Jayapura, Jubi – Bentang alam pegunungan Papua Nugini yang terjal dan kondisi tropis yang menantang sekali lagi terbukti menjadi tempat pelatihan yang berharga bagi penerbangan militer.
Pasalnya bagi personel Angkatan Pertahanan Australia (ADF) ini sangat penting dalam melakukan pelatihan helikopter ketinggian tinggi di bawah Latihan Helicon Luk 2026.
Tiga helikopter UH-60M Black Hawk Angkatan Pertahanan Australia saat ini sedang berlatih di PNG sebagai bagian dari latihan jangka panjang, yang sekarang dilakukan di bawah Aliansi PNG-Australia, sebagaimana dilansir Jubi dari laman tvwan.com.pg, Sabtu (12/9/2026)
Latihan ini membawa pilot dan awak pesawat Australia ke PNG untuk mempertajam keterampilan mereka di lingkungan yang menawarkan kondisi yang jarang ditemukan di Australia.
Dengan pegunungan yang curam, ketinggian yang tinggi, suhu yang hangat, dan iklim yang lembap, PNG menghadirkan tantangan operasional unik yang membutuhkan keterampilan terbang khusus.
Latihan tahun ini sangat signifikan karena menandai pertama kalinya helikopter UH-60M Black Hawk berpartisipasi dalam Latihan Helicon Luk. Ini juga merupakan penempatan internasional pertama pesawat tersebut sejak mulai beroperasi dengan Angkatan Pertahanan Australia.
Latihan Helicon Luk telah berlangsung selama lebih dari satu dekade dan tetap menjadi kegiatan pelatihan helikopter ketinggian tinggi utama ADF. Latihan sebelumnya berfokus pada helikopter CH-47F Chinook.
Komandan Angkatan Pertahanan Papua Nugini, Letnan Kolonel Christopher Porada, mengatakan lingkungan PNG memainkan peran penting dalam mempersiapkan awak pesawat untuk kondisi operasional yang menuntut.
“Helicon Luk tahun ini adalah awal perjalanan kami dengan UH-60M Black Hawk,” kata Letnan Kolonel Porada.
“Penting bagi kami untuk mempelajari cara mengerahkan pesawat dari Australia ke Papua Nugini, membangun operasi kami, dan mengkonfirmasi kemampuan kami untuk terbang dengan aman di ketinggian.”
Kombinasi medan pegunungan dan cuaca tropis menciptakan kondisi realistis yang membantu pilot dan awak pesawat mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk mengoperasikan helikopter dengan aman di lingkungan yang sulit.
Selain operasi penerbangan, latihan ini juga memperkuat kerja sama pertahanan antara Papua Nugini dan Australia.
Selama kegiatan yang berlangsung selama seminggu, personel Angkatan Pertahanan Papua Nugini bergabung dengan rekan-rekan mereka dari Australia dalam berbagai kegiatan pelatihan berbasis darat, termasuk pelatihan medis, pengarahan pilot, diskusi pemeliharaan, dan tur berpemandu helikopter UH-60M Black Hawk.
Letnan Kolonel Porada mengatakan latihan ini meletakkan dasar untuk peluang pelatihan yang lebih maju di masa depan.
“Yang tak kalah penting, pelatihan ini membantu menciptakan kondisi untuk kegiatan yang lebih maju dan terintegrasi dalam penempatan Latihan Helicon Luk di masa mendatang,” katanya.
Latihan di masa mendatang diharapkan melibatkan operasi yang lebih kompleks, termasuk misi multi-pesawat, kegiatan pengangkutan pasukan, dan skenario operasional realistis yang dilakukan bersama personel PNGDF.
Penggunaan Papua Nugini secara berkelanjutan sebagai lokasi pelatihan menyoroti nilai negara tersebut sebagai lingkungan pelatihan alami untuk penerbangan militer, sekaligus memperkuat kemitraan pertahanan yang berkembang antara kedua negara.
Latihan Helicon Luk juga menunjukkan manfaat Aliansi PNG-Australia dalam menciptakan peluang untuk kerja sama yang lebih besar, pengembangan kemampuan, dan interoperabilitas antara Angkatan Pertahanan Papua Nugini dan Angkatan Pertahanan Australia.
Bagi ADF, geografi unik PNG memberikan kesempatan untuk menguji pesawat dan awaknya dalam kondisi yang sangat mirip dengan kondisi yang dihadapi selama operasi di dunia nyata.
Bagi PNG, latihan ini semakin memperkuat hubungan militer dengan Australia sekaligus meningkatkan pertukaran profesional antara personel pertahanan dari kedua negara.
Mengutip en wikipedia.org,menyebutkan bahwa Sikorsky UH-60 Black Hawk adalah helikopter utilitas militer angkut menengah bermesin ganda dengan empat bilah baling-baling yang diproduksi oleh Sikorsky Aircraft.
Sikorsky mengajukan desain untuk kompetisi Sistem Pesawat Angkut Taktis Utilitas (UTTAS) Angkatan Darat Amerika Serikat pada tahun 1972.
Angkatan Darat menunjuk prototipe tersebut sebagai YUH-60A dan memilih Black Hawk sebagai pemenang program tersebut pada tahun 1976, setelah kompetisi uji terbang dengan Boeing Vertol YUH-61. (*)
























Discussion about this post