Wamena, Jubi – Musim kemarau yang melanda Distrik Kuyawage, Kabupaten Lanny Jaya, Provinsi Papua Pegunungan selama Juni 2026, mengakibatkan lahan pertanian dan perkebunan warga mengalami kekeringan dan gagal panen.
Situasi itu berdampak terhadap keberlangsungan hidup warga di wilayah tersebut, terutama pengungsi internal asal Kabupaten Nduga, Papua Pegungan yang berada di Kuyawage sejak 2018 silam.
Persediaan bahan makanan mereka terancam habis, sebab musim kemarau terkadang belangsung cukup lama. Situasi itu membuat warga berencana mengungsi sementara waktu ke distrik lain.
“Musim kemarau ini [kemungkinan] akan berakhir pada Desember 2026. [Dalam situasi ini] masyarakat sulit mendapatkan kebutuhan sehari-hari, air dan tanah menjadi kering,” kata salah satu pengungsi internal asal Nduga di Kuyawage, Nuwinus Gwijangge saat berada di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Sabtu (27/6/2026).
Ia mengatakan, akibat musim kamarau yang kini melanda Distrik Kuyawage menyababkan lahan perkebunan warga kering. Rumput mengering dan warga kesulitan air.
“Tidak ada tanda-tanda curah hujan, semua aktivitas masyarakat, dihentikan sementara waktu,” ujarnya.
Menurutnya, selama sepekan ke depan mungkin warga di Kuyawage masih dapat bertahan hidup, dengan persediaan bahan pangan yang ada. Namun setelahnya, mereka akan mengalami krisis pangan.
“Masyarakat mulai berencana mengungsi kampung-kampung seberang untuk sementara waktu, [karena di Kuyawage] tidak ada makanan, tanaman semua menjadi layu dan kering,” ucapnya.
Katanya, kawasan yang di Kuyawage yang diland kekeringan adalah wilayah pelayanan Gereja Bonbon, Gereja Area, Gereja Yugume, Gereja Filadelfia, dan Gereja Pribubu.
Nuwinus Gwijangge mengatakan, warga di Kuyawage berharap Pemerintah kabupaten Nduga dan Lanny Jaya membentuk tim tanggap darurat untuk menanggani bencana musiman ini, dan menyalurkan bantuan bahan makanan ke wilayah terdampak.
Sementara itu, salah satu intelektual di sana, Demin Tabuni mengatakan kekeringan yang terjadi di wilayah Kuyawage bukan hal baru. Hampir setiap tahun situasi serupa terjadi di wilayah tersebut itu.
“Dampak kekeringan, sering mengakibatkan perkebunan warga gagal panen hingga adanya korban jiwa. Bencana serupa terakhir terjadi pada 2022, dan kini terjadi lagi,” kata Demin Tabuni.
Ia berharap, Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan, Pemkab Nduga, dan Pemkab Lanny Jaya membentuk tim tanggap darurat, untuk mengatasi masalah itu. (*)























Discussion about this post