coba nuklir China

September 4, 2026
Pelapor Khusus PBB untuk Hak Masyarakat Adat ketika berbicara dihadapan masyarakat adat Papua pada bulan Juli 2025 lalu - Jubi/Victor Mambor

MSG desak Indonesia ijinkan Komisaris Tinggi untuk HAM PBB kunjungi Papua

September 4, 2026
Petani Kakao

Pengering tenaga surya membantu petani kakao di PNG kurangi biaya

September 3, 2026
PAPEDA Summit

PAPEDA Summit 2026: Akibat ekstraktivisme Tanah Papua merugi Rp450 triliun

September 4, 2026
Bom

Kantor pusat Komite Nasional Papua Barat diteror bom

March 17, 2026
Festival

Rayakan budaya, Festival Pasifika Auckland tarik 25 ribu pengunjung

March 17, 2026
Masalah HAM Papua

Komnas HAM dan DPD RI bahas situasi HAM di Tanah Papua

0
Gubernur Papua Tengah

Kunker Gubernur Nawipa ke Dogiyai dan Deiyai untuk memastikan realisasi program

0
PASI Papua Tengah

PASI Papua Tengah gelar rapat pleno pertama

0
ASN Deiyai

Pejabat asal Deiyai mantapkan penyambutan kunker Gubernur Papua Tengah

0
PAPEDA Summit

PAPEDA Summit 2026: Pembangunan dan investasi mengabaikan masyarakat adat Papua

0
Pelapor Khusus PBB untuk Hak Masyarakat Adat ketika berbicara dihadapan masyarakat adat Papua pada bulan Juli 2025 lalu - Jubi/Victor Mambor

MSG desak Indonesia ijinkan Komisaris Tinggi untuk HAM PBB kunjungi Papua

0
PAPEDA Summit

PAPEDA Summit 2026: Akibat ekstraktivisme Tanah Papua merugi Rp450 triliun

0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara