Sentani, Jubi – Mahasiswa Universitas Cenderawasih atau Uncen Jayapura, penerima beasiswa Bakti BCA memberikan pendampingan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM penjahit di Kota Jayapura, Papua.
Bentuk pendampingannya adalah dengan mengolah limbah kain perca menjadi produk bernilai ekonomi.
Ketua Tim Focus Bakti Movement Champion, Yoga Albuqorih mengatakan program itu berawal dari hasil survei mahasiswa terhadap sejumlah UMKM di Kota Jayapura.
Dari hasil observasi itu, tim memilih mendampingi usaha penjahit Arumi di kawasan Bucen II Entrop, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura.
“Dari berbagai UMKM yang kami survei, kami akhirnya memilih mendampingi usaha penjahit Arumi di Bucen II, Entrop. Setelah melakukan wawancara, kami menemukan beberapa kendala, terutama pencatatan keuangan yang belum tertata dengan baik dan banyaknya limbah kain perca yang selama ini hanya dibuang,” kata Yoga Albuqorih, Sabtu (20/6/2026).
Ia mengatakan, mahasiswa kemudian mencari solusi agar limbah kain perca dapat dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
Mereka menggandeng siswa SMK Negeri 5 Jayapura yang memiliki keterampilan menjahit, guna mengolah sisa kain menjadi berbagai produk kerajinan.
Selain pembinaan produksi, mahasiswa menjalin kerja sama dengan Papua Youth Creative Hub untuk mendukung pemasaran hasil olahan kain perca, agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
“Sebelum pelatihan berlangsung, kami telah melakukan sejumlah kegiatan pendampingan terhadap UMKM sasaran. Mulai dari pembersihan dan penataan ruang kerja hingga pembenahan fasilitas usaha melalui pemasangan spanduk, rak, dan sarana pendukung lainnya,” ucapnya.
Pendampingan itu diharapkan dapat direplikasi oleh pelaku usaha penjahit lainnya di Kota Jayapura, sehingga limbah kain perca yang selama ini terbuang dapat diolah menjadi produk kreatif yang ramah lingkungan.
Katanya, program tersebut kemudian diperluas lewat pelatihan keterampilan bagi anak-anak Panti Asuhan Sayap Kasih di Kampung Harapan, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua yang merupakan puncak rangkaian pendampingan terhadap UMKM penjahit lokal.
Menurutnya, panti asuhan dipilih sebagai sasaran pelatihan untuk memberikan keterampilan tambahan kepada anak-anak sejak dini, sekaligus memperkenalkan konsep pemanfaatan limbah menjadi produk yang bernilai jual.
Anak-anak panti asihan diharap tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru, juga memiliki keterampilan yang dapat terus dikembangkan.
“Jika nanti mereka menghasilkan produk yang layak jual, kami akan membantu menyalurkannya melalui Papua Youth Creative Hub dan hasil penjualannya akan kembali kepada panti asuhan,” ujarnya.
Pimpinan Panti Asuhan Sayap Kasih, Pdt. Syulla M Tokoro menyambut baik pelatihan dari mahasiswa Uncen itu.
“Saya melihat anak-anak sangat senang. Kegiatan ini menambah pengetahuan mereka dan sangat bermanfaat karena memberikan keterampilan baru yang bisa dikembangkan ke depan,” kata Pdt. Syulla M Tokoro.
Tokoro mengatakan, panti asuhan yang dipimpinnya kini menampung 30 anak asuh. Mereka berasal dari berbagai wilayah di Papua, termasuk daerah terpencil dan wilayah yang terdampak konflik.
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi pihaknya adalah biaya pendidikan, terutama saat tahun ajaran baru ketika banyak anak harus membayar biaya pendaftaran sekolah secara bersamaan.
“Kalau ada beberapa anak masuk sekolah secara bersamaan, biaya pendaftarannya cukup besar dan itu menjadi tantangan bagi kami,” ujarnya.
Selain biaya pendidikan dasar dan menengah, panti juga menghadapi keterbatasan dalam membantu anak-anak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Kami berharap ada lebih banyak perhatian dari berbagai pihak agar anak-anak ini memiliki kesempatan yang sama untuk melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi,” ucapnya.
Pelatihan di Panti Asuhan Sayap Kasih melibatkan guru SMK Negeri 5 Seni dan Industri Kreatif Jayapura, Perak Irawati Munte.
Ia memperkenalkan dasar-dasar menjahit, penggunaan alat jahit, serta cara mengolah kain perca menjadi produk sederhana seperti ikat rambut.
Perak Irawati Munte mengatakan, pelatihan itu merupakan bagian dari pengabdian masyarakat yang dilakukan mahasiswa penerima Beasiswa Bakti BCA.
Menurutnya, keterampilan menjahit dapat menjadi bekal bagi anak-anak panti untuk mengembangkan kreativitas sekaligus membuka peluang ekonomi.
“Kami memperkenalkan alat-alat jahit dan dasar-dasar keterampilan menjahit kepada anak-anak. Kami juga mengajarkan membuat ikat rambut dari kain perca yang sederhana sehingga bisa menghasilkan produk dalam waktu singkat,” ujar Munte.
Katanya, sebagian besar peserta baru pertama kali mengenal mesin jahit. Namun, antusiasme mereka cukup tinggi dan mampu memahami teknik dasar menjahit dalam waktu relatif singkat.
“Anak-anak sangat bersemangat karena ini pengalaman baru bagi mereka. Bahkan ada yang langsung mencoba menggunakan mesin jahit portable dan mampu menghasilkan karya sederhana hanya dalam dua hingga tiga jam pelatihan,” katanya.
Perak berharap, keterampilan yang diperoleh anak-anak dapat terus dikembangkan melalui pelatihan lanjutan.
Ia pun mengajak pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat untuk memberikan dukungan berupa peralatan maupun pendampingan berkelanjutan.
“Harapan kami ada dukungan berupa mesin jahit dan pelatihan yang lebih mendalam agar mereka bisa belajar menjahit pakaian secara mandiri,” ucapnya.
Anggota DPR Papua, Wagus Hidayat, yang turut hadir dalam kegiatan itu, mengapresiasi inisiatif mahasiswa penerima Beasiswa Bakti BCA, yang dinilai berhasil menghadirkan kegiatan edukatif dan produktif bagi anak-anak panti asuhan.
“Saya memberikan apresiasi dan salut kepada adik-adik mahasiswa Uncen penerima Beasiswa Bakti BCA yang telah mengadakan kegiatan pemanfaatan kain perca menjadi produk kreatif bernilai ekonomi,” kata Wagus Hidayat.
Menurut Wagus, kegiatan serupa perlu diperluas agar menjangkau kelompok masyarakat lainnya, seperti pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pondok pesantren, maupun komunitas masyarakat.
Salah seorang penghuni panti asuhan, Yaso Siu mengaku senang mengikuti pelatihan tersebut. Siswa kelas VII SMP Negeri 6 Jayapura itu mengatakan, dirinya baru pertama kali belajar menjahit.
“Saya senang karena baru pertama kali belajar menjahit. Tadi saya sudah mencoba dan menurut saya cukup mudah,” kata Yaso Siu.
Pelatihan ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat mahasiswa penerima Beasiswa Bakti BCA Uncen, bertujuan meningkatkan keterampilan praktis, kreativitas, dan kemandirian ekonomi anak-anak panti asuhan sejak usia dini. (*)
























Discussion about this post