Jayapura, Jubi – Duta Noken Papua, Marshall Suebu menyatakan mesti ada regulasi tentang perlindungan bahan baku noken di Tanah Papua. Untuk itu pemerintah provinsi di Tanah Papua, dirasa perlu mendorong lahirnya regulasi tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Marshall Suebu saat diskusi ‘Duduk Para-para Sinergi Budaya-Ilmu dan Kebijakan untuk masa depan Noken Papua’ di salah satu hotel di Kota Jayapura, Papua pada Selasa, (04/11/2025).
Menurutnya, hingga kini belum ada regulasi tentang perlindungan bahan baku noken di Tanah Papua yang mengatur secara spesifik. Karenanya diperlukan adanya regulasi untuk melindungi bahan baku noken di hutan.
“[Regulasi] itu penting. Sekarang bahan baku untuk pembuatan noken sudah sangat susah didapatkan. Ketersediaan bahan baku di alam Papua untuk membuat noken sudah sulit. Sekarang lebih banyak bicara tentang bagaimana merajut dan menganyam noken. Belum fokus bicara tentang bagaimana ketersediaan bahan baku baik di alam bebas maupun di alam buatan,” kata Marshall Suebu.
Menurutnya, tiap provinsi harus membuat regulasi, agar noken itu tidak punah karena keterbatasan bahan baku. Selain itu, di Papua ada empat zona ekologi yang juga akan berkaitan dengan bahan baku noken.
Katanya, perlindungan yang ada kini hanya dilakukan melalui kebijakan pelestarian budaya, yang secara implisit juga mencakup perlindungan bahan baku alam, pengakuan UNESCO sebagai warisan budaya takbenda, dan upaya-upaya seperti konservasi lingkungan, penghijauan, serta larangan penggunaan bahan sintetis yang diinisiasi pemerintah daerah juga komunitas yang ada.
“Akan tetapi dalam bentuk fisik belum ada, sehingga itu yang perlu dorong sekarang ini. Kini [bahan baku noken] sedang terancam, sehingga tidak bisa satu orang yang bicara. Kita membutuhkan keterlibatan semua komponen masyarakat, dan pemerintah sehingga noken menjadi penting dan membawa pendapatan ekonomi bagi masyarakat, khususnya perajin,” ucapnya.
Sementara itu, anggota Majelis Rakyat Papua Kelompok Kerja atau MRP Pokja Perempuan, Febiolla Irianni Ohei mengatakan pihaknya juga mendorong bagaimana noken terus menjadi identitas orang Papua.
“MRP mendorong agar ini bisa menjadi kebijakan sehingga Noken bisa masuk dalam program sekolah. Untuk Kabupaten Jayapura kami sudah melakukan kampanye yang kami sebut dengan istilah nomase [atau] noken masuk sekolah dan keju noken [atau] Kamis, Jumat pakai noken,” kata Febiolla Irianni Ohei.
Katanya, kini MRP sedang mendorong bagaimana menjaga hutan, agar bahan-bahan dasar noken tetap terjaga kelestariannya untuk bisa dipertahankan, supaya noken tidak hilang dari UNESCO.
“Saya berharap, anak-anak muda jangan malu untuk pakai noken dan jangan malu belajar [membuat] noken, karena kita sedang menjaga budaya kita, kita sedang menjaga identitas kita,” ucapnya. (*)























Discussion about this post