Jayapura, Jubi- Terkadang publik melihat pesta babi hanya sekadar kumpul dan makan babi. Akan tetapi, ini sebenarnya jauh dari pada sekadar pesta. Unsur- unsur menjaga lingkungan dan kearifan lokal berlaku dalam menjaga keseimbangan alam, melalui sasi salib merah dan berburu babi di hutan.
“Masyarakat adat selalu menjaga lingkungan dan kearifan budaya melalui Pesta Babi karena merasa kemurahan Sang Pencipta dalam memelihara kehidupan dari generasi ke generasi dalam sudah suku bangsa,” kata Antropplog Andro Loekito dari Fisip Universitas Cenderawasih dalam sebuah diskusi bersama Jubi beberapa waktu lalu di Jayapura.
Menurut antropolog program doktoral dari Universitas Indonesia itu, melalui kearifan lokal masyarakat adat sudah mengetahui kapan akan terjadi hujan dan musim kemarau.
“Oleh karena itu mereka akan selalu menjaga keseimbangan alam untuk kehidupan dengan secara bijaksana memperlakukan alam ciptaan Tuhan,” ucapnya.
Katanya, kearifan lokal sasi adalah pengetahuan dan pandangan hidup masyarakat adat Papua yang memilki hubungan dengan pemenuhan hidup secara materi dan sosial yang mengandung nilai etika moralitas. Ini diwarsikan dari generasi ke generasi dan tetap berlanjut hingga kini.
Karenanya lanjut Andro Loekito, jangan pernah meremehkan sasi atau peristiwa budaya. Sebab, semua itu menyangkut dengan perubahan alam dan kepercayaan masyarakat adat.
Ia mengatakan, kebiasaan masyarakat adat melakukan perladangan berpindah- pindah dan pertanian sub sistensi, karena alam memang tidak cocok untuk pertanian menetap.
Hal senada dikatakan pakar konservasi biologi hutan Dr. Jance de Fretes bahwa kesuburan tanah di kawasan hutan tropis sebenarnya sangat rapuh dan bergantung pada siklus tertutup (sinar matahari, tumbuhan, dan pengurai).
Kesuburan hutan tropis tidak pernah abadi. Jika hutan dibabat, siklus energi dan hara akan terganggu.
“Kegiatan pertanian di lahan bekas hutan tropis umumnya hanya mampu memberikan hasil panen maksimal selama dua hingga tiga kali saja,” kata Dr. Jance de Fretes.
“Apalagi kini rata-rata deforestasi tanah Papua 34.918 hektare per tahun, sedangkan secara nasional Indonesia dua juta hektar per tahun.”
Forest Wacht Indonesia dan Global Forest Wacht Indonesia pernah menerbitkan buku berjudul “Potret Keadaan Hutan Indonesia” dan menyebutkan hutan dataran rendah Indonesia, memiliki persediaan kayu dan keanekaragaman, dan memiliki risiko paling tinggi.
Tipe hutan ini hampir seluruhnya lenyap di Sulawesi, dan Sumatera sudah lenyap pada 2005, selanjutnya Kalimantan pada 2010.
Kini tinggal hutan tropis tersisa di tanah Papua . Perubahan bentangan alam itu telah dimulai dari era Presiden SBY, Jokowi dan sekarang Presiden Prabowo di Provinsi Papua Selatan.
Hutan berfungsi untuk menyimpan air saat musim kemarau dan mencegah banjir saat hujan. Namun kini semua telah berubah, bentangan alam di Provinsi Papua Selatan dari hutan berawa dan savana harus diganti dengan tanaman padi, tebu dan perkebunan sawit.
Lumayan luas untuk Proyek Strategis Nasional (PSN) 2,5 juta hektar, kayu kayu bush (eucalyptus) siap diganti dengan sawah dan tebu.
“Orang kampung hanya bilang, padi dan tebu tidak bisa tangkis (tahan) hujan lebat dan simpan air saat musim kemarau tiba.”
Hanya sagu dan rawa-rawa di savana Papua Selatan, yang menjaga keseimbangan air antara kemarau panjang dan musim hujan.
Kemarau dan fenomena El Nino
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah V Jayapura mengeluarkan peringatan dini terkait potensi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengintai Provinsi Papua Selatan.
Peringatan ini disampaikan menyusul prediksi musim kemarau yang diperparah oleh fenomena El Nino.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jayapura, Sulaiman, menjelaskan wilayah Papua Selatan telah memasuki periode musim kemarau sejak Mei lalu.
Kondisi ini diperburuk oleh masih adanya pengaruh El Nino yang secara signifikan mengurangi tingkat curah hujan di daerah tersebut.
“Diprediksi akan ada titik-titik panas atau spot yang memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Papua Selatan,” ujar Sulaiman di Jayapura, seperti dilansir Antara, Kamis (18/6/2026).
Berdasarkan pemetaan BMKG, sejumlah wilayah yang berpotensi memunculkan titik api antara lain Kabupaten Merauke, meliputi wilayah Merauke, Sota, Wanam, dan Tanah Miring.
Selain itu, potensi serupa juga terdeteksi di Kabupaten Mappi, khususnya di sekitar kawasan Keppi.
Berdasarkan pemetaan prakiraan cuaca BMKG, sejumlah wilayah diidentifikasi memiliki risiko tinggi munculnya titik panas (hotspot).
Wilayah tersebut mencakup dua kabupaten utama, Kabupaten Merauke, meliputi distrik Merauke, Sota, Wanam, dan Tanah Miring,Kabupaten Mappi, terfokus di sekitar wilayah Keppi.
Kondisi ini menuntut kewaspadaan ekstra dari masyarakat setempat. BMKG mengimbau warga untuk tidak melakukan pembakaran sampah secara sembarangan di area terbuka, guna mencegah api merambat ke lahan kering di sekitarnya yang dapat memicu kebakaran skala besar.
Musim kemarau 2026 di Papua Selatan diprediksi akan berlangsung hingga Desember 2026.
Masyarakat diminta menghemat penggunaan air bersih karena debit air dipastikan berkurang seiring minimnya curah hujan. Selain itu menurut KLHK ditemukan 564 Hotspot di Indonesia, terbanyak di Papua Selatan. (*)























Discussion about this post