Sentani, Jubi — Pemerintah Kabupaten atau Pemkab Jayapura, Papua menyatakan komitmennya mendukung penuh pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis atau MBG yang menjadi program prioritas nasional Presiden Prabowo Subianto.
Program ini dinilai menjadi langkah strategis dalam menciptakan generasi emas 2045, dan memperkuat ketahanan pangan masyarakat.
Sekretaris Daerah atau Sekda Kabupaten Jayapura, Dr. Yusuf Yambe Yabdi mengatakan MBG tidak hanya fokus pada peningkatan gizi anak dan ibu, juga berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi daerah.
“Program MBG ini menjadi alat kontak untuk menggerakkan seluruh potensi daerah, membangun gizi masyarakat, mengatasi stunting, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat,” kata Yusuf Yambe Yabdi saat membuka rapat bersama pelaksanaan Makan Bergizi Gratis dan evaluasi program MBG di Sentani, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Selasa (4/11/2025).
Yambe Yabdi mengatakan, pelaksanaan MBG akan berkontribusi pada target nasional untuk menaikkan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 8 persen di era kepemimpinan Presiden Prabowo.
Karenanya, pemerintah daerah diminta memanfaatkan potensi lokal dalam mendukung kebutuhan bahan pangan program tersebut.
“Pesan Bupati Jayapura kepada saya jelas: kita harus mendukung penuh program ini, tapi juga memastikan belanja-belanja dapur MBG menggunakan hasil produksi masyarakat lokal,” ujarnya.
Katanya, pemerintah daerah sedang menyiapkan satuan tugas atau satgas khusus untuk mengendalikan dinamika pasar akibat meningkatnya permintaan bahan pokok dari pelaksanaan MBG.
“Kami akan memastikan agar program ini berjalan efektif tanpa menyebabkan kelangkaan barang atau kenaikan harga,” ucapnya.
Yambe Yabdi berharap seluruh pemangku kepentingan, termasuk organisasi perangkat daerah, yayasan penyelenggara dapur MBG, dan masyarakat, dapat bersinergi agar Jayapura menjadi contoh daerah yang berhasil melaksanakan program MBG secara menyeluruh.
Sementara itu, koordinator MBG wilayah Kabupaten Jayapura, Ruth Widyastuti P. Wangloan mengatakan, harga MBG porsi kecil ditetapkan Rp13.000, sementara porsi besar Rp13.432.
“Porsi kecil diberikan untuk balita hingga siswa kelas 3 SD, sedangkan porsi besar untuk siswa kelas 4 SD sampai SMA, serta ibu hamil,” kata Ruth Widyastuti.
Menurut Ruth, pembagian porsi ini menyesuaikan kebutuhan gizi berdasarkan usia penerima manfaat. “Anak-anak balita hanya membutuhkan sekitar 100 gram nasi per hari, sedangkan siswa SMA bisa mencapai 200 gram. Jadi kebutuhan kalorinya berbeda,” ucapnya.
Meski demikian, ia mengakui bahwa harga yang berlaku saat ini belum sepenuhnya mencukupi. Karenanya, pihaknya bersama Pemkan Jayapura akan merevisi indeks kemahalan agar sesuai dengan harga bahan pangan di pasar lokal.
“BGN meminta agar penentuan harga tidak asal menyebut angka, tapi harus didasarkan pada survei harga pasar dan disetujui kepala daerah,” ujarnya.
Ia mengatakan, dalam pelaksanaan program MBG, satu sentra produksi pangan gizi atau SPPG hanya boleh melayani maksimal 3.000 penerima manfaat, sesuai petunjuk teknis revisi ketiga dari pemerintah pusat. Namun, ketentuan itu hanya berlaku bagi SPPG yang telah memiliki sertifikat SLHS, HACCP, dan sertifikat Chef.
“Saat ini semua yayasan dan mitra sedang dalam proses sertifikasi. Ada beberapa yang sudah punya, tapi belum lengkap semuanya,” katanya.
Dari 13 dapur gizi yang beroperasi di Kabupaten Jayapura, sebagian besar masih melengkapi syarat kelayakan, termasuk fasilitas dapur dan sertifikasi tenaga pengolah makanan.
“Ada yang baru punya sertifikat SLHS, ada yang baru punya Chef. Jadi semuanya masih berproses,” kata Ruth.
Untuk komposisi menu, satu porsi makanan senilai Rp13.000 sudah mencakup karbohidrat, lauk hewani, sayur, buah, dan susu. Namun untuk wilayah Papua, pemberian susu tidak diwajibkan setiap hari.
“Karena seharusnya susu yang diberikan itu susu murni. Di Papua belum ada pengelolaan susu murni, sedangkan susu kemasan kandungan gulanya tinggi. Jadi kami berikan seminggu satu atau dua kali saja,” ucapnya
Ruth menambahkan, dari total penerima manfaat program MBG di Kabupaten Jayapura, sekitar 3.000 orang sudah terlayani oleh 13 SPPG, terdiri dari 2.500 siswa dan 500 penerima dari kelompok 3B (ibu hamil, ibu menyusui, dan balita).
“Fokus utama program MBG adalah pencegahan stunting, yang dimulai sejak masa kehamilan hingga anak usia dini,” katanya. (*)























Discussion about this post