Jayapura, Jubi – Saat para pemimpin keuangan global membahas masa depan keuangan inklusif di APEC Haus Port Moresby, Papua Nugini (PNG) pada Kamis (3/9/2026), pemilik usaha kecil, Fiona Simango menyampaikan pesan yang lebih sederhana, agar mama-mama Papua Nugini dipermudah mencari nafkah.
Simango, pemilik Ann’s Boutique, termasuk di antara beberapa pelaku usaha kecil yang diundang untuk memamerkan produk buatan Papua Nugini selama hari pembukaan Forum Kebijakan Global Aliansi untuk Inklusi Keuangan (AFI) 2026.
Dengan memamerkan pakaian buatan tangan, seni dan kerajinan tradisional, lukisan, dan produk lokal lainnya, Simango mengatakan banyak pengusaha perempuan terus menghadapi tantangan meskipun percakapan tentang inklusi keuangan semakin meningkat.
“Usaha kecil dan menengah saya sekarang sudah berusia tiga tahun. Kami datang ke sini melalui promosi Sylvia Pascoe. Kami biasanya berjualan di Pasar Pom City setiap akhir pekan. Kami adalah pedagang pasar kerajinan, dan hanya beberapa dari kami yang terpilih untuk mewakili banyak mama lain yang juga mengoperasikan kios,” katanya dikutip Jubi dari laman tvwan.com.pg Sabtu (5/9/2026)
Simango mengatakan, pengusaha perempuan membutuhkan lebih dari sekadar kesempatan untuk memamerkan produk mereka di acara-acara besar.
Mereka membutuhkan dukungan praktis yang membantu mereka mengembangkan bisnis yang berkelanjutan.
Ia meminta oemerintah untuk mempertimbangkan subsidi biaya pasar dan berinvestasi dalam fasilitas pasar yang lebih besar, lebih aman, dan lebih lengkap untuk para pedagang perempuan.
“Kami bisa pergi ke pasar dan membayar biaya lapak seperti biasa, tetapi akan lebih baik jika Pemerintah mensubsidi biaya tersebut atau menyediakan pasar yang lebih besar di mana para mama dapat memajang produk mereka di tempat yang aman, berventilasi, dan luas,” ucapnya.
“Ini PNG, dan kami memiliki banyak produk bagus untuk dijual, tetapi kami hanya membawa sedikit karena tidak ada cukup ruang dan tidak ada fasilitas yang memadai bagi pembeli, wisatawan, dan keluarga untuk bergerak dengan nyaman.”
Simango mengatakan banyak pedagang melakukan perjalanan ke provinsi terpencil, termasuk Sepik Timur dan Barat, untuk membeli artefak dan kerajinan tradisional sebelum mengangkutnya ke Port Moresby untuk dijual.
“Biaya perjalanan, pengadaan produk, dan pembayaran biaya pasar dapat mengurangi keuntungan secara signifikan,” ujarnya.
“Kami mengeluarkan uang untuk bepergian ke tempat-tempat terpencil untuk membeli produk dan membawanya kembali ke kota. Kami menginginkan subsidi biaya dan pasar yang lebih besar dan aman sehingga kami dapat menghasilkan cukup uang untuk menghidupi anak-anak dan keluarga kami,” katanya.
Kekhawatiran yang disampaikannya menggemakan tema-tema yang sebelumnya diangkat oleh Wakil Perdana Menteri John Rosso selama pembukaan resmi forum tersebut.
Rosso mengatakan kepada para delegasi bahwa inklusi keuangan harus memberikan kesempatan nyata kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam perekonomian, khususnya perempuan dan pengusaha muda.
“Ini berarti memastikan bahwa perempuan yang selalu memberikan kontribusi besar pada ekonomi informal memiliki kesempatan untuk membangun aset dan bisnis mereka sendiri,” katanya.
Ia juga mendesak para pembuat kebijakan untuk fokus pada hasil praktis yang meningkatkan kehidupan masyarakat.
“Mari kita permudah masyarakat kita untuk membuka rekening bank dari daerah terpencil. Mari kita permudah perempuan untuk memulai usaha,” ujar Rosso.
Seiring berlanjutnya diskusi di antara bank sentral, regulator keuangan, dan mitra pembangunan dari seluruh dunia, Simango berharap percakapan tersebut pada akhirnya akan menghasilkan dukungan nyata bagi ribuan perempuan Papua Nugini yang bergantung pada usaha kecil untuk menghidupi keluarga mereka. (*)




Discussion about this post