Jayapura, Jubi – Masyarakat adat Bougainville, Papua Nugini melancarkan protes terhadap kesepakatan Presiden Bouagaiville Autonomy Government (ABG) Ismhael ToroamaToroama dengan Lloyds Metals dari India, memperingatkan bahwa pembukaan kembali Tambang Panguna tanpa persetujuan setempat berisiko memicu konflik baru. Demikian dikutip jubi.id dari laman insidepng.com, Senin (20/4/2026).
Masyarakat adat Bougainville berdemostrasi menentang rencana pemerintah otonom wilayah tersebut untuk mengizinkan sebuah perusahaan India, untuk membuka kembali tambang emas dan tembaga Panguna yang telah lama ditutup Jumat (17/4/2026).
Setidaknya ada puluhan warga terutama kaum perempuan menggelar protes di dekat lokasi tambang di Bougainville Tengah. Mereka memegang spanduk dan menentang rencana Presiden Daerah Otonom Bougainville (AROB), Ishmael Toroama, untuk mengizinkan Lloyds Metals and Energy Limited (LMEL) yang berbasis di India untuk memulai kembali operasi tambang tersebut. Tambang di Pangguna ditutup oleh pemberontakan lokal lebih dari 35 tahun yang lalu.
Perempuan adat dari Kampung Guava dan Moroni memimpin protes tersebut, yang melibatkan penempatan tanaman secara seremonial di dalam tanah.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
“Kepada perusahaan Lloyds dan BCL (Bougainville Copper Limited) dan pihak lainnya, kami menanam ini sebagai simbol budaya (sasi). Kami tidak ingin Tambang Panguna dibuka kembali. Ini adalah ritual budaya untuk menghentikan pembukaan kembali tambang tersebut,” kata Kepala Suku Genevieve Ampa’oi.
Protes ini terjadi di tengah penentangan dari para pemimpin Masyarakat adat Bougainvillea terkemuka, termasuk anggota Dewan Domana dan mantan komandan pemberontak Moses Pipiro. Para kritikus mengatakan Toroama belum berkonsultasi dengan benar dengan masyarakat adat dan sumber daya lokal di lokasi tambang Panguna.
Masyarakat adat juga menyuarakan kekhawatiran tentang apa yang mereka sebut sebagai keterlibatan veteran dari daerah lain di Bougainville tengah sebagai petugas keamanan untuk LMEL, yang mereka khawatirkan dapat menyebabkan konflik.
Sementara itu Kantor Presiden Bouagaiville Autonomy Government (ABG) Ismhael Toroama menolak memberi komentar saat dihubungi media.
Para ahli memperkirakan bahwa kekayaan mineral senilai puluhan miliar dolar masih tersimpan di lokasi tambang tersebut. Namun, rencana pemerintah ABG untuk membuka kembali tambang selama bertahun-tahun terhambat oleh penentangan masyarakat dan perdebatan mengenai pembersihan dan kompensasi terkait kerusakan lingkungan akibat operasi tambang sebelumnya (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua
























Discussion about this post