• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Mamta

Sagu bagian penting dari identitas budaya Papua yang mesti dilindungi

June 20, 2026
in Mamta
Reading Time: 5 mins read
0
Penulis: Aida Ulim - Editor: Arjuna Pademme
Seminar sagu

Suasana Diskusi panel terkait filosofi sagu bagi masyarakat Papua, di gedung Center For Science and Partnership Building Universitas Cenderawasih, Kota Jayapura, Papua Sabtu (20/06/2026).-Jubi/Aida Ulim

0
SHARES
183
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jayapura, Jubi – Guru besar Ilmu Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Cenderawasih, Prof. Dr. Drs. Akhmad Kadir, M.Hum menegaskan, sagu bukan sekadar sumber pangan masyarakat Papua, melainkan bagian penting dari identitas budaya yang harus dilindungi dan dilestarikan.

Hal itu disampaikannya saat menjadi pembicara dalam seminar nasional sagu Papua di gedung Center For Science and Partnership Building Universitas Cenderawasih, Kota Jayapura, Papua, Sabtu (20/06/2026).

Dalam pemaparannya Akhmad Kadir menjelaskan bahwa pandangannya mengenai sagu didasarkan pada hasil penelitian lapangan, mengenai ketahanan pangan dan kearifan lokal masyarakat Papua.

Menurutnya, sagu tidak dapat dibatasi wilayah administratif karena merupakan identitas seluruh orang Papua, mulai dari wilayah pesisir hingga pegunungan.

“Ketika kita bicara sagu, kita tidak bicara Papua Selatan, Papua Barat, atau wilayah administratif lainnya. Sagu adalah identitas orang Papua,” kata Akhmad Kadir.

Ia mengatakan Papua merupakan pusat keragaman sagu. Hamparan hutan sagu yang luas dan memiliki nilai penting dari sisi pangan, ekonomi, sosial, budaya, hingga ekologi.

Selain menjadi sumber karbohidrat utama, hampir seluruh bagian pohon sagu dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup masyarakat.

BERITATERKAIT

Imigrasi hadirkan “Beranda Imigrasi” permudah layanan paspor di Papua

Gapki: Enam perusahaan perkebunan kelapa sawit beroperasi di Papua

Sekolah Budaya untuk menyelamatkan bahasa Tepera

Kebakaran dusun sagu di Kimaam ancam pangan masyarakat adat

Namun mengingatkan bahwa keberadaan hutan sagu kini menghadapi berbagai ancaman, terutama akibat alih fungsi lahan untuk pembangunan dan perkebunan.

Katanya, berdasarkan hasil penelitiannya di Merauke, Papua Selatan sejumlah kawasan hutan sagu di sana yang sebelumnya membentang luas, kini semakin menyusut.

Menurutnya, hilangnya hutan sagu tidak hanya berdampak pada berkurangnya sumber pangan masyarakat, juga mengancam hak-hak komunal masyarakat adat, pengetahuan lokal, dan identitas budaya yang selama ini diwariskan turun-temurun.

“Hilangnya sagu bukan hanya hilangnya makanan, tetapi juga hilangnya identitas, pengetahuan lokal, dan sejarah masyarakat Papua,” ucapnya.

Dalam penelitiannya kata Akhmad Kadir, ia juga menemukan berbagai jenis sagu di wilayah selatan Papua, baik yang berduri maupun yang tidak berduri.

Keragaman tersebut hidup berdampingan dengan pengetahuan tradisional masyarakat dalam mengenali, mengelola, dan memanfaatkan sagu.

“Pengetahuan lokal ini merupakan warisan budaya yang sangat berharga. Karena itu, ketika hutan sagu hilang, maka pengetahuan yang menyertainya juga akan ikut tergerus,” ujarnya.

Selain sebagai sumber pangan lanjut Akhmad, sagu juga memiliki posisi penting dalam kehidupan adat masyarakat Papua.

Pada sejumlah komunitas adat, khususnya masyarakat Marind, sagu memiliki hubungan erat dengan identitas marga dan wajib hadir dalam berbagai kegiatan adat seperti penyelesaian konflik, penerimaan tamu, pesta adat, hingga prosesi kematian.

“Sagu bukan sekadar makanan. Sagu adalah kehidupan dan bagian dari sistem nilai yang hidup dalam masyarakat adat.”

Akhmad Kadir pun menyoroti perubahan pola konsumsi masyarakat yang semakin bergeser dari pangan lokal menuju pangan instan dan beras.

Menurutnya, generasi muda Papua kini semakin jauh dari budaya mengkonsumsi sagu, sementara alih fungsi lahan terus mengancam keberadaan hutan sagu.

Jika kondisi tersebut terus dibiarkan, maka Papua berpotensi kehilangan salah satu fondasi penting kebudayaannya. Padahal membiarkan hutan sagu punah, sama saja menghapus satu babak penting dalam sejarah kebudayaan orang Papua.

Karena itu, seluruh pihak mulai dari pemerintah, akademisi, masyarakat adat, hingga pemangku kepentingan perlu bersama-sama menjaga dan melestarikan sagu sebagai bagian dari ketahanan pangan dan identitas budaya Papua.

Ia menegaskan, melindungi sagu berarti menjaga pangan, ekosistem, pengetahuan lokal, identitas budaya, serta masa depan masyarakat Papua. Karena sagu adalah kehidupan, sagu adalah kebudayaan, dan sagu adalah masa depan Papua.

Sementara itu, Abner Krey yang merupakan antropolog Universitas Cenderawasih mengatakan pergeseran pola konsumsi masyarakat Papua dari pangan lokal menuju beras menjadi salah satu alasan utama diselenggarakannya Seminar Sagu yang berlangsung dalam rangka Festival Colo Sagu ke-III III Tahun 2026.

“Saat ini masyarakat Papua semakin jauh dari pola makan tradisional yang selama ini bertumpu pada sagu sebagai pangan pokok,” Abner Krey.

Menurutnya, sagu tidak hanya dipandang sebagai tanaman atau sumber makanan semata. Akan tetapi memiliki nilai filosofis dan makna mendalam bagi kehidupan masyarakat adat, dari berbagai suku dan etnis di Papua.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin mengingatkan bahwa sagu memiliki nilai budaya yang sangat penting. Selain itu, bagaimana kita bersama-sama memproteksi dan mengembangkan sagu agar tetap eksis sebagai bagian dari identitas masyarakat Papua,” ucapnya.

Ia menjelaskan, pengembangan sagu tidak hanya berkaitan dengan aspek budaya, tetapi juga ekonomi dan konservasi lingkungan.

Keterlibatan UMKM diharapkan mampu mendorong pemanfaatan sagu sebagai komoditas yang memiliki nilai ekonomi dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Dari sisi ekonomi bisa kita lihat manfaatnya, dari sisi budaya juga, begitu pula dari sisi konservasi lingkungan. Semua aspek itu saling berkaitan dalam pengembangan sagu,” ujarnya.

Ia mengatakan, keberadaan hutan sagu di Papua kini semakin terancam akibat perubahan nilai budaya dan berkurangnya perhatian terhadap lingkungan. Padahal Papua merupakan wilayah dengan hutan sagu terbesar di dunia.

Berdasarkan data yang dipaparkan dalam seminar, luas hutan sagu di Papua mengalami penurunan signifikan. Bahkan disebutkan populasinya telah berkurang hampir 50 persen dari total hutan sagu yang sebelumnya ada di Papua.

“Kondisi ini menjadi perhatian serius mengingat sagu merupakan tanaman endemik sekaligus sumber penghidupan masyarakat adat di Papua,” ucapnya.

Di sisi lain kata Krey, meski Tanah Papua memiliki sumber daya alam yang melimpah, namun sebagian wilayah Bumi Cenderawasih masih tergolong rentan terhadap akses pangan.

Katanya, indikator ketahanan pangan yang selama ini digunakan umumnya masih berorientasi pada beras. Akibatnya, potensi pangan lokal seperti sagu, umbi-umbian, dan berbagai sumber pangan tradisional lainnya belum sepenuhnya diperhitungkan.

“Sagu harus dipertahankan sebagai salah satu sumber pangan pokok masyarakat Papua. Selain sagu masih ada berbagai pangan lokal lain yang dapat menjadi pilar ketahanan pangan di Tanah Papua.”

Abner Krey juga menyoroti semakin berkurangnya akses masyarakat perkotaan terhadap sagu. Katanya, ini berbeda dengan masa lalu, kini masyarakat yang tinggal di kota lebih mudah memperoleh beras dibandingkan sagu.

Untuk mengonsumsi sagu masyarakat harus membelinya di pasar, sementara ketersediaannya masih terbatas. Di sisi lain, warung makan di perkotaan hampir seluruhnya menyediakan menu berbasis nasi.

“Sangat jarang warung makan yang menyediakan makanan lokal seperti papeda. Bahkan papeda sekarang sering dianggap makanan khusus yang hanya disajikan pada acara-acara tertentu seperti syukuran, baptisan, atau pernikahan,” katanya.

Karena itu, ia berpendapat perlu adanya upaya bersama untuk memperluas akses masyarakat terhadap pangan lokal, khususnya sagu, agar lebih mudah diperoleh dan dikonsumsi dalam kehidupan sehari-hari.

Mengenai digelarnya seminar nasional sagu Papua dengan tema “Sagu Menghidupi: Dari Tradisional Menuju Kemandirian Ekonomi 2026″, Abner Krey yang merupakan ketua panitia seminar mengatakan, ini merupakan bagian dari festival Colo sagu ke-III dalam rangka memperingati hari Sagu Nasional pada 21 Juni mendatang.

Seminar ini diharapkan menjadi ruang diskusi bersama, untuk membahas masa depan sagu sebagai identitas pangan lokal Papua, dengan menghadirkan akademisi, praktisi, pemerintah, serta masyarakat yang memiliki perhatian terhadap pelestarian dan pengembangan sagu.

Katanya, seminar ini merupakan salah satu agenda penting dalam rangkaian Festival Sagu III yang telah berjalan selama tiga tahun terakhir.

Menurutnya, sagu bukan sekadar tanaman pangan biasa, melainkan bagian dari identitas masyarakat Papua yang telah hidup berdampingan dengan masyarakat adat selama ratusan bahkan ribuan tahun.

Namun, di tengah arus globalisasi dan perubahan pola konsumsi masyarakat, keberadaan sagu mulai menghadapi berbagai tantangan.

“Kolaborasi semua pihak sangat penting karena persoalan sagu bukan hanya menjadi tanggung jawab satu kelompok saja. Akademisi, praktisi, pemerintah, dan masyarakat perlu bekerja bersama menjaga keberlanjutan sagu,” katanya

Seminar itu diharapkan menghasilkan sejumlah rekomendasi penting, mulai dari bahan masukan bagi penyusunan kebijakan, pengembangan program-program berbasis sagu, hingga penguatan komitmen bersama dalam menjaga dan melestarikan sagu sebagai warisan masyarakat Papua.

“Melalui seminar ini diharapkan dapat merumuskan langkah-langkah strategis untuk menjaga, melestarikan, sekaligus mengembangkan sagu sebagai warisan budaya dan sumber ketahanan pangan masyarakat Papua di masa depan,” kata Abner Krey.

Sementara itu, Ketua Panitia Festival Colo Sagu, Michael Jhon Yarisetouw mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari Gerakan Colos Sagu yang telah berlangsung secara konsisten sejak tahun 2023.

Menurutnya, gagasan Gerakan Colos Sagu lahir dari diskusi mengenai kondisi hutan sagu yang terus menghadapi tekanan dan ancaman kerusakan.

Dari diskusi tersebut muncul kesadaran bahwa upaya perlindungan sagu tidak cukup hanya melalui regulasi, tetapi juga membutuhkan gerakan sosial yang melibatkan masyarakat secara luas.

“Gerakan ini kami lakukan secara konsisten selama tiga tahun karena kami percaya sagu adalah identitas orang Papua. Jika sagu hilang, maka identitas orang Papua juga akan ikut hilang,” kata Michael Jhon Yarisetouw.

Katanya, seminar di lingkungan kampus menjadi bagian dari upaya mendorong keterlibatan generasi muda, khususnya mahasiswa, dalam isu pelestarian sagu.

Sebab, kampus harus menjadi ruang lahirnya gagasan dan gerakan yang mampu menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.

Ia pun menyatakan keprihatinan terhadap minimnya keterlibatan mahasiswa Papua dalam berbagai kegiatan ilmiah terkait sagu. Padahal masa depan pelestarian sagu sangat bergantung pada kesadaran dan keterlibatan generasi muda.

“Saya sebut saguisme yaitu gerakan yang mendorong penguatan kedaulatan pangan lokal sebagai fondasi ketahanan pangan daerah dan kontribusi bagi ketahanan pangan nasional,” ucapnya.

Seluruh mahasiswa dan masyarakat Papua diharapkan memulai langkah-langkah sederhana dalam menjaga apa yang telah diwariskan leluhur. Karena pelestarian sagu bukan hanya tentang menjaga sumber pangan, juga menjaga identitas, budaya, dan masa depan orang Papua.

“Kami berharap seminar ini dapat menghasilkan pemikiran dan rekomendasi yang bermanfaat bagi pengembangan serta perlindungan hutan sagu di Tanah Papua, sekaligus memperkuat kesadaran kolektif bahwa sagu merupakan warisan yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang,” ujar Michael Jhon Yarisetouw (*)

Tags: BagianBudayadilindungiIdentitasPapuapentingSagu
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

paspor

Imigrasi hadirkan “Beranda Imigrasi” permudah layanan paspor di Papua

October 30, 2026
Gapki

Gapki: Enam perusahaan perkebunan kelapa sawit beroperasi di Papua

October 30, 2026

Sekolah Budaya untuk menyelamatkan bahasa Tepera

October 27, 2026

Kebakaran dusun sagu di Kimaam ancam pangan masyarakat adat

October 26, 2026

Masyarakat sipil Papua Barat menyerukan akses untuk PBB dan Pasifik

October 22, 2026

Koalisi tagih janji Prabowo selesaikan masalah politik Papua secara damai

October 20, 2026

Discussion about this post

Survey Pembaca
Reader's Survey
Festival Kopi Papua Tengah

English Story

Jayawijaya KNPI calls for independent investigation into fatal Nduga shooting
29 October 2026
Jayawijaya KNPI calls for independent investigation into fatal Nduga shooting

Jayapura, Jubi – The Indonesian National Youth Committee (KNPI) in Jayawijaya Regency, Papua Pegunungan Province, has called for an independent [...]

Bad weather disrupts flights at Sentani Airports, 225 services cancelled
29 October 2026
Bad weather disrupts flights at Sentani Airports, 225 services cancelled

Sentani, Jubi – A total of 225 flights at Sentani International Airport in Jayapura Regency, Papua Province, were cancelled between [...]

Student arrested after clash with Dutch national in Manokwari
28 October 2026
Student arrested after clash with Dutch national in Manokwari

Manokwari, Jubi – A joint team from the Manokwari Police Criminal Investigation Unit and Amban Police have arrested PH, a [...]

West Papua lawmaker urges governor to return special autonomy oil and gas revenue to Jakarta
28 October 2026
West Papua lawmaker urges governor to return special autonomy oil and gas revenue to Jakarta

Manokwari, Jubi – West Papua Provincial Legislative Council Golkar faction leader Amin Ngabalin has urged Governor Dominggus Mandacan to return [...]

Fire destroys sago groves, threatening Indigenous food security in Kimaam
27 October 2026
Fire destroys sago groves, threatening Indigenous food security in Kimaam

Jayapura, Jubi – A fire that swept through sago groves and peatland in Turiram village, Kimaam district, Merauke regency, South [...]

  • Latest
  • Trending
  • Comments
Indonesia

Indonesia dan penguatan respons terhadap kejahatan transnasional

October 30, 2026
sawit

Mitigasi rantai pasok industri sawit

October 30, 2026
Kurikulum

Kurikulum bukan ruang promosi program

October 30, 2026
Dekolonisasi Kaledonia Baru

Festival FIFA U15 dimanfaatkan kampanye dekolonisasi Kaledonia Baru dan Polinesia Prancis

October 30, 2026
Kepala suku Santo Vanuatu

Dewan Kepala Suku Santo Vanuatu mengklaim distribusi kekayaan nasional tidak adil

October 30, 2026
Cuaca kering di Fiji

Cuaca kering berkepanjangan berdampak pada pertanian dan perikanan di Fiji

October 30, 2026
Australia dan Indonesia

Australia dan Indonesia perkuat kerja sama transisi energi

October 30, 2026
Krisis air di Fiji karena El Nino

Fiji hadapi krisis air berkelanjutan seiring berkembangnya El Niño

October 29, 2026
Sekolah di PNG terdampak El Nino

El Nino memaksa sekolah-sekolah di Madang PNG ditutup lebih awal

October 28, 2026
Pekerja mendaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan

Pekerja bukan penerima upah bisa menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan

October 28, 2026
Peringatan masker di PNG

Peringatan untuk memakai masker di PNG

October 29, 2026
Kepala Dinas tersangka lakalantas

Kepala Dinas Pemkab Jayapura menjadi tersangka kasus tabrak lari

October 29, 2026
Kemitraan dengan Israel

Pacific Elders’ Voice serukan pembatalan kemitraan dengan Israel

October 29, 2026
Kolaborasi mengembangkan potensi kopi

Gubernur Nawipa: Perlu kolaborasi mengembangkan potensi kopi Papua Tengah

October 29, 2026
Indonesia

Indonesia dan penguatan respons terhadap kejahatan transnasional

0
sawit

Mitigasi rantai pasok industri sawit

0
Kurikulum

Kurikulum bukan ruang promosi program

0
Dekolonisasi Kaledonia Baru

Festival FIFA U15 dimanfaatkan kampanye dekolonisasi Kaledonia Baru dan Polinesia Prancis

0
Kepala suku Santo Vanuatu

Dewan Kepala Suku Santo Vanuatu mengklaim distribusi kekayaan nasional tidak adil

0
Cuaca kering di Fiji

Cuaca kering berkepanjangan berdampak pada pertanian dan perikanan di Fiji

0
Australia dan Indonesia

Australia dan Indonesia perkuat kerja sama transisi energi

0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : [email protected]

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara