• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Opini

Ketika medsos menjadi ruang sunyi propaganda di tengah masyarakat

September 4, 2026
in Opini
Reading Time: 6 mins read
0
Penulis: Abeth Abraham You - Editor: Arjuna Pademme
Medsos

Ilustrasi

0
SHARES
166
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Oleh: Abeth Abraham You

ADA sesuatu yang aneh dalam kehidupan kita hari ini. Kita hidup pada zaman ketika informasi begitu mudah ditemukan, tetapi kebenaran justru semakin sulit dipastikan. Kita bisa mengetahui sebuah peristiwa hanya beberapa detik setelah terjadi.

Kita dapat melihat pendapat orang dari berbagai tempat, membaca komentar, menyaksikan video dan mengikuti perdebatan tanpa harus meninggalkan layar telepon.

Namun, di tengah kebisingan informasi itu, ada sebuah ruang yang justru bekerja dalam kesunyian. Ruang itu adalah media sosial (medsos).

Di sana propaganda tidak selalu hadir dengan wajah yang menakutkan. Tidak selalu berupa pidato panjang, spanduk atau ajakan terbuka.

Propaganda modern bisa datang melalui sebuah unggahan sederhana, sebuah potongan video berdurasi beberapa detik, sebuah judul berita yang provokatif, gambar yang menggiring emosi atau kalimat pendek yang sengaja dibuat untuk membuat seseorang marah.

BERITATERKAIT

WRI Indonesia gelar pelatihan masyarakat adat dukung perekonomian

Greenpeace desak perlindungan keanekaragaman hayati dan hak masyarakat adat

Gubernur Nawipa: Gereja berperan penting dalam pembangunan masyarakat Papua

Masyarakat adat tolak Sungai Sembra dijadikan sumber air kemasan

Kita mungkin tidak menyadarinya. Kita membaca. Kita marah. Kita memberi tanda suka. Kita membagikan. Kita berkomentar. Kalu algoritma membaca perilaku kita dan kembali menyajikan sesuatu yang serupa.

Di sinilah persoalannya dimulai. Ketika layar mulai memilihkan apa yang kita lihat. Media sosial pada dasarnya dirancang untuk membuat kita terus berada di dalamnya.

Semakin lama kita melihat konten, semakin banyak interaksi yang kita lakukan, semakin banyak pula sistem dapat mempelajari kecenderungan kita.

Jika kita sering membaca berita politik, maka berita politik akan semakin banyak muncul. Jika kita sering melihat konten yang menyerang kelompok tertentu, konten serupa dapat terus memenuhi linimasa.

Jika kita sering berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki pandangan yang sama, kita pun semakin sering ditempatkan dalam lingkungan digital yang serupa.

Akhirnya kita merasa “Semua orang berpikir seperti saya.” Padahal belum tentu. Kita hanya sedang melihat dunia melalui jendela yang semakin sempit.

Inilah yang sering disebut sebagai echo chamber atau ruang gema pada sebuah keadaan ketika seseorang lebih banyak menerima pandangan yang menguatkan keyakinannya sendiri dan semakin jarang bersentuhan dengan sudut pandang yang berbeda.

Masalahnya bukan semata-mata karena kita memiliki pendapat yang berbeda. Namun, masalahnya muncul ketika perbedaan itu mulai dianggap sebagai ancaman.

Dari perbedaan pendapat menjadi “kubu kita” dan “kubu mereka”. Dulu, perbedaan pendapat mungkin berhenti di meja makan, warung kopi, ruang rapat atau percakapan antarwarga. Sekarang perbedaan itu dapat berlangsung selama 24 jam.

Seseorang mengunggah pendapat pada pagi hari. Orang lain membalas dengan kemarahan. Puluhan orang ikut berkomentar. Sebuah video kemudian dipotong, diunggah ulang, dan diberi narasi baru. Dalam beberapa jam, persoalan yang sebenarnya sederhana dapat berubah menjadi pertengkaran besar.

Kita mulai membangun batas: Kubu kita. Kubu mereka.

Yang berada di pihak kita dianggap benar.
Yang berada di pihak lain dianggap salah.
Bahkan sebelum kita membaca keseluruhan persoalan.

Pada titik inilah media sosial kehilangan salah satu fungsi terbaiknya sebagai ruang pertukaran gagasan. Perbedaan tidak lagi dipandang sebagai kesempatan untuk belajar, tetapi sebagai alasan untuk menyerang.

Kita tidak lagi bertanya, “Apa yang sebenarnya terjadi?”. Kita justru bertanya, “Dia berpihak kepada siapa?”
Ini berbahaya. Sebab ketika identitas kelompok menjadi lebih penting daripada kebenaran, fakta dapat dengan mudah dikalahkan oleh loyalitas.

Propaganda bekerja dengan memainkan emosi

Salah satu kekuatan propaganda adalah kemampuannya memainkan emosi manusia. Kemarahan lebih mudah membuat seseorang bereaksi daripada penjelasan panjang.

Ketakutan lebih cepat membuat orang membagikan informasi daripada proses verifikasi.

Kebencian lebih mudah menyatukan kelompok daripada dialog yang tenang.
Karena itu, tidak mengherankan jika konten yang paling emosional sering mendapatkan perhatian besar.

Sebuah informasi yang sebenarnya membutuhkan penjelasan panjang dipadatkan menjadi satu kalimat.

Sebuah peristiwa yang memiliki banyak sisi disederhanakan menjadi “Mereka salah.”

Kemudian muncul pertanyaan yang lebih sederhana lagi “Kamu di pihak kita atau mereka?” Perlahan, masyarakat didorong untuk memilih sisi sebelum memahami persoalan.

Ketika masyarakat sudah terpecah ke dalam dua kubu, apa pun yang datang dari kelompok lawan akan lebih mudah dicurigai.

Di sinilah propaganda menemukan tanah yang subur “Jangan biarkan algoritma menentukan siapa yang harus kita benci.”

Kalimat dalam gambar tersebut seharusnya tidak hanya dibaca sebagai kutipan.

Ia adalah sebuah peringatan “Jangan biarkan algoritma menentukan siapa yang harus kita benci.”

Algoritma tidak memiliki perasaan seperti manusia. Ia bekerja berdasarkan sistem dan pola perilaku. Tetapi cara kita berinteraksi dengan sistem tersebut dapat memengaruhi apa yang terus muncul di depan mata kita.

Jika kita selalu memberi perhatian kepada konten yang membuat marah, konten seperti itu akan mendapatkan perhatian.

Jika kita terus membagikan informasi yang belum diperiksa, informasi tersebut dapat bergerak semakin jauh.

Jika kita hanya mau mendengar orang yang setuju dengan kita, ruang berpikir kita akan semakin sempit.

Pada akhirnya, bukan hanya algoritma yang membentuk linimasa kita. Kitalah yang ikut membentuknya melalui apa yang kita pilih untuk lihat, sukai, komentari dan sebarkan.

Karena itu, tanggung jawab tidak sepenuhnya berada pada platform media sosial. Ada tanggung jawab pribadi di tangan setiap pengguna.

Bahaya terbesar bukan selalu berita palsu

Ketika berbicara tentang propaganda dan media sosial, kita sering langsung berpikir tentang penipuan (hoaks).

Padahal persoalannya lebih luas. Sebuah informasi bisa saja benar, tetapi digunakan secara menyesatkan karena konteksnya dihilangkan.

Sebuah foto bisa saja asli, tetapi diberi keterangan yang tidak sesuai. Sebuah video bisa saja benar-benar terjadi, tetapi merupakan rekaman lama yang kemudian dipresentasikan sebagai peristiwa baru.

Sebuah pernyataan bisa saja benar-benar pernah diucapkan, tetapi hanya potongan tertentu yang ditampilkan sehingga maknanya berubah.

Inilah mengapa kemampuan berpikir kritis menjadi sangat penting. Literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan telepon pintar atau membuka media sosial.

Literasi digital juga berarti kemampuan bertanya: Siapa yang membuat informasi ini? Dari mana sumbernya? Apa konteks lengkapnya? Kapan peristiwa itu terjadi? Apakah ada sumber lain yang mengonfirmasi? Dan yang paling penting:
Mengapa informasi ini membuat saya begitu marah?

Pertanyaan terakhir mungkin terdengar sederhana, tetapi sangat penting. Sebab terkadang yang sedang dimainkan bukan pikiran kita, melainkan emosi kita.

Kita perlu belajar berhenti sebelum membagikan

Ada kebiasaan sederhana yang sebenarnya dapat menjadi pertahanan pertama menghadapi propaganda. Jangan langsung membagikan.

Berhenti beberapa detik. Baca kembali. Periksa sumber. Cari informasi pembanding. Lihat apakah foto atau video tersebut benar-benar sesuai dengan narasi yang menyertainya.

Jangan hanya bertanya apakah informasi tersebut sesuai dengan apa yang ingin kita percaya.

Tanyakan juga “Bagaimana kalau informasi ini ternyata salah?”

Pertanyaan semacam itu membantu kita keluar dari jebakan confirmation bias—kecenderungan manusia untuk lebih mudah menerima informasi yang sesuai dengan keyakinannya sendiri.

Kita semua bisa terjebak di dalamnya. Tidak peduli pendidikan, jabatan, usia, atau latar belakang.

Karena itu, berpikir kritis bukan berarti merasa diri paling pintar. Sebaliknya, berpikir kritis berarti memiliki keberanian untuk mengatakan “Saya mungkin salah. Mari saya periksa lagi.”

Jangan sampai perbedaan menjadi alasan untuk saling membenci. Masyarakat yang sehat bukan masyarakat yang semua orangnya berpikir sama. Justru perbedaan adalah bagian dari kehidupan bersama.

Kita boleh berbeda pilihan. Boleh berbeda pandangan. Boleh mengkritik pemerintah.
Boleh mengkritik tokoh publik. Boleh tidak setuju dengan pendapat orang lain.

Tetapi semua itu tidak harus berakhir dengan kebencian. Kita perlu membedakan antara mengkritik gagasan dan menyerang manusia. Mengoreksi sebuah kebijakan tidak berarti membenci orang yang membuatnya.

Berbeda pilihan tidak berarti menjadi musuh. Memiliki pandangan politik yang berbeda tidak menghapus hubungan kemanusiaan kita. Sayangnya, media sosial sering membuat batas tersebut menjadi kabur.

Seseorang yang sebelumnya kita kenal sebagai tetangga, teman, saudara, atau rekan kerja tiba-tiba menjadi “lawan” hanya karena satu unggahan.

Kita lupa bahwa di balik akun media sosial itu ada manusia. Manusia yang memiliki keluarga. Memiliki perasaan. Memiliki kekurangan. Dan sama seperti kita, manusia itu juga bisa salah.

Media sosial seharusnya menjadi jembatan, bukankah tembok teknologi seharusnya membantu manusia saling terhubung.

Media sosial seharusnya memungkinkan orang dari tempat yang berbeda untuk saling mengenal, bertukar pengalaman, belajar dan menyampaikan aspirasi. Tetapi teknologi yang sama dapat berubah menjadi tembok jika digunakan tanpa kesadaran.

Ketika setiap perbedaan dianggap ancaman, kita tidak lagi membangun jembatan. Kita membangun tembok. Ketika setiap kritik dianggap serangan, kita menutup ruang dialog.

Ketika setiap informasi langsung dipercaya karena sesuai dengan kepentingan kelompok, kita kehilangan kemampuan untuk mencari kebenaran bersama.

Dan ketika kebencian terus diproduksi serta dikonsumsi setiap hari, masyarakat dapat terpecah tanpa pernah menyadari kapan perpecahan itu dimulai.

Pada akhirnya, pilihan tetap berada di tangan kita

Algoritma mungkin menentukan apa yang ditawarkan kepada kita. Tetapi kita tetap memiliki pilihan untuk menerima atau menolaknya.

Kita bisa memilih untuk membaca lebih lengkap. Kita bisa memilih untuk mendengar pendapat yang berbeda. Kita bisa memilih untuk tidak membagikan informasi yang belum jelas.

Kita bisa memilih untuk tidak ikut menghina. Kita bisa memilih untuk tidak membenci seseorang hanya karena sebuah unggahan.

Kita bisa memilih untuk tetap menjadi manusia yang berpikir, bahkan ketika semua orang di sekitar kita sedang bereaksi.

Sebab propaganda paling berbahaya tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang ia bekerja dalam diam.

Menanam curiga. Memelihara kebencian.
Membentuk “kita” dan “mereka”. Lalu membuat kita bertengkar dengan sesama.

Pada saat kita sadar bahwa kita telah terpecah, mungkin orang yang pertama kali menyalakan api itu bahkan sudah tidak terlihat lagi. Yang tersisa hanyalah kita yang saling berhadapan, saling mencurigai, dan saling menyalahkan.

Karena itu, sebelum membagikan sebuah informasi, mari berhenti sejenak. Jangan biarkan layar menentukan siapa yang harus kita benci.

Jangan biarkan algoritma menggantikan hati nurani. Jangan biarkan perbedaan pendapat menghapus persaudaraan kita sebagai sesama manusia.

Sebab di tengah kebisingan linimasa, kemampuan untuk tetap tenang, berpikir kritis dan memilih tidak membenci, mungkin itu adalah bentuk perlawanan paling sederhana terhadap propaganda di antara kita di dunia ini. (*)

Penulis adalah Praktisi Pers di Tanah Papua

Tags: masyarakatMedsospropaganda
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Papuan Leaders Bootcamp

WRI Indonesia gelar pelatihan masyarakat adat dukung perekonomian

October 20, 2026
Ilustrasi

Greenpeace desak perlindungan keanekaragaman hayati dan hak masyarakat adat

October 19, 2026

Gubernur Nawipa: Gereja berperan penting dalam pembangunan masyarakat Papua

October 17, 2026

Masyarakat adat tolak Sungai Sembra dijadikan sumber air kemasan

October 15, 2026

Pemprov Papua Tengah berharap GAMKI menghadirkan program bermanfaat bagi masyarakat

October 9, 2026

Gubernur Papua: Pembangunan harus melindungi hak masyarakat adat dan alam

October 7, 2026

Discussion about this post

Survey Pembaca
Reader's Survey

English Story

UN chief’s visit must be an opportunity to address West Papua’s decolonization, KNPB says
20 October 2026
UN chief’s visit must be an opportunity to address West Papua’s decolonization, KNPB says

Sentani, Jubi – The West Papua National Committee (KNPB) in West Baliem Lanny Jaya regency, Highland Papua province, says United [...]

Indigenous knowledge warns of wildlife loss as oil palm plantations replace Papua’s forest
20 October 2026
Indigenous knowledge warns of wildlife loss as oil palm plantations replace Papua’s forest

Jayapura, Jubi – Environmental advocates and Indigenous communities in Papua say the expansion of oil palm plantation threatens wildlife habitats, [...]

Southern Papua’s last conservation stronghold threatened by fires and development
19 October 2026
Southern Papua’s last conservation stronghold threatened by fires and  development

Jayapura, Jubi – The Indonesian Forum for the Environment (WALHI) Papua says forest and land fires in South Papua province [...]

GIDI calls for military operations in Korowai to stop amid displacement fears
19 October 2026
GIDI calls for military operations in Korowai to stop amid displacement fears

Jayapura, Jubi – The Legal and Human Rights Department of the Evangelical Christian Church in Indonesia (GIDI) has called on [...]

KINGMI Church calls for urgent aid for civilians reportedly displaced in Papua Highlands
17 October 2026
KINGMI Church calls for urgent aid for civilians reportedly displaced in Papua  Highlands

Jayapura, Jubi – The Evangelical Christian Church (KINGMI) in the Land of Papua has called on the Indonesian Government and [...]

  • Latest
  • Trending
  • Comments
Papuan Leaders Bootcamp

WRI Indonesia gelar pelatihan masyarakat adat dukung perekonomian

October 20, 2026
Janji Prabowo selesaikan masalah Papua

Koalisi tagih janji Prabowo selesaikan masalah politik Papua secara damai

October 20, 2026
Wagub Papua apresiasi Papuan Leaders Bootcamp

Wagub Papua apresiasi Papuan Leaders Bootcamp II

October 20, 2026
PM Republik Vanuatu

PM Vanuatu: Pemerintah tetap stabil di tengah klaim tantangan kepemimpinan

October 20, 2026
Uni Eropa

Uni Eropa siap menandatangani kesepakatan dengan Kaledonia Baru mengenai nikel

October 20, 2026
Pulau Lou PNG

Pulau Lou di PNG menanti bantuan setelah setengah hutannya terbakar

October 20, 2026
PERBATI

PERBATI Manokwari kirim 14 atlet ikut kejuaraan tinju di NTT

October 20, 2026
Kapolda Papua Barat dilaporkan ke Kompolnas dan praperadilan

Kuasa hukum tersangka berencana laporkan Kapolda Papua Barat ke Kompolnas

October 19, 2026
Berung Kasuari

Sawit dibuka, pohon ditebang, hutan hilang, burung terbang menjauh

October 19, 2026
Uni Eropa

Uni Eropa siap menandatangani kesepakatan dengan Kaledonia Baru mengenai nikel

October 20, 2026
Pulau Lou PNG

Pulau Lou di PNG menanti bantuan setelah setengah hutannya terbakar

October 20, 2026
PERBATI

PERBATI Manokwari kirim 14 atlet ikut kejuaraan tinju di NTT

October 20, 2026
Raja Ampat, Tambang, Nikel

Tambang masih mengancam Raja Ampat

October 20, 2026
IM3

IM3 Platinum Hadirkan Bundling Platinum Plus dengan iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max

October 19, 2026
Papuan Leaders Bootcamp

WRI Indonesia gelar pelatihan masyarakat adat dukung perekonomian

0
Janji Prabowo selesaikan masalah Papua

Koalisi tagih janji Prabowo selesaikan masalah politik Papua secara damai

0
Wagub Papua apresiasi Papuan Leaders Bootcamp

Wagub Papua apresiasi Papuan Leaders Bootcamp II

0
PM Republik Vanuatu

PM Vanuatu: Pemerintah tetap stabil di tengah klaim tantangan kepemimpinan

0
Uni Eropa

Uni Eropa siap menandatangani kesepakatan dengan Kaledonia Baru mengenai nikel

0
Pulau Lou PNG

Pulau Lou di PNG menanti bantuan setelah setengah hutannya terbakar

0
PERBATI

PERBATI Manokwari kirim 14 atlet ikut kejuaraan tinju di NTT

0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara