Jayapura, Jubi – Dulu, pada bulan Ramadan, kawasan Imbi di Jalan Irian, Kota Jayapura bak sebuah gelanggang olahraga. Sehabis salat subuh, jalan raya di pusat Kota Jayapura itu dipenuhi oleh anak-anak muda. Mereka bermain bola kaki menggunakan sandal dan sarung sebagai tiang gawang.
Kebiasaan itu tak berlangsung lama, hanya terlihat pada era 1990-an hingga awal 2000-an. Gaya hidup anak-anak muda sekarang berubah, pemandangan pagi bulan Ramadan di Kota Jayapura kini hanya tampak sejumlah kelompok anak muda yang bertaruh nyali dengan tarikan gas motor.
”Betul itu, dulu bulan puasa tahun-tahun 1990-an sampai awal 2000-an itu kita anak muda dari mana saja berbondong-bondong ke Taman Imbi untuk main bola setelah salat subuh. Itu main di jalan raya,” kata tokoh pemuda muslim di Batu Putih, Arifin, kepada Jubi, Sabtu (21/2/2026).
Bagi Arifin, suasana pagi bulan Ramadan masa itu penuh dengan interaksi positif. Tidak ada sekat antara mereka yang sungguh-sungguh berolahraga atau mereka yang ingin menikmati udara bersih tanpa polusi.
Letak kawasan Taman Imbi yang strategis menjadi titik temu anak-anak muda lintas kompleks. Anak-anak dari Batu Putih, Polimak, APO, hingga Kloofkamp, melebur jadi satu tanpa perbedaan.
Kini, pemandangan itu lenyap. Arifin melihat hilangnya aktivitas olahraga jalanan di bulan puasa itu sebagai dampak dari perubahan gaya hidup. Pergeseran itu juga dipicu oleh kemudahan memiliki kendaraan bermotor di zaman sekarang.
Jika dulu motor adalah barang mewah yang sulit didapat, kini siapa pun bisa membelinya dengan mudah. Kondisi ini menuntut perhatian ekstra dari orang tua agar anak-anak mereka tidak menyalahgunakan motor tersebut untuk aksi ugal-ugalan atau balapan di jalan raya yang membahayakan nyawa.

”Sekarang sudah berubah sekali. Tapi bukan sekarang saja, sudah dari berapa tahun lalu itu kebanyakan anak-anak muda pasti ribut dengan motor di bulan puasa. Anak-anak sekarang semua sudah punya motor, jadi mungkin itu penyebab tidak ada lagi yang main bola di jalan,” ujar Arifin.
Mempererat silaturahmi
Nuansa kebersamaan saat bermain bola kaki di jalan raya pada bulan puasa dulu, juga dirasakan Ari Herbert, seorang pemuda Nasrani yang menjadi pelaku sejarah bermain bola kaki di kawasan Imbi bersama teman-teman muslimnya pada era tersebut.
Menurut Ari, kebiasaan bermain bola sehabis sahur pada tahun 90-an tentu lebih baik ketimbang kebiasaan balapan sehabis sahur di masa kini.
Ada beberapa manfaat yang Ari lihat ketika bermain sepak bola sehabis sahur, seperti menyehatkan tubuh karena dengan berolahraga secara teratur pada bulan puasa tentu akan memberi pengaruh positif pada tubuh.
Selain itu, kegiatan ini mempererat tali silahturahmi. Pada masa itu, mereka belum tahu atau kenal dengan siapa lawan mereka dalam sepak bola sehabis sahur.
“Mereka datang, cari orang yang belum ada lawan, cari tempat, lalu bermain bola, dan setelah bermain bola pun mereka menjadi tahu atau kenal dengan lawannya. Bermain bola juga menjadi cara terbaik mengisi waktu dengan hal-hal positif yang sangat digemari anak-anak saat itu,” ujar Ari yang kini berprofesi sebagai guru.
Sebaliknya, ia menilai aktivitas balapan yang dilakukan sekumpulan anak-anak muda sekarang sehabis sahur adalah sesuatu yang sangat negatif. Selain membahayakan dirinya sendiri dan orang lain, hal itu juga mengganggu sesama pengguna jalan dan warga di sekitar area balapan.
”Menurut saya, peran keluarga dan lingkungan sangat sentral dalam menyadarkan anak-anak tentang kebiasaan mereka yang buruk sehabis sahur. Kebiasaan ini tentu akibat dari perubahan nilai dalam masyarakat,” katanya.
Ari menambahkan, individualisme yang semakin kental dalam kehidupan bermasyarakat mempengaruhi perubahan kebiasaan ini. Anak muda lebih mencari kesenangan pribadi ketimbang kepentingan bersama. Anak muda lebih senang mencari sensasi ketimbang etika, apalagi di bulan Ramadan.

“Ini merupakan gambaran kecil dari perubahan nilai dalam masyarakat kita dewasa ini. Menurut saya, bermain bola sehabis sahur perlu digalakkan lagi agar anak-anak tidak tergoda mengisi waktu puasa dengan hal-hal yang buruk,” ujarnya.
Perubahan zaman dan perilaku
Antropolog Universitas Cenderawasih, Dr Hanro Yonathan Lekitoo memberikan pendapatnya tentang pergeseran kebiasaan itu. Ia menilai, hal itu dipengaruhi oleh perubahan zaman dan perilaku saat ini.
Menurutnya, pergeseran itu terjadi merupakan dampak langsung dari kemudahan akses teknologi transportasi yang mengubah cara anak muda mencari pengakuan sosial.
”Setelah tahun 2000-an ke atas, teknologi transportasi motor dan mobil ini semakin mudah diakses untuk dibeli. Anak-anak ini kan tidak mengerti, anak SMP bahkan SD pun sudah pakai motor. Mereka cuma lihat ini sesuatu yang menyenangkan dan bisa dipakai untuk menunjukkan gengsi diri,” kata Hanro.
Ia menyebutkan, pada era sebelumnya, atau pada 1990-an dan awal 2000-an memiliki kendaraan adalah hal yang sulit, sehingga eksistensi diri anak muda ditunjukkan melalui kelihaian mengolah bola atau keberanian fisik.
”Persoalan kita hari ini adalah nilai-nilai sosial dan nilai kehidupan masyarakat yang baik itu tidak tersalurkan atau tertransfer hari ini. Apalagi sudah ada teknologi digital. Pertanyaannya, apakah proses pendidikan itu berjalan dalam keluarga atau hanya ada di rumah ibadah?” katanya.
Namun, sekarang panggung tersebut berpindah ke mesin sebagai simbol gengsi. Ia juga menyoroti rapuhnya transfer nilai sosial akibat perubahan zaman yang semakin modern dan hilangnya interaksi nyata dalam keluarga inti (nuclear family).
”Dalam antropologi, faktor yang paling utama itu ada di nuclear family (keluarga inti). Di ruang publik itu banyak orang pencitraan. Kalau di keluarga inti nilai-nilai itu tidak tertanam, maka di publik pun akan sulit dilaksanakan,” ujarnya.
Jika ditinjau lebih dalam, kebiasaan bermain bola kaki di jalanan pada bulan puasa di masa lalu sebenarnya memiliki risiko yang hampir serupa dengan balapan motor. Keduanya sama-sama menggunakan akses publik yang bukan peruntukannya, sehingga berpotensi mengganggu pengguna jalan lain dan membahayakan keselamatan.

Kemungkinan besar tradisi sepak bola jalanan pada bulan puasa itu tak lagi tampak karena perkembangan kota saat ini. Sekarang, sudah banyak arena futsal dan mini soccer yang tidak tersedia pada dekade 90-an.
Respons hukum
Aktivitas balapan yang dilakukan sejumlah anak muda usai salat subuh pada bulan puasa di Kota Jayapura juga memicu keresahan warga karena polusi suara knalpot yang bising.
Isak, seorang warga yang tinggal tak jauh dari kawasan Kantor Gubernur, mengaku sangat terganggu dengan kebisingan yang muncul setiap pagi dari waktu subuh hingga matahari naik.
”Itu tidak muncul setiap hari. Anak-anak muda balap-balap dengan motor. Suaranya ribut sekali. Jadi mengganggu orang istirahat juga, karena masih pagi-pagi,” kata Isak.
Demi ketertiban dan kenyamanan masyarakat, Satuan Lalu Lintas (Sat Lantas) Polresta Jayapura Kota memperketat pengamanan. Patroli rutin kini difokuskan pada titik rawan seperti kawasan Pertigaan Ringroad, Jembatan Merah, Venue Dayung, hingga Jembatan Kali Buaya.
Kanit Regident Satlantas Polresta Jayapura Kota, AKP David A Ohoimuar, menekankan bahwa pengamanan khusus dilakukan seusai salat Subuh.
“Karena berdasarkan pemantauan di lapangan, waktu tersebut sering dimanfaatkan untuk aksi balap liar. Kehadiran personel di titik-titik rawan bertujuan mencegah terjadinya pelanggaran serta menekan potensi kecelakaan lalu lintas,” kata AKP David dikutip dari siaran pers di Tribratanews.
Dalam pelaksanaan patroli tersebut, Satlantas Polresta Jayapura Kota mengerahkan kekuatan personel yang terdiri dari Kanit Regident, Kanit Patwal, Kanit Kamsel, Kaurmintu, serta 23 personel lalu lintas. Personel melaksanakan pengaturan arus lalu lintas, patroli, serta pemantauan situasi di lokasi-lokasi yang dinilai rawan terjadinya balap liar.
“Kami akan terus meningkatkan kegiatan preventif dan preemtif melalui patroli rutin, pengamanan di titik-titik rawan, serta edukasi keselamatan berlalu lintas kepada masyarakat,” imbaunya. (*)

























Discussion about this post