• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Polhukam

PSN Tebu dan Sawah dinilai tidak akan sejahterakan orang asli Papua

October 11, 2024
in Polhukam
Reading Time: 4 mins read
0
Penulis: Theo Kelen - Editor: Aryo Wisanggeni
Pelibatan TNI dalam PSN Ketahanan Pangan

Sejumlah prajurit TNI berada di lokasi Proyek Strategis Nasional (PSN) Sawah di Kampung Wanam, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, pada Agustus 2024. Dok. Yayasan Pusaka Bentala Rakyat

0
SHARES
22
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jayapura, Jubi – Proyek Strategi Nasional atau PSN Tebu dan PSN Sawah yang dijalankan pemerintah pusat di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, dinilai tidak akan meningkatkan kesejahteraan Orang Asli Papua. Pemerintah diminta untuk menghentikan kedua PSN yang dijalankan dengan dalil ketahanan pangan tersebut.

Hal itu disampaikan anggota Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Agung Merauke, Pastor Pius Cornelis Manu. “Kehadiran proyek itu malah membuat orang Papua jadi susah. Walaupun [pemerintah] bilang PSN akan membuat masyarakat sejahtera,” kata Manu kepada Jubi melalui panggilan telepon pada Kamis (10/10/2024).

Manu mengatakan masyarakat adat tidak akan sejahtera lantaran proyek itu langsung digarap kementerian yang menggandeng perusahaan besar. Menurut Manu, perusahaan hanya akan mencari keuntungan dan mengabaikan hak masyarakat adat, secara khusus hak para pemilik hak ulayat atas tanah yang menjadi lokasi kedua PSN tersebut.

“Pengelolanya itu siapa? Dananya itu [dari] siapa? Perusahaan tidak mungkin melakukan pemberdayaan masyarakat. [Mereka] datang untuk cari makan, cari untung. Maka mereka yang akan jadi kaya,” ujarnya.

Manu juga mengatakan PSN Tebu dan Sawah hadir di Merauke tanpa melalui sosialisasi dengan masyarakat adat. Manu mengatakan cara seperti itu akan menambah konflik antara masyarakat dan perusahaan penggarap proyek tersebut.

“Tidak ada sosialisasi sama sekali atau informasi sebelumnya. Yang membuat masyarakat terus ngotot untuk cari tahu, bagaimana itu proyek itu bisa masuk [ke Merauke]. Itu karena memang masyarakat tidak tahu,” katanya.

Manu mengatakan masyarakat adat akan terus menolak kehadiran PSN Tebu dan Sawah tersebut. Manu mengatakan kehadiran proyek itu akan menghancurkan lingkungan, kehidupan, budaya, adat-istiadat masyarakat adat di Merauke.

BERITATERKAIT

Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan laju deforestasi di Tanah Papua

Papua Nugini didesak bersiap menghadapi El Niño dan potensi krisis ketahanan pangan

Papuan Women Call for Resistance Against Oppression and National Strategic Projects (PSN)

Presiden didesak perintahkan TNI tidak terlibat konflik tanah adat di Merauke

“Penolakan itu sudah mutlak. Dengan cara apapun masyarakat harus menolak. Sebab tanah yang dijadikan sebagai lahan proyek itu bukan kecil, itu luas sekali. [Itu] tempat yang digarap itu justru tempat cari makan masyarakat, tanah adat dan tempat cari makan masyarakat, juga tempat untuk marga berkembang biak. Orang kampung itu, mereka punya bivak di hutan, di tempat mereka berkebun, mereka cari makan. [Di] tempat itu juga terjadi relasi suami-istri,” ujarnya.

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

Sekretaris Jenderal Dewan Adat Papua (DAP) versi Konferensi Besar Masyarakat Adat Papua IV, Leonard Imbiri mengatakan DAP berpandangan bahwa PSN Tebu maupun PSN Sawah tidak membawa manfaat bagi masyarakat adat di Merauke. Imbiri mengatakan kedua PSN itu hadir dengan cara menggusur masyarakat adat dari tanah mereka, dan membuat mereka semakin menderita.

“Sampai hari ini tidak ada kepastian bahwa masyarakat adat dapat memperoleh manfaat dari proyek strategis nasional itu,” kata Imbiri kepada Jubi, pada Rabu (9/10/2024).

Imbiri juga mengkritik kebijakan Panglima TNI membentuk lima batalion infanteri penyangga daerah rawan yang bertugas mendukung program ketahanan pangan di Tanah Papua. Ia khawatir dengan kehadiran TNI di lokasi proyek strategis nasional tersebut. Imbiri mengatakan seharusnya proyek strategis nasional itu harus melalui sosialisasi terlebih dahulu.

“Kalau sosialisasi secara benar dilakukan pasti kita semua akan tahu. Dan kalau kita tahu, kita bisa memberi penilaian secara tepat. Tapi bahwa hari ini masyarakat adat itu kehilangan tanah mereka tanpa kejelasan masa depan yang baik bagi mereka. Apalagi dengan keterlibatan aparat [di proyek itu],” katanya.

Infografis Proyek Strategis Nasional Tebu dan Sawah, Ketahanan Pangan, PSN

Jangan paksa 

Dosen Antropologi Universitas Cenderawasih, Dr Hanro Yonathan Lekitoo mengatakan pemerintah tidak boleh memaksakan proyek strategis nasional di Papua. Menurut Lekitoo, pemaksaan itu hanya akan menghancurkan hutan, tanah, dan Orang Asli Papua.

“Kenapa kita paksakan [proyek tebu dan] padi di tempat ini? Yang hanya melindas dia, menghabiskan dia, menggeserkan dia, dan tentunya menguntungkan orang lain,” kata Lekitoo kepada Jubi, pada Kamis.

Lekitoo mengatakan pemerintah bernafsu untuk mengejar ketahanan pangan nasional tanpa memikirkan kearifan pangan lokal masyarakat adat. Menurut Lekitoo, pemerintah seharusnya mengembangkan pangan lokal sebagai ketahanan pangan nasional.

“Jadi bagaimana [pemerintah memikirkan] diversifikasi pangan. Diversifikasi pangan artinya bahwa kalau di Jawa tanam padi, di Sulawesi tanam padi, di Sumatera tanam padi, [tetapi] di Papua mereka punya sagu. Kita [seharusnya] menghargai Papua dengan sagu itu, sehingga itu menjadi bagian dari ketahanan pangan nasional di tingkat daerah. Kita tidak bisa paksakan padi di Papua, karena orang Papua bukan penanam dan pemakan padi. Mereka itu kan punya mata pikiran meramu, mereka bukan petani. Apalagi petani intensif macam model sama,” ujarnya.

Lekitoo mengatakan pemaksaan proyek itu itu menunjukkan negara sama sekali tidak memahami dan mengerti membangun orang Papua. Lekitoo mengatakan kedua PSN itu akan menghancurkan sistem pengetahuan, budaya, teknologi, ekonomi, bahasa, hingga hubungan kekerabatan orang asli Papua.

“Hutan itu lumbung kehidupan, kepercayaan, sistem teknologi, bahasa hingga [hubungan] kekerabatan. Itu semua ada di hutan. Kalau hutan dibabat habis, maka [negara/perusahaan] sedang menghabiskan satu kelompok komunitas manusia di wilayah Marind. Itu ancaman besar terhadap masyarakat adat, jadi memang harus dilawan. Masyarakat adat kamu [negara] yang harus lindungi,” katanya.

Pastor Pius Cornelis Manu mengatakan masyarakat adat tidak anti terhadap pembangunan. Namun, Manu berpendapat pembangunan itu seharusnya tidak dilakukan dengan cara merampas tanah adat.

“Kami bukan anti-pembangunan. Kami harapkan pembangunan tetap jalan. Tapi apakah dengan merampas tanah kami untuk membangun kami, itulah satu-satunya jalan? Tidak ada jalan lain kah? Masyarakat Merauke, orang-orang Marind yang lain di sekitar kota Merauke, mereka kan sudah melepaskan tanah ribuan hektare. Kenapa lahan-lahan itu tidak bisa dimaksimalkan secara intensif? Sebenarnya negara punya banyak strategi untuk bisa menyejahterakan rakyat, tidak harus menghancurkan lingkungan dan masyarakat adat,” tanya Manu.

Manu mengatakan  pembangunan dengan cara pemaksaan seperti kedua PSN itu hanya akan menambah catatan kesalahan negara terhadap orang Papua. Manu mengatakan masyarakat adat tetap akan menolak PSN itu.

“Apa yang kami suarakan, mungkin sementara ini belum terdampak. Apa yang kami suarakan, mungkin sementara ini orang melihat tidak berguna. Tetapi dunia ini bukan hari ini saja. Suara kami pasti akan diagendakan oleh banyak pihak. Suara kami pasti banyak didengar juga oleh orang lain, bahwa masyarakat di tempat itu pernah menolak. Mereka punya tanah diambil paksa. Penolakan itu menunjukkan bahwa apa yang dibuat oleh negara banyak kali tidak sesuai [kebutuhan warganya]. Dan Papua tetap menjadi daerah konflik karena pemaksaan itu terjadi dalam banyak hal,” ujarnya.

Leonard Imbiri mengatakan negara harus mendengar aspirasi masyarakat adat. Imbiri meminta agar pemerintah provinsi/kabupaten perlu memfasilitasi pertemuan dengan para pemangku kepentingan untuk membahas PSN tersebut.

“Haknya [masyarakat adat itu] untuk didengar. [Aspirasi] masyarakat adat lewat beberapa perwakilannya baik yang disampaikan di DPR Kabupaten Merauke, DPR Papua Selatan, dan Majelis Rakyat Papua. Suara-suara rakyat, itu harus didengar. Negara yang tidak melakukan atau mendengar masyarakat itu negara bebal, negara otoriter,” katanya. (*)

Tags: DeforestasiDeforestasi di Tanah PapuaHak UlayatKetahanan PanganMasyarakat Adatmasyarakat hukum adatProyek Strategis NasionalPSNPSN SawahPSN Tebu
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Peneliti Konflik Papua

Peneliti rekomendasikan situasi di Tanah Papua sebagai konflik bersenjata non internasional

June 7, 2026
Peneliti Konflik Papua

Peneliti: Konflik bersenjata di Tanah Papua non internasional

June 7, 2026

Negara tak pernah menjelaskan status konflik bersenjata di Tanah Papua

June 6, 2026

Yanni usulkan BLT Otsus dan penambahan DAU untuk Tanah Papua

June 4, 2026

KNPB: Situasi kemanusiaan di Tanah Papua makin memburuk

May 30, 2026

Perempuan Papua serukan perlawanan terhadap penindasan dan PSN

May 29, 2026

Discussion about this post

Survey Pembaca
Reader's Survey
  • Latest
  • Trending
  • Comments
Peneliti Konflik Papua

Peneliti rekomendasikan situasi di Tanah Papua sebagai konflik bersenjata non internasional

June 7, 2026
Peneliti Konflik Papua

Peneliti: Konflik bersenjata di Tanah Papua non internasional

June 7, 2026
Raperdasi OAP

Penyusunan raperdasi pelaku usaha OAP di Papua Barat Daya dinilai hanya formalitas

June 6, 2026
Mama Yasinta

Solidaritas Organisasi Papua Selatan minta Presiden pulangkan Mama Yasinta Moywend 

June 6, 2026
Pengungsi Nduga

Pengungsi Nduga butuh pelayanan kesehatan

June 6, 2026
Konflik bersenjata di Papua

Negara tak pernah menjelaskan status konflik bersenjata di Tanah Papua

June 6, 2026
Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan laju deforestasi di Tanah Papua

June 6, 2026
Petisi

Aktivis dan masyarakat adat tandatangani petisi penolakan pembangunan bendungan Warsamson

June 6, 2026
RSUD Yowari

Keluarga pasien berharap Pemkab Jayapura evaluasi menyeluruh RSUD Yowari

March 17, 2026
Mahasiswa tolak DOB

Mahasiswa Yalimo se-Indonesia tolak pembentukan DOB Benawa

March 13, 2026
Festival

Rayakan budaya, Festival Pasifika Auckland tarik 25 ribu pengunjung

March 17, 2026
Bom

Kantor pusat Komite Nasional Papua Barat diteror bom

March 17, 2026
wondama

Oknum Polisi di Teluk Wondama tabrak warga hingga tewas, Kapolres: Kami minta maaf

March 17, 2026
Kesehatan

Kementerian Kesehatan Vanuatu kirim pasokan darurat ke Pulau Ambae

March 17, 2026
Peneliti Konflik Papua

Peneliti rekomendasikan situasi di Tanah Papua sebagai konflik bersenjata non internasional

0
Peneliti Konflik Papua

Peneliti: Konflik bersenjata di Tanah Papua non internasional

0
Raperdasi OAP

Penyusunan raperdasi pelaku usaha OAP di Papua Barat Daya dinilai hanya formalitas

0
Mama Yasinta

Solidaritas Organisasi Papua Selatan minta Presiden pulangkan Mama Yasinta Moywend 

0
Pengungsi Nduga

Pengungsi Nduga butuh pelayanan kesehatan

0
Konflik bersenjata di Papua

Negara tak pernah menjelaskan status konflik bersenjata di Tanah Papua

0
Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan laju deforestasi di Tanah Papua

0

English Stories

Papua Governor
Pacnews

Papua Governor Calls for Sports Revival Ahead of 2028 National Games

June 6, 2026
Regional Office
Pacnews

The Regional Office of the Directorate General of State Assets (DJKN) Promotes Auction and Regional Asset Valuation Services in South Papua

June 6, 2026
KONI Papua
Pacnews

The National Sports Committee of Indonesia (KONI) Chief Urges Papua to Reclaim Its Status as Indonesia’s Sporting Talent Hub

June 5, 2026
South Papua Senior
Pacnews

South Papua Senior Leadership Positions (JPT) Candidates Undergo Essay and Interview Assessment

June 5, 2026
Members of the Tuarek Natkime Foundation and the Tua Rek Nakima
Pacnews

Indigenous Community Blocks Access Road to PT Freeport Indonesia Operations

June 5, 2026

Trending

  • Petisi

    Aktivis dan masyarakat adat tandatangani petisi penolakan pembangunan bendungan Warsamson

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keluarga pasien berharap Pemkab Jayapura evaluasi menyeluruh RSUD Yowari

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mahasiswa Yalimo se-Indonesia tolak pembentukan DOB Benawa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rayakan budaya, Festival Pasifika Auckland tarik 25 ribu pengunjung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kantor pusat Komite Nasional Papua Barat diteror bom

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara