Jayapura, Jubi – Motif bendera Bintang Kejora yang terukir di batu nisan makam mendiang tokoh politik perjuangan Papua Merdeka, Filep Karma, ditimpa atau ditutupi menggunakan cat berwarna merah dan putih oleh orang tak dikenal.
Kondisi ini dilihat langsung oleh putri bungsu mendiang, Andrefina Javiera Karma, adik perempuan mendiang, Pdt. Clasina Karma, keluarga dan kerabat yang datang ke Kompleks Pemakaman Umum (TPU) Expo, Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, Provinsi Papua, Sabtu (24/10/2026).
Pihak keluarga sudah membawa perlengkapan sederhana seperti cairan pembersih cat, kain, dan air saat datang ke makam almarhum.
Mereka telah mempersiapkan kebutuhan untuk membersihkan cat itu, setelah mendapat informasi adanya vandalisme tersebut.
“Awalnya kami dapat informasi dari teman, yang lewat di sini dan bilang cat bendera sudah berubah,” kata Fina, sambil menghapus cat-cat pada nisan makam ayahnya.
“Intinya saya tidak mau ada bendera yang bapa saya tidak pernah gunakan terus ada tertera di sini, itu saja. Jadi kami langsung bersihkan supaya saya juga sebagai anak rasa tenang, tau bahwa sudah tidak ada bendera merah-putih di sini,” katanya.

Sementara itu, adik perempuan mendiang Filep Karma, Pdt. Clasina Karma, menjelaskan bahwa pembuatan ukiran asli di nisan tersebut merupakan karya seni sekaligus identitas mendiang semasa hidupnya sebagai aktivis politik Papua.
“Kami kecewa sekali, kami sangat marah dan tidak setuju karena ada situasi yang kemarin kami tahu bahwa di sini, di makamnya ini, kami taruh [simbol] bendera Bintang Kejora karena dia [mendiang Filep Karma] adalah West Papuan Independent activist, sehingga jelas bahwa bendera dia adalah bendera Bintang Kejora, bukan bendera merah putih,” ujarnya.
Pihak keluarga mengaku tidak mengetahui pelaku maupun motif dari tindakan tersebut. Namun, semua pihak diminta untuk menghargai dan menghormati setiap properti pribadi dan apalagi pada makam orang yang sudah meninggal.
“Rupanya ini dicat, dicat menimpa [motif] bendera Bintang Kejora itu dengan merah putih. Ini adalah vandalisme. Ini adalah upaya merusak apa yang menjadi karya pribadi kami. Makam ini adalah sesuatu yang pribadi bagi kami. Kenapa dibuat seperti ini, ini perbuatan yang sangat tidak bertanggung jawab,” ucapnya.
Mendiang Filep Karma yang meninggal dunia karena tenggelam saat menyelam, dikenal sebagai salah satu tokoh garis keras Papua merdeka yang konsisten mengampanyekan perjuangan damai tanpa senjata demi menuntut hak-hak politik masyarakat Papua Barat.
Ciri khasnya yang paling membekas diingatan publik adalah almarhum selalu menyematkan pin bendera Bintang Kejora di dadanya dalam aktivitas sehari-hari.
Pihak keluarga Karma menghabiskan waktu sekitar dua jam membersihkan nisan makam mendiang Filep Karma, yang berada di pinggir Jalan Raya Sentani-Expo.
“Yang penting sudah bersih sekarang, saya juga sebagai anak bisa tenang. Tinggal nanti baru kembalikan Bintang Kejora lagi di nisan, karena itu yang selalu bapa pakai,” ujar Fina sesaat sebelum meninggalkan makam ayahnya. (*)























Discussion about this post