Jayapura, Jubi – Negara Papua Nugini (PNG) akan merayakan Ulang Tahun Kemerdekaan yang ke 51, Rabu (16/9/2026), dan persiapan kemerdekaan telah berlangsung. Aparat kepolisian di Provinsi Madang, telah bersiap diri mengamankan semua atraksi dan upacara saat perayaan.
“Kami tidak akan mentolerir siapa pun yang mencoba mengganggu perayaan,” kata Superintendent Baim. “Anda akan ditindak tegas sesuai hukum,” kata Superintendent Baim Komando Kepolisian Provinsi Madang, PNG sebagaimana dilansir Jubi dari laman tvwan.com.pg, Selasa (15/9/2026).
Ia telah mengerahkan seluruh kekuatannya untuk memastikan kelancaran perayaan kemerdekaan ke-51 di enam distrik.
Komando tersebut menginformasikan kepada masyarakat bahwa pengaturan kepolisian telah diaktifkan untuk memastikan kegiatan dilakukan dengan aman, damai, dan terkendali.
PPC Baim mengatakan masyarakat dapat mengharapkan peningkatan kehadiran polisi di area-area penting, termasuk tempat-tempat acara utama, pusat kota, jalur transportasi, dan lokasi-lokasi yang diperkirakan akan ramai.
Ia menekankan bahwa mereka yang berniat menimbulkan masalah akan menghadapi konsekuensi hukum.
Superintendent Baim mengingatkan warga Madang bahwa peringatan kemerdekaan lebih dari sekadar perayaan kedaulatan, tetapi juga waktu untuk merenungkan dan memperbarui komitmen kita terhadap pelayanan dan pembangunan.
Ia mendorong masyarakat untuk memilih perilaku yang baik, menghentikan praktik-praktik buruk, dan lebih konstruktif.
“Kemerdekaan adalah waktu untuk perubahan pola pikir—mengubah sikap dari buruk menjadi baik. Pikirkan hal-hal kecil apa yang dapat kita lakukan untuk pembangunan provinsi dan negara,” kata PPC Baim.
“Jika Anda tidak ingin menjadi bagian dari pembangunan Madang, lebih baik Anda berkemas dan pulang,” katanya. “Ada hal-hal yang lebih baik yang dapat Anda lakukan di rumah daripada hanya tinggal di daerah perkotaan tanpa pola pikir yang baik,” tambahnya.
Sementara itu, PPC Madang mendesak pemilik perahu kecil dan operator kapal untuk memperhatikan peringatan cuaca dari Badan Meteorologi Nasional selama periode cuaca buruk.
Ia mengatakan, hal teraman yang dapat dilakukan selama badai atau cuaca berbahaya adalah tetap berada di darat sampai kondisi membaik.
“Berhentilah bepergian dalam kondisi cuaca buruk. Polisi tidak dapat masuk ke cuaca buruk untuk menyelamatkan Anda. Kami adalah manusia seperti Anda, dengan sumber daya yang sangat terbatas—jadi perhatikan hal itu,” kata PPC Baim.
Wilayah ini pertama kali dikunjungi oleh penjelajah Portugis dan Spanyol pada paruh pertama abad keenam belas.
Mereka tidak mendirikan koloni penting apa pun, tetapi memberi nama pulau itu dan pelabuhan-pelabuhan di pulau itu menjadi pos persinggahan penting untuk ekspedisi perikanan.
Pada 1884, Inggris mendirikan protektorat Nugini Britania Raya atas bagian tenggara Nugini, sementara Jerman mencaplok bagian timur laut pulau tersebut.
Selanjutnya,1906, kendali atas Nugini Britania Raya dialihkan ke Persemakmuran Australia yang baru merdeka dan berganti nama menjadi Wilayah Papua.
Pada awal Perang Dunia Pertama, pasukan Australia menduduki Nugini Jerman. Setelah kekalahan Jerman, Liga Bangsa-Bangsa memberikan mandat kepada Australia untuk mengelola Nugini Jerman, meskipun secara terpisah dari Wilayah Papua.
Kedua wilayah tersebut baru bergabung menjadi Wilayah Papua dan Nugini pada Juli 1949 setelah seluruh Nugini diduduki oleh Jepang selama Perang Dunia Kedua.
Pada 16 September 1975, Papua Nugini memperoleh kemerdekaan penuh dari Australia, dengan Sir Michael Somare menjadi perdana menteri.
Pangeran Charles yang saat itu berusia 26 tahun datang ke Port Moresby untuk mewakili ibunya, Ratu Elizabeth II, dalam upacara kemerdekaan Papua Nugini dari Australia.Setelah 51 tahun merdeka, hingga kini Papua Nugini tetap menjadi bagian dari negara negara Persemakmuran Inggris. (*)




Discussion about this post