• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Indepth Story

Hutan sagu terancam: Tradisi masyarakat Kampung Yoboi tergerus

September 18, 2026
in Indepth Story
Reading Time: 5 mins read
0
Penulis: Larius Kogoya - Editor: Arjuna Pademme
Mengolah sagu

Seorang warga sedang melakukan proses tepung sagu - Jubi/Jean Bisay

0
SHARES
1
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jayapura, Jubi – Hampir seluruh wilayah Kampung Yoboi, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua berada di atas Danau Sentani. Kampung ini terkenal sebagai desa wisata dan punya hutan sagu terluas di Kabupaten Jayapura mencapai 1.600 hektar.

Di sana, pohon sagu menjulang tinggi. Ketikan datang ke kampung ini, pengunjung perlu berjalan di atas jembatan kayu dan sepanjang jalan banyak tanaman sagu. Sebagian batang sagu siap panen, ada pula yang masih kecil.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif meresmikan Kampung Yoboi menjadi salah satu desa wisata terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia sejak September 2021.

Salah satu daya tariknya adalah hutan sagu dan kearifan lokal masyarakat dalam mengelolanya. Kampung Yoboi menawarkan keindahan alam seni budaya hingga wisata edukasi.

Akan tetapi, kearifan lokal masyarakat Kampung Yoboi mengelola hutan sagu menjadi sumber pangan utama kian terancam, seiring waktu.

Yohanes Tokoro, warga Kampung Yoboi setiap hari menghabiskan waktu di hutan sagu. Lelaki 64 tahun ini merawat, membersihkan pelepah sagu, menanam dan memanen sagu.

Ia mengolah sagu secara tradisional, biasanya mereka lakukan bersama keluarganya. Mulai dari menebang sagu yang sudah tua dengan kapak atau parang.

BERITATERKAIT

Masyarakat adat Malind berharap gugatan izin pembangunan jalan dikabulkan

Gubernur imbau masyarakat Papua Selatan lestarikan mangrove di pesisir Payum

Gubernur Nawipa: Pembangunan di Dogiyai untuk masyarakat

PAPEDA Summit 2026: Pembangunan dan investasi mengabaikan masyarakat adat Papua

Menguliti bagian luarnya dan batang dalamnya mereka pukul-pukul dengan alat seperti kapak yang terbuat dari kayu atau alat oyo hingga hancur menjadi serbuk kasar (menokok sagu).

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

Setelahnya, serbuk kasar diremas dengan campuran air besih di atas wadah penyaring, berupa pelepah daun sagu atau kain tipis. Hingga sari patinya larut bersama air dan terpisah dari ampasnya.

Air hasil perasan itu didiamkan selama beberapa jam atau beberapa hari sampai patinya mengendap. Endapan inilah yang akan dijemur hingga kering dan menjadi tepung sagu.

Luas hutan sagu Kampung Yoboi sekitar 1.600 dari 38.670 hektar luas hutan sagu. Hutan sagu tempat biasa orang berkunjung untuk wisata ini merupakan sumber makanan pokok warga.

Pohon sagu
Seorang warga menebang pohon sagu untuk diolah menjadi tepung sagu – Jubi/Engelbert Wally

Menurut Yohanes Tokoro, hutan sagu bagian dari identitas, sumber penghidupan dan pangan mereka. Hutan sagu sebagai aset adat yang menjamin masa depan seluruh keluarga dan

Selain itu, huta sagu jaminan komunitas dari generasi baik generasi pada tingkat klan, suku, marga yang diwariskan untuk menjamin kehidupan keberlanjutan terkait langsung dengan wilayah adat.

Sagu juga menjadi jaminan pangan lokal masyarakat di sekitar Danau Sentani yang terdiri dari 32 kampung. Sejak 1990-an, kearifan lokal masyarakat dalam mengelola sagu kian terancam.

Banyak dari mereka sudah menggunakan mesin untuk menebang dan memeras untuk menjadi tepung sagu. Namun kondisi hutan sagu kini disebut telah mengalami perubahan.

“Kondisi hutan sekarang, saya lihat ada perubahan juga karena beralih ke modern. Sagu mulai habis dengan cepat. Dalam satu hari, 10-20 batang sagu bisa ditebang karena pakai mesin,” kata Yohanes Tokoro, Rabu (19/8/2026).

Pemuda adat dan penggagas ekowisata Kampung Yoboi, Billy Tokoro merasakan kekhawatiran yang sama seperti Yohanes Tokoro, terkait masuknya alat modern ke kampung.

“Ada beberapa lembaga, baik NGO (organisasi non pemerintah) atau pemerintah, membawa mesin pengolah sagu dan menawarkan ke masyarakat. Niatnya baik, tapi mereka tidak melihat mesin itu adalah ancaman bagi hutan sagu,” ujar Billy Tokoro, Selasa (18/8/2026).

Hutan sagu bagi Billy Tokoro, merupakan menjadi warisan nenek moyang yang harus mereka pertahankan dengan cara kearifan lokal. Tak hanya melestarikan budaya, mereka juga terus menjaga agar lingkungan tetap terjaga dari ancaman-ancaman luar.

“Saat ini, memang pariwisata lebih menonjol, tapi justru tawarkan hal-hal yang tidak sesuai dengan pelestarian kearifan lokal. Seperti mereka bawa mesin sagu yang besar, yang satu kali olah bisa beberapa batang tebang. Itu jadi ancaman sekali di saat kita tawarkan ekowisata,” kata Billy Tokoro.

Masyarakat Yoboi memiliki tradisi atau kearifan lokal menjaga hutan sagu dan pengelolaan secara tradisional. Itu sudah terbukti ratusan tahun itu mereka bisa menjaga keseimbangan antara mengambil dan menanam itu sampai saat ini masih konsisten.

“Pola-pola itu jelas, bahwa kita punya sistem sendiri. Apalagi sagu itu ada kaitan erat sekali dengan Danau Sentani. Selain itu masyarakat punya kewajiban untuk membersihkan hutan sagu,” ucapnya.

Hutan Sagu
Hutan sagu di kawasan pinggiran Danau Sentani – Jubi/Engelbert Wally

Ancaman pelestarian hutan sagu

Aturan kepemilikan dusun sagu berdasarkan hak ulayat marga yang diwariskan secara secara turun-temurun. Tak hanya Kampung Yoboi, dusun sagu itu kepemilikannya berasal dari masyarakat adat Kampung Simporo, Babrongko Distrik Ebungfauw, dan Towari Distrik Sentani.

Pada era 80-90an, masyarakat adat di sekitar Danau Sentani membuat komunitas bernama Cinta Pohon Sagu (Cipos).

Mereka secara konsisten menanam sagu dan menjaga tanaman itu. Mereka memanen dengan cara tradisional hingga menekan dampak lingkungan.

Sayangnya, tekanan alih fungsi lahan untuk pembangunan dan permukiman, risiko kebakaran lahan, pencemaran air hingga pemanenan sagu tak ramah lingkungan mengikis kearifan lokal yang ada.

“Dulu luasan hutan sagu ini hampir dua ribuan hektar lebih, tapi karena tergusur oleh pembangunan, di sekitar area hutan sagu, banyak yang ditebang juga,” kata Hans Tokoro, Kepala Suku Marga Tokoro kepadaMongabay.

Kini, dia memiliki mandat sebagai kepala ekonomi di dusun sagu. Dia yang mengawasi masyarakat dalam pengelolaan urusan ekonomi mulai dari sagu, ikan, berburu babi hutan dan sebagainya.

Ia juga yang mengatur bagaimana menebang, memotong, membersihkan hingga menokok sagu agar terhindar dari kesalahan.

Menurut Hans Tokoro, banyak hutan sagu hilang karena masyarakat tergiur dengan ekonomi. “Beberapa ribu hektar ditebang dan rusak, khususnya bagian darat kawasan Dermaga Yahim sampai ke Sentani Barat. Pemerintah dulu juga bikin kebun padi.”

Kini, pelestarian hutan sagu terancam juga karena ada mesin modern masuk kampung. Hans selalu mengingatkan agar panen secara tradisional agar hutan sagu tetap terjaga.

“Itu (aturan terkait penebangan dengan mesin) belum masuk aturan adat, baru sehabis tebang lalu tanam lagi. Tapi kalau dengan mesin, hutan cepat habis. Air danau kadang lebih mudah mematikan bibit, sedangkan tumbuhnya sagu lama sekali,” ujarnya.

Menokok sagu
Seorang warga Sentani, Kabupaten Jayapura sedang menokok serat pohon sagu untuk diolah menjadi tepung sagu – Jubi/Agus Pabika

Sejak 2016, Kabupaten Jayapura memiliki Peraturan Daerah Nomor 8 tentang Kampung Adat. Aturan itu memperkuat peran masyarakat dalam melindungi, dan melestarikan adat istiadat setempat, termasuk dalam menjaga keberadaan hutan sagu.

Hans Tokoro pun mengakui ancaman itu terus datang, namun aturan adat bisa berlaku setelah melewati musyawarah adat yang memiliki banyak tingkatan.

Fredrik Sokoy, Guru Besar Bidang Ilmu Antropologi Universitas Cenderawasih mengatakan, hutan sagu di Papua, terutama di Kampung Yoboi banyak beralih fungsi karena pembangunan infrastruktur dan permukiman. Luasan hutan sagu makin terus menyempit.

“Nampaknyakita punya pemerintah dan swasta ini, mereka tidak membangun sebuah perencanaan pembangunan yang berbasis pada perlindungan terhadap kawasan yang potensial memberi makan, memberi hidup kepada penduduk. Sekarang dari arah perkotaan itu hutan sagu sudah menyusut tinggal hitung-hitung tahun saja hutan sagu itu suatu ketika akan habis,” kata Fredrik Sokoy.

Ia menyebutkan, pembangunan yang tidak memperhitungkan aspek lingkungan dan masyarakat adat, akan menghabisi dusun sagu. “Maka kematianlah yang menjadi jawaban akan kehidupan orang di sekitar Danau Sentani,” ujarnya.

Meski, ada upaya budidaya, baginya itu tidaklah cukup di tengah wilayah hutan yang terus tergerus. Ia merekomendasikan pemerintah harus membuat pemetaan dan melakukan perencanaan ulang, kawasan mana yang penting dan harus terjaga sebagai ruang hidup masyarakat adat dan generasi mendatang.

“Kalau tidak, orang-orang danau ke depan akan mengatakan bahwa dulu memang kita ini pemakan papeda, tapi sekarang sudah harus menggantung seluruh hidup pada nasi. Itu kematian, kematian untuk orang-orang Sentani,” ucap Sokoy.

Solmon Telenggen, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jayapura mengatakan, hutan sagu di Kabupaten Jayapura kian tahun makin terpecah-pecah menjadi petak-petak kecil yang terisolasi, terutama di sekitar Danau Sentani.

“Sisa hutan sagu yang masih utuh saat ini terutama di Kampung Yoboi, Simporo, dan Babrongko (Yosiba), masih menyimpan 34 jenis sagu,” kata Solmon Telenggen, Jumat (11/9/2026).

Alih fungsi hutan sagu katanya, banyak oleh masyarakat tanpa memperhitungkan dampak lingkungan, ekosistem dan vegetasi tumbuhan. Banyak hutan sagu beralih fungsi menjadi kawasan industri, pembangunan infrastuktur hingga perumahan.

Tak hanya itu, kata Telenggen, ancaman kerusakan ekosistem, pencemaran lingkungan, penurunan kualitas air danau dan air tanah juga mengganggu pertumbuhan sagu, pendangkalan dan sedimentasi danau mempengaruhi kawasan rawa sagu.

Namun Salmon Telenggen tak menjawab pertanyaan saat dikonfirmasi upaya pencegahan dan sanksi untuk menjaga hutan sagu.

Hutan sagu tergerus, ekowisata kian terancam

Tak hanya sebagai sumber pangan pokok, hutan sagu juga meningkatkan ekonomi bagi warga Kampung Yoboi melalui ekowisata. Billy Tokoro juga khawatir dengan berkurangnya hutan sagu karena itu menjadi pilihan ekonomi bagi warga.

“Upaya pelestarian bisa dilakukan dengan pendekatan ekowisata berkelanjutan yang tidak merusak alam. Melalui konsep ekowisata, hutan sagu tetap bisa memberi nilai ekonomi bagi masyarakat tanpa harus ditebang secara masif,” katanya.

Menurutnya, wisata edukasi tentang memperkenalkan sagu menjadi cara agar masyarakat dan generasi muda bisa ikut menjaga hutan sagu.

Jika hutan sagu rusak, maka budaya dan kawasan sekitar juga terdampak. Saat hujan datang, air danau akan naik, begitu juga saat kemarau, air menjadi kering yang berdampak pada hutan sagu.

“Hutan sagu itu satu kesatuan, jika salah satu bagian dijual lahannya untuk pembangunan, dampaknya pada kita yang tinggal di atas danau.”

Fredrik Sokoy mengatakan, nenek moyang Sentani sudah mengupayakan konservasi lingkungan, perlindungan hutan dan pengawasan secara kearifan lokal. Bahkan praktik-praktik baik itu terus ada hingga kini.

“Hutan sagu itu bagi mereka pemberi kehidupan, artinya lingkungan hutan, kawasan sagu dan lingkungannya itu juga menunjukkan kehidupan. Karena itu harus kita jaga baik. Karena dia satu-satunya yang dapat menopang kehidupan kita, tapi sekaligus menjamin masa depan dari anak cucu kita,” katanya, Rabu (2/9/2026). (*)

Tulisan ini pertama kali terbit di mongabay.co.id

https://mongabay.co.id/2026/09/17/tradisi-masyarakat-kampung-yoboi-tergerus-ancam-kelestarian-hutan-sagu/

Continue Reading
Tags: HutanKampung YoboimasyarakatSaguterancamTradisi
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Gugatan masyarakat adat Malind

Masyarakat adat Malind berharap gugatan izin pembangunan jalan dikabulkan

September 17, 2026
Gubernur Papua Selatan

Gubernur imbau masyarakat Papua Selatan lestarikan mangrove di pesisir Payum

September 17, 2026
Gubernur Nawipa kunker ke Dogiyai

Gubernur Nawipa: Pembangunan di Dogiyai untuk masyarakat

September 7, 2026

PAPEDA Summit 2026: Pembangunan dan investasi mengabaikan masyarakat adat Papua

September 4, 2026

Ketika medsos menjadi ruang sunyi propaganda di tengah masyarakat

September 4, 2026

FDS menjadi ruang promosi olahan sagu dan kopi lokal

August 29, 2026

Discussion about this post

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara