Jayapura, Jubi – Sekira 200 warga Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan menggelar nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi-Kolonialisme di zaman kita, Minggu (21/6/2026).
Nobar dan diskusi film berlangsung di lingkungan Sekolah Yayasan Pendidikan Kristen Baliem Terpadu Muliama (YPKBTM), dimulai pada pukul 16:00 Waktu Papua (WP).
Nobar dan diskusi film itu dihadiri Wakil Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua Pegunungan, Benny Mawel, Pr. Edi Doga OFM sebagai gembala atau tokoh gereja dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Jayawijaya, Yosia Lengka serta Namene Elopere dan Yefta Lengka dari kalangan aktivis.
Pemutaran film dokumenter Pesta Babi-Kolonialisme di zaman kita, diawali dengan penyampaian pandangan dan tanggapan terkait film dokumenter itu oleh MRP, tokoh gereja dan DPRK Jayawijaya sebagai pematik diskusi.
Wakil Ketua MRP Provinsi Papua Pegunungan, Benny Mawel mengatakan, program pemerintah pusat, Proyek Strategis Nasional atau PSN masuk ke Tanah Papua tanpa persetujuan lembaga kultur orang asli Papua.
“Undang-undang Otonomi Khusus Papua dan berbagai peraturan pemerintah, diabaikan negara. Khususnya terkait perlindungan orang asli Papua dalam berbagai aspek penting, seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi dan lainnya,” kata Benny Mawel.
Edi Doga OFM selaku pastor dan tokoh gereja dalam penyampaiannya mengingatkan tentang pentingnya menjaga alam sebagai ciptaan Tuhan. Ia mengatakan, manusia diciptakan setelah segala sesuatu diciptakan.
“Artinya manusia diciptakan terakhir supaya menjaga dan memelihara ciptaan terdahulu. bukan untuk merusak atau memusnahkan,” ucapnya.
Anggota DPRK Jayawijaya, Yosia Lengka menyoroti berbagai regulasi dan undang-undang yang berbicara tentang perlindungan hutan adat, tanah adat, serta hak untuk hidup.
“Akan tetapi apa yang terjadi di Tanah Papua seolah-olah undang-undang tidak dipakai di Tanah Papua,” ujar Yosia Lengka.
Ia juga mengkritisi PSN di Kabupaten Jayawijaya, yang disebut tanpa adanya koordinasi dan pembahasan di lembaga legislatif.
Setelah nobar film dokumenter Pesta Babi-Kolonialisme di zaman, Namene Elopere menekankan agar masyarakat Muliama menjaga tanah sebagai sumber kehidupan utama.
Sementara itu aktivis lainnya, Yefta Lengka yang merupakan penanggung jawab nobar dan diskusi film mengatakan, setelah mendengar semua pandangan dan tanggapan berbagai pihak maka perlu disepakati untuk tidak menjual atau memberikan tanah kepada perusahaan dan pemerintah atas nama pembangunan serta kesejahteraan.
Lengka berterimakasih kepada pihak Sekolah Yayasan Pendidikan Kristen Baliem Terpadu Muliama YPKBTM, yang telah membantu menyediakan tempat.
“Terimakasih juga kepada seluruh masyarakat Muliama yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini, dan saya mengapresiasi tim yang bekerja keras untuk penyelenggaraan nobar dan diskusi film ini,” kata Yefta Lengka. (*)




Discussion about this post