Jayapura, Jubi – Hari ini, Rabu (16/9/2026), merupakan hari kemerdekaan negara Melanesia terbesar di Pasifik, Papua New Guinea (PNG) yang ke-51 tahun dari penjajahan Inggris dan Australia.
Kemerdekaan PNG pada 16 September 1975, dihadiri oleh Pangeran Charles mewakili Ratu Inggris Elisabeth dan PM Australia Gough Whitlam, dan Perdana Menteri (PM) Michael Somare bapak bangsa PNG.
Banyak anak masa kini tidak tahu siapa yang merancang Bendera PNG. Namanya adalah mendiang Susan Karike,seorang perempuan yang menorehkan sejarah, berasal dari Desa Meii, Provinsi Gulf
Menjelang kemerdekaan, pada 1975 pemerintahan PNG mengadakan sebuag perlombaan mendisain dan merancang bendera sebagai identitas bangsa Papua Nugini.
Perlombaan itu dimulai pada 1971, ketika Papua Nugini sedang menuju pemerintahan sendiri dan kemerdekaan, sebuah kompetisi nasional diadakan untuk merancang bendera nasional, sebagaimana dilansir Jubi dari laman www.pngfacts.com, Rabu (16/9/2026).
Sosok visioner di balik bendera merah, hitam, dan emas ikonik bendera Nasional Papua Nugini adalah seorang siswi berusia 15 tahun, Susan Hareho Karike (kemudian Susan Karike Huhume).
Waktu itu Papua Nugini sedang menuju pemerintahan sendiri dan kemerdekaan, sebuah kompetisi nasional diadakan untuk merancang bendera nasional.
Susan, seorang siswi di Sekolah Misi Katolik di Pulau Yule di Provinsi Tengah, mengirimkan desain yang akan menjadi simbol kuat identitas dan warisan bangsa.
Desainnya merupakan modifikasi dari proposal awal oleh seorang seniman Australia, Hal Holman.
Karike merasa warna asli biru, kuning, dan hijau tidak cukup tradisional dan tidak menyukai garis-garis vertikalnya.
Terinspirasi oleh warna-warna yang biasa digunakan oleh bangsanya dalam upacara tradisional, Susan memilih pembagian diagonal yang mencolok antara hitam dan merah.
Pada segitiga bawah berwarna hitam, ia menempatkan lima bintang Salib Selatan, sebuah konstelasi yang menonjol di langit Belahan Bumi Selatan dan menjadi penunjuk arah bagi bangsanya.
Pada segitiga atas berwarna merah, ia menggambarkan Burung Cendrawasih Raggiana berwarna emas yang sedang terbang, simbol unik dan dihormati di Papua Nugini.
Desainnya yang sederhana namun mendalam, yang konon digambar di selembar halaman yang disobek dari buku latihannya, sangat menyentuh hatinya.
Rancangan tersebut diajukan kepada Komite Pilihan Pengembangan Konstitusional pada 1 Maret 1971, dan secara resmi diadopsi sebagai bendera Papua Nugini pada 1 Juli 1971.
Bendera tersebut pertama kali dikibarkan secara resmi pada Hari Kemerdekaan, 16 September 1975.
Susan Hareho Karike lahir di Mei’i, Distrik Gulf, sekitar tahun 1955 hingga 1956. Meskipun kontribusinya yang signifikan terhadap identitas bangsanya, Susan Karike Huhume dilaporkan menerima sedikit pengakuan formal atau dukungan finansial dari pemerintah selama hidupnya dan menjalani kehidupan yang sederhana.
Ia meninggal dunia pada 11 April 2017, pada usia 61 tahun, setelah menderita stroke. Kematiannya membawa perhatian baru pada peran pentingnya dalam menciptakan salah satu simbol nasional Papua Nugini yang paling abadi.
Ia menikah dengan Nanny Huhume dan mereka memiliki empat anak dan dua belas cucu.
Warisannya tetap abadi dalam bendera yang mewakili Papua Nugini di seluruh dunia. (*)




Discussion about this post