Sentani, Jubi – Sejak dahulu, sagu menjadi makanan pokok masyarakat adat yang tinggal di dataran rendah dan pesisir Tanah Papua. Sagu didapat dari proses pengendapan sari pati hati batang pohon sagu. Secara tradisional, tepung pati sagu diolah menjadi papeda atau sagu bakar. Kini, tepung sagu itu diolah menjadi beragam kudapan lezat yang tampil mentereng di etalase toko dan mal.
Siapa sangka produk olahan sagu bisa dikemas semewah kemasan berjenama “Beng Beng Sagu”. Kemasan plastik kedap udara itu didominasi warga hijau berbingkai merah, menampilkan foto besar kue kering yang sangat mirip dengan rupa snack jenama terkenal, “Beng Beng”.
Bedanya, jika Beng Beng yang ternama itu berbahan wafer cokelat, karamel, dan bersalut cokelat—Beng Beng Sagu produksi Walri Masata Papua berisi kue kering berbahan sagu yang dibalur cokelat. Di sudut kiri atas bagian depan kemasan mewah itu, ada tulisan “Oleh-oleh Khas Kabupaten Jayapura”. Di bagian tengah atas, ada lambang produsennya, Walri Masata Papua. Di bagian kanan atas, terdapat logo Halal.
Di tengah bagian depan kemasan, di atas foto produk Beng Beng Sagu, terdapat keterangan varian rasa yang ditawarkan. Lalu, ada pula gambar dua orang berpakaian adat khas Sentani. Kini, kue kering Beng Beng Sagu dalam kemasan ukuran 100 gram itu mudah didapati di berbagai etalase toko besar di Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura, Provinsi Papua.
Beng Beng Sagu adalah salah satu jenama andalan Walri Masata Papua, produsen berbagai kudapan dan kue kering berbahan sagu yang dirintis Sipora Sorontou, warga Kampung Maribu di Distrik Sentani Barat Moi, Kabupaten Jayapura. Walri Masata Papua juga memproduksi snack dalam kemasan berjenama “Walri Stik Sagu”, serupa stik berbahan tepung terigu, namun dibuat dari tepung sagu. Ada pula bagea, kue kering tradisional berbahan sagu yang kini dikemas rapi.
Tak hanya itu, Walri Masata Papua juga menawarkan kue basah seperti Martabak Sagu, yang nyaris serupa martabak manis yang penuh parutan keju dan meses cokelat. Ada lagi sagu bakar, bahkan es krim berbahan sagu.

Kue putar berbahan sagu
Sipora Sorontou merintis usaha Walri Masata Papua sejak 10 tahun silam. Awalnya tak terduga, gara-gara ia membeli kue putar di salah satu kios yang ada di Pasar Depapre, Kabupaten Jayapura. Setelah mencicipi kue tersebut, Sorontou ingin membuat sendiri kue itu, tapi kesulitan mencari tepung terigu.
“Bahan dasar [kue putar] adalah tepung terigu, dan waktu itu untuk mendapatkan tepung terigu sangat susah. Saya memulainya dengan [membuat kue putar berbahan] tepung sagu,” ujar Sipora Sorontou di Sentani, Ibu Kota Kabupaten Jayapura, Kamis (17/9/2026)
Pati sagu adalah bahan makanan yang hampir selalu ada di rumah masyarakat adat di dataran rendah dan wilayah pesisir Papua. Termasuk di rumah Sipora Sorontou, yang memiliki tempat penyimpanan pati sagu, dan setiap hari mengolahnya menjadi papeda atau sagu bakar untuk dikonsumsi keluarganya.
Sipora Sorontou mengolah pati sagunya menjadi tepung sagu kering agar bisa dijadikan bahan membuat beragam kue dan penganan. Untuk mendapatkan tepung sagu kering, Sorontou mengeringkan pati sagu basah dalam karung beras ukuran 25 kilogram, dengan cara menindih karung berisi pati sagu itu dengan batu tela (sejenis batako berbahan batuan kapur). Tekanan berat batu tela selama beberapa hari itu akan memeras kandungan air dari pati sagu tersebut.
Setelah beberapa hari, pati sagu dijemur hingga kering. Pati sagu yang telah kering lantas digiling halus, hingga menjadi tepung sagu. Proses itu sepertinya mudah, namun membuat 1 kilogram tepung sagu membutuhkan kesabaran dan pengetahuan tentang mengolah pati sagu.
“Ada ilmu yang turun temurun dari orangtua yang setiap hari saya lihat di dapur rumah kami. [Saya tahu] bagaimana membersihkan sagu yang habis ditokok, [lalu] sari patinya dibawa pulang ke rumah, lalu dibersihkan lagi, [lantas] disimpan sebagai stok bahan makanan keluarga. Pengalaman ini yang digunakan untuk mengerjakan pati sagu menjadi tepung,” kata Sorontou.
Berbekal tepung sagu buatannya sendiri, Sorontou berhasil membuat kue putarnya sendiri. “Kue putar dengan bahan tepung sagu adalah hasil pertama saya, di konsumsi dikalangan keluarga dan kerabat. Lalu, [pembuatan kue putar berbahan sagu itu] berkembang, [saya pasarkan] ke luar atas permintaan atau pesanan dari luar,” ujarnya.

Pengalaman dari cara kerja orangtuanya menjadikan dasar Sorontou melangkah dan mengembangkan usaha kudapan berbahan sagu. Produksi olahan tepung sagu itu bertumbuh secara pelan namun pasti.
Ada harga yang dibayar agar tungku api di dapurnya tetap menyala. Sorontou sempat berupaya membuat kelompok usaha untuk bersama-sama memproduksi tepung sagu dan beragam penganan berbahan sagu.
Saat itu, ia berharap produksi tepung sagunya bisa tumbuh lebih cepat, dan keuntungan ekonominya dirasakan oleh lebih banyak orang. Akan tetapi, kelompok usaha itu tak selancar yang diharapkan, karena kemampuan manajemen usaha anggotanya berbeda-beda. Sorontou menolak menyerah, meskipun ia harus berjalan sendiri untuk melanjutkan produksi kue putar berbahan sagu.
Pada 2016 ia mengikuti pelatihan kewirausahaan di Kota Jayapura. Pelatihan itu diikuti 30 ibu pengusaha Usaha Mikro, Kecil, dan Mengah (UMKM), dan mengajarkan pembuatan beragam biskuit berbahan sagu.
Setahun kemudian, ia mengikuti pelatihan membuat biskuit berbahan sagu yang dibuat Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Kabupaten Jayapura. Pelatihan kali ini juga mengajarkan manajemen usaha kecil. Ia juga mengikuti pelatihan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Jayapura yang mengajarkan cara pengolahan pangan lokal yang berkualitas dan higienis. Pelatihan kali ini juga mengajarkan tata cara mengurus perijinan UKM.
“Produk dalam kemasan harus lolos uji di laboratorium obat dan makanan, harus mendapatkan sertifikasi halal. Desain kemasan yang harus sesuai, volume atau jumlah produk yang dimasukkan dalam kemasan tersebut [juga harus sesuai. Kemasan juga] wajib memiliki komposisi bahan dasar produk. [Untuk memproduksinya, kami harus] memiliki Nomor Induk Berusaha, ijin tempat usaha, ,” ungkap Sipora.
Ia harus berjuang dan mencari cari mengemas produknya agar lebih menarik di pasar. “Saya punya kemasan awal kurang bagus dan tidak menarik bagi para pembeli. Saya terus belajar dan mencoba memperbaikinya. Sekarang, saya bisa mendapatkan kemasan yang lebih baik, dan label produk yang lebih profesional. Harapannya, produk lokal Papua ini bisa bersaing tidak hanya di pasar lokal, tetapi juga bisa menembus pasar ekspor,” ujarnya.
Usahanya sering kali jatuh-bangun, namun ia bertahan dan berusaha bersaing. Berbagai pelatihan yang dikutinya ini berdampak positif terhadap usahanya. Sekarang Walri Masata Papua memproduksi beraneka penganan—mulai dari martabak sagu, stik sagu, biskuit sagu, kripik sagu, krupuk sagu, es krim sagu, dan sagu bakar. Beragam produk itu dipasarkan dalam kemasan, dan dijual di banyak toko besar di Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura—seperti Saga, Hypermart, Alfamart, dan toko besar lainnya.
Mimpi besarnya adalah memiliki rumah produksi, dan kini ia tengah membangunnya secara mandiri. Sorontou membutuhkan dukungan fasilitas serta sarana dan prasarana yang memadai, dan ia mengajukan sejumlah proposal kepada pemerintah daerah dan sejumlah pihak lain agar bisa mengembangkan kapasitas produksinya. Kebanyakan proposal itu tak terjawab, namun ia tak menyerah. Ia akhirnya menerima bantuan rumah penjemuran pati sagu dari pemerintah pusat.
Menurut Sorontou, tantangan besar yang dihadapi pengusaha sepertinya adalah kurangnya dukungan, baik dari keluarga maupun pemerintah. Ia mengungkapkan kekesalannya terhadap situasi yang kerap dialami para perempuan Papua yang berwirausaha, dan kerap diabaikan. Sebaliknya, para pengusaha non-Papua kerap mendapatkan dukungan yang lebih suportif.
“Jika ada acara atau kegiatan besar, saya sering melihat bagaimana teman-teman dari luar Papua selalu didukung oleh keluarga dan sahabat mereka [yang mendukung] dengan membeli produk mereka. Itu memberi motivasi untuk terus berkembang. Sementara kami, orang Papua, sering kali tidak mendapatkan dukungan seperti itu. Sahabat dan kerabat di lingkungan terdekat datang ke acara hanya untuk jalan-jalan, menonton, mencari hiburan bagi diri sendiri,” kesalnya.
Sorontou menyatakan harus ada perubahan pola pikir dari semua pihak, agar apa yang dikerjakan dan usahakan orang Papua yang berwirausaha mendapat dukungan. Orang Papua yang berwirausaha pun harus tangguh dan konsisten mengembangkan usahanya.
“Kita harus terus berusaha. Meski ada kendala, kita tidak boleh menyerah. Kalau ada kerusakan, kita perbaiki dan terus berinovasi. Saya percaya, jika kita tetap semangat, kita bisa bersaing dan menunjukkan bahwa produk Papua tidak kalah dengan produk dari luar,” katanya.
Ia juga menyatakan pengusaha Papua sering terkendala masalah pengurusan izin dan legalitas produk. Dengan ketekunan, kesabaran, dan komitmen tinggi, Sipora Sorontou mengurus berbagai perizinan yang harus didapatkan, dan upaya kerasnya berdampak positif.

Makin berkembang
Kini, berbagai produk olahan sagu Walri Masata Papua sudah menembus toko besar seperti Saga, Hypermart, atau Alfamart. Itu membuktikan bahwa usaha yang dikerjakannya terus meningkat dan menjadi pilihan konsumen di Papua maupun luar Papua.
Seiring usahanya berkembang, Sorontou membutuhkan semakin banyak bahan bagu, terutama pati sagu. Bahan baku tetap, seperti sagu, dibeli dari masyarakat di kampung atau pasar.
Dapur produksi juga menyerap semakin banyak tenaga kerja untuk meracik dan memproduksi tepung sagu dan penganan berbahan sagu sesuai pesanan, baik untuk dipajang di toko maupun pesanan konsumen lainnya.
“Pendapatan setiap bulan [kami] saat ini bisa mencapai Rp25 juta, di luar modal yang digunakan untuk produksi. Hasil produksi ini dijual di tempat usaha sendiri, dan memenuhi pesanan konsumen di luar, termasuk di toko. [Kami mengirim] 20 – 25 pak di setiap toko, setiap kemasan dijual dengan harga Rp20 ribu hingga Rp25 ribu. Khusus tepung sagu, [harga] per kilonya Rp50 ribu,” kata Sipora Sorontou.
Ia menyadari tidak banyak Orang Asli Papua yang mau secara mandiri mendirikan usaha dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal yang ada. Masyarakat adat di Papua umumnya masih hidup dan dimanjakan dengan sumber daya alam yang melimpah. Sementara hutan sagu di Tanah Papua lambat laun mulai habis, tanpa kita sadari.
“Saat tebang pohon sagu, harus ada yang ditanam kembali, sehingga tanaman sagu yang menjadi sumber pangan lokal kita ini tetap terjaga dan tidak cepat habis. Dulu [orang memanen pati sagu] menggunakan penokok atau pangkur. Sekarang sudah ada mesin parut sagu. Otomatis jumlah pohon sagu yang ditebang cukup banyak,” ujarnya.
Walri Masata Papua dalam waktu dekat akan buka cabang di Kota Semarang di Jawa Tengah dan Denpasar di Bali, karena permintaan terhadap produk mereka semakin banyak. Berbagai penganan kemasan Walri Masata Papua kerap dijadikan buah tangan, dan ternyata disukai. Banyak konsumen dari luar Papua memesan berbagai penganan itu, melalui nomor telepon yang tertera di kemasan produk.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perijinan Satu Pintu (DPM-PTSP) Kabupaten Jayapura, Gustaf Griapon menjelaskan pihaknya terus berupaya mendukung para pengusaha asli Papua. Saat ini, DPM-PTSP telah memiliki data dan profil para pelaku UMKM di Kabupaten Jayapura.
“Jumlah pelaku usaha khususnya UMKM di Kabupaten Jayapura ada 6.000-an. Itu sudah termasuk pengusaha lokal atau asli Papua. Kami sedang melakukan verifikasi terhadap pengusaha yang sudah memiliki ijin usaha dan yang belum memiliki ijin usaha,” katanya.
Menurut Griapon, kepengurusan perizinan usaha, tempat usaha, legalitas produk yang diproduksi, label, dan sertifikasi halal sangat penting, karena akan membangun kepercayaan konsumen. Griapon menyatakan pengusaha dengan dokumen perizinan usaha yang lengkap akan lebih mudah mendapatkan bantuan serta dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta.
Griapon menyebut kebanyakan pengusaha hanya bersemangat di masa awal. Ketika akan mengurus dokumen perizinan, lalu disodori berbagai persyaratan, kebanyakan pelaku usaha patah semangat dan tidak mengurusnya. “Di jaman yang serba online ini, seharusnya lebih mudah untuk mengurus seluruh keperluan [persyaratan izin] bagi usaha yang dijalankan ,” kata Griapon.
Wakil Ketua III DPR Kabupaten Jayapura, Nelson Johosua Ondi mengapresiasi upaya masyarakat adat yang benar-benar serius memanfaatkan potensi sumber daya alam untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. “Jadi pertanyaan besar jika masyarakat adat kesulitan mengolah sumber daya alamnya sendiri,” ujar Ondi.
Ondi menyatakan keberadaan Orang Asli Papua yang mampu berusaha dengan mengolah hasil sumber daya alamnya sendiri adalah hal yang luar biasa. “Ini salah satu cara yang digunakan agar kebutuhan ekonomi keluarga dapat terpenuhi. Selain itu, [dengan kewirausahaan] taraf sosial dan kehidupan kita juga ikut berkembang,” ujarnya.
Menurutnya, hutan, rawa, danau, laut, kebun, pertanian, peternakan, dan perikanan adalah potensi lain yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat adat di Tanah Papua. “Semua dikembalikan kepada siapa yang mau berusaha dan bekerja. Selama hal ini tidak dilakukan, maka sia-sia saja harapan kita sebagai masyarakat adat yang kaya akan potensi sumber daya alam,” kata Nelson Ondi. (*)





















Discussion about this post