Jayapura, Jubi – Provinsi Madang, Papua New Guinea (PNG) menggelar perayaan Kemerdekaan di Lapangan Laiwaden, dengan penekanan pada Persatuan saat PNG memasuki tahun pertama Jubileum Emas berikutnya.
Terlepas dari tantangan yang semakin meningkat di bidang ekonomi, politik, dan aspek sosial lainnya, upacara pembukaan menyerukan agar rakyat tetap berkomitmen dalam memajukan negara.
Gubernur Ramsey Pariwa memberikan penghormatan kepada Kepala Suku Agung Sir Michael Somare atas pandangannya yang jauh ke depan dalam kelahiran kedaulatan kita pada 16 September 1975.
Ia menyatakan bahwa negara ini, lebih dari sebelumnya, membutuhkan rakyatnya untuk bersatu terlepas dari beragamnya budaya dan tradisi.
Katanya, rakyat tetap menjadi sumber daya terkuat negara yang dinyatakan oleh Sir Michael sendiri, sebagaimana dilansir Jubi dari laman tvwan.com.pg Kamis (17/9/2026).
Mendukung seruan untuk persatuan, Kepala Kepolisian Madang, Inspektur Robert Baim, menyerukan kepada warga Madang di mana pun untuk bekerja sama demi Madang yang lebih baik.
Festival kemerdekaan dimulai dengan pertunjukan budaya dari seluruh penjuru negeri. Kegiatan lain saat ini sedang berlangsung, seperti balap perahu, tiang licin atau panjat pinang, pojok anak-anak, dan permainan menyenangkan lainnya.
Stan-stan dari perusahaan dan individu menarik perhatian masyarakat, sementara pertunjukan langsung dari seniman lokal legendaris Madang membuat suasana tetap meriah.
Sementara itu para pemuda Katolik dari komunitas pedalaman Keuskupan Katolik Vanimo, Provinsi Sepik Barat memperingati peristiwa kemerdekaan PNG ke 51 tahun dengan cara yang berbeda namun bermakna, melalui iman, persaudaraan, budaya, dan refleksi.
Para pemuda dari Wasengla, Maka, Utai, Fas, Kembi, Moi-Kasai dan Yapsi berkumpul di Paroki Katolik Utai mulai 14 hingga 18 September untuk Reli Pemuda Denary Pedalaman 2026, demikian dikutip dari laman www.nbc.com.pg
Alih-alih menjadikan perayaan Kemerdekaan hanya tentang hiburan, kaum muda menggunakan minggu ini untuk memperkuat iman mereka, membangun persahabatan, dan membahas isu-isu yang memengaruhi kaum muda dan komunitas mereka.
Program lima hari ini menggabungkan doa, Misa Kudus, katekese, diskusi kelompok, olahraga, kegiatan budaya, musik, drama, dan persekutuan pemuda.
Fokus utama konferensi pagi adalah pada isu-isu praktis yang dihadapi kaum muda, termasuk kehidupan keluarga, pernikahan, narkoba dan alkohol, perkelahian dan kekerasan, kepemimpinan, martabat pribadi, dan peran kaum muda di dalam Gereja.
Program ini juga menyediakan ruang bagi kaum muda untuk mengekspresikan diri melalui pertunjukan budaya tradisional, permainan ala Olimpiade, lagu-lagu aksi Injil, drama, himne yang digubah, dan presentasi lainnya.
Kegiatan spiritual termasuk Doa Rosario, Pengakuan Dosa, Jam Suci, doa Ekaristi, dan pemberkatan kaum muda merupakan bagian penting dari pertemuan tersebut.
Aksi unjuk rasa ini dipandu oleh perkataan Yesus dalam Markus 8:36: “Sebab apakah gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan jiwanya?”
Pesan ini memiliki makna khusus selama perayaan Kemerdekaan, mengingatkan kaum muda bahwa masa depan Papua Nugini bukan hanya tentang kemajuan dan pembangunan ekonomi, tetapi juga tentang nilai-nilai, karakter, dan pilihan generasi mudanya.
Bagi para pemuda di pedalaman, pekan kemerdekaan menjadi kesempatan untuk merayakan jati diri mereka, asal mereka, dan jenis Papua Nugini seperti apa yang ingin mereka bangun.
Melalui pertemuan ini, kaum muda didorong untuk membawa iman mereka melampaui paroki, ke dalam keluarga, sekolah, desa, dan komunitas mereka, di mana mereka dapat menjadi teladan positif dan pemimpin masa depan.
Saat PNG merayakan 51 tahun kemerdekaan, para pemuda di Utai menunjukkan bahwa kemerdekaan juga dapat dirayakan melalui tujuan, persatuan, budaya, dan keyakinan.
Perayaan mereka bukan hanya tentang mengenang 51 tahun kemerdekaan, tetapi juga tentang mempersiapkan diri untuk tahun-tahun mendatang. (*)




Discussion about this post