Sentani, Jubi – Tokoh perempuan Kampung Enggros, Petronella Meraudje mengajak generasi muda Papua untuk meninggalkan budaya atau tradisi yang mendiskriminasi perempuan. Hal itu disampaikan Meraudje dalam diskusi peringatan Hari Perempuan Internasional yang digelar WWF Program Indonesia di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Jumat (8/3/2024).
Meraudje mengatakan para perempuan di Papua harus berjuang melawan ketidakadilan terhadap perempuan Papua, termasuk dalam praktik budaya. Meraudje berkaca kepada pengalamannya, yang menemukan bahwa banyak budaya atau tradisi yang justru menjajah hak perempuan Papua.
“Saya bangga menjadi perempuan Papua, karena [kami] berjuang melawan budaya yang mendiskriminasi perempuan Papua,” katanya.
Menurut Meraudje, jika perempuan Papua tidak segera bangkit melawan praktik budaya yang salah itu, perempuan Papua akan terus ditempatkan di bawah otoritas laki-laki, termasuk dalam pengambilan keputusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak, termasuk perempuan dan anak. Ia mencontohkan lelaki kerap menjual tanah, padahal tanah merupakan ibu yang menghidupi kepentingan bersama Orang Asli Papua.
“Alam tanpa manusia, dia bisa hidup. Tapi manusia tanpa alam, itu kita tidak bisa hidup. Jangan menjual tanah. Di Papua, laki-laki yang tanda tangan untuk menjual tanah. Saya mengajak perempuan Papua harus sadar dan bangkit melawan budaya [dominasi] laki-laki yang salah,” ujarnya.

Dalam diskusi yang sama, Ketua Kelompok Perempuan Inger Wewal, Novila Aru mengatakan perempuan di Papua tidak mempunyai ruang untuk mengekspresikan pengalamannya, harapan masa depannya, dan sema hal tentang kehidupannya.
Ia berterima kasih kepada WWF yang menyediakan ruang untuk membicarakan identitas atau harga diri perempuan Papua, dan perasaan yang ia pendam sebagai perempuan Papua yang ditindas oleh praktik budaya Papua yang salah.
“Mari kita perempuan sendiri yang dukung perempuan, karena saling mengerti kebutuhan perempuan. Perempuan sendirilah yang harus menciptakan lingkungan yang memungkin perempuan untuk berkembang tanpa hambatan,” katanya.
Naomi Wanimbo, mahasiswi Universitas Cenderawasih yang menjadi peserta dalam kegiatan itu mengatakan ia mendapat banyak pengetahuan masalah perempuan. Ia merasa berbagai pengetahuan itu bisa menjadi bekalnya. “Saya bertekad untuk menjadi diri sendiri dan melawan ketidakadilan yang terjadi, terutama [terhadap] perempuan,”katanya.
Peserta dari kelompok disabilitas, Alex Immanuel Yaku mengatakan perempuan Papua sebenarnya memiliki kedudukan yang setara dengan laki-laki Papua. Ia mendorong laki-laki Papua untuk memberikan peluang bebas bagi perempuan Papua untuk memperbaiki nasib, memimpin keluarga, terutama sesama perempuan.
“Kita sebagai laki-laki harus dukung mereka, memberikan mereka waktu untuk mengembangkan mereka punya potensi. Kebetulan saya ini cacat kaki, sehingga sering diundang di acara internasional ke beberapa negara. Saya melihat di luar sana mereka tidak membedakan jenis kelamin. Justru perempuan yang mendominasi berbagai bidang, termasuk [menjadi] pemimpin dunia,” ujarnya. (*)
























Discussion about this post