Jayapura, Jubi – Puluhan anak muda Papua yang tergabung dalam Generasi (Gen) Z Papua melakukan pawai salib merah. Mereka menyatakan menolak Proyek Strategis Nasional atau PSN di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan dan sejumlah isu di Tanah Papua. Aksi ini berlangsung di Kota Jayapura, Papua, Minggu (21/6/2026).
Peserta aksi berkumpul di Jembatan Merah sekira pukul 16.00 Waktu Papua (WP). Rute yang dilalui mulai dari Jembatan Merah, Tasangkapura, Polimak, Taman Imbi, Dok II sampai di Dok V Distri Jayapura Utara sebagai titik terakhir.
Mereka membawa sejumlah poster tulisan tangan tentang isu Papua dan membawa sekitar 35 salib merah.
Poster yang dibawa peserta aksi, di antaranya bertuliskan “Gen Z Papua, Tolak PSN Merauke, Papua Bukan Tanah Kosong.”
“Papua Darurat Militer, Papua Dalam Ancaman Genosida, Tolak Bandar Antariksa di Biak, Save Biak, Tolak PSN, Save Mama Yasinta Moywend, Save Dandy Laksono, Papua Bukan Tanah Kosong”.
Perwakilan Gen Z Papua, Aldy Hukubun mengatakan pihaknya dihentikan aparat Kepolisian Sektor atau Polsek Jayapura Utara untuk tidak melanjutkan aksi pawai di lampu merah Dok II.
“Pihak Kepolisian mengadang dengan alasan ini hari Minggu, dilarang melakukan aksi dan aksi tidak memiliki izin. Aksi pawai yang kami lakukan ini tidak mengundang [banyak] massa. [Peserta aksi] tidak lebih dari 60 orang,” kata Aldy.
“Kita merasa aneh dan bingung karena pawai piala dunia sampai ratusan masa saja dikawal, baru pawai menyuarakan hak hak orang Papua, kemanusiaan dan kepedulian Tanah Papua dihadang.”
Menurut Aldy Hukubun, lebih berguna melakukan aksi pawai menyuarakan isu kemanusiaan, isu masyarakat adat, isu lingkungan, isu PSN di Merauke, isu pembabatan hutan dan berbagai isu lain di Tanah Papua, ketimbang euforia pawai piala dunia sampai ada yang kehilangan nyawa percuma.
“Harapannya di tengah euforia piala dunia isu Papua tidak hilang. Jangan kita hilang kesadaran karena Papua punya luka yang cukup dalam, yang harus disuarakan dan diangkat ke publik terkait PSN di Merauke yang menghilangkan habitat hewan endemik, masyarakat adat, penolakan bandara Antariksa Biak dan darurat militer di Papua,” ujarnya.
Aldy Hukubun menjelaskan bahwa pihaknya melakulan pawai salib merah sebagai simbol penolakan, bukan lambang pemberotakan terhadap situasi di Tanah Papua.
Gen Z Papua hanya mau menyampaikan kepada publik bahwa Tanah Papua tidak sedang baik-baik saja.
Sementara itu Gen Z Papua lainnya, Brush Wadi mengatakan pawai salib merah adalah bentuk kesadaran kolektif.
Pihaknya merasakan apa yang dirasakan masyarakat adat di Merauke, Provinsi Papua Selatan, yang terdampak PSN, kehilangan hak-hak atas tanah adat, menjadi korban perampasan lahan, dan perampasan ruang hidup.
“Jangan kita santai karena apa yang terjadi di Tanah Papua kini, situasinya serius dan mengencam manusia Papua. Pawai ini hanya mau mengingatkan kepada publik bahwa jangan lupa [masalah Papua] karena deman piala dunia,” kata Brush Wadi.
Katanya, pengadangan oleh Kepolisian itu sempat memanas karena Kepolisian sempat rebut beberapa alat poster atau spanduk kain yang dibawa.
“Polisi tadi rebut perlengkapan pawai berupa kain yang bertuliskan Papua darurat militer, dan tolak PSN Merauke. Tadi memanas, tapi kita ambil kembali baru pulang. Tujuan akhir di depan Kantor Gubernur Papua, tapi karena diadang [polisi] jadi kita putuskan pulang saja,” ujarnya. (*)























Discussion about this post