Jayapura, Jubi – Kementerian Kebudayaan Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi dan kerja Sama kebudayaan dan Balai Pelestarian Kebudayaan BPK XXII Papua menggelar diskusi mengenai masa depan noken, tas rajur khas Papua yang sejak beberapa tahun silam diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh Unesco.
Diskusi itu membahas langkah-langkah strategis untuk implementasi UNESCO tentang pelestarian Noken Papua, dengan tema “Duduk para-para sinergi budaya-Ilmu-kebijakan untuk masa depan Noken Papua. Diskusi digelar di salah satu hotel di Kota Jayapura, Papua, Selasa (04/11/2025).
Staf Direktorat Diplomasi Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan, Ronggo Utomo Hardyanto mengatakan tujuan sesuai arahan yang dikeluarkan Komite ICH UNESCO, untuk mendorong negara melanjutkan upaya dalam merevisi noken sebagai bahan ajar kepada siswa.
Kemudian membangun kapasitas kewirausahaan terkait noken dan memastikan akses berkelanjutan terhadap bahan baku, melalui dukungan semua pihak terhadap Arboretum Tanaman Noken Papua.
Menurutnya, diskusi ini dilaksanakan untuk mempersiapkan penyusunan laporan periodik untuk UNESCO pada 2027. Namun semua sudah harus dipersiapkan sedini mungkin, karena tidak mudah menyatukan berbagai elemen stakeholder.
“Salah satunya melalui kegiatan ini, sehingga kita sama-sama bersinergi untuk merumuskan arahan dari Komite ICH UNESCO bahwa Noken itu statusnya masih Urgent Safeguarding. Dengan adanya kegiatan ini, setidaknya kita punya arah dan punya roadmap bagaimana untuk mengelola Noken kedepannya,” kata Ronggo Utomo Hardyanto.
Katanya, dari hasil diskusi ini berbagai pihak telah menandatangani berita acara, untuk kesepakatan bersama, sesuai arahan Komite ICH UNESCO terkait dengan nanti pelaporan noken.
Ia mengatakan, tujuan pertama adalah mendorong negara melanjutkan upayanya dalam merevisi bahan ajar tentang noken. Kemudian membangun kapasitas kewirausahaan terkait noken, dan menemukan akses berkelanjutan terhadap bahan baku melalui dukungannya terhadap Arboretum Alam Noken Papua.
Tujuan lain, mengundang negara melakukan penelitian tentang nilai-nilai noken dan menyebarluaskan hasilnya, juga meningkatkan pengetahuan tentang simbolisme dan penggunaan adat noken serta bahan-bahan alami yang digunakan.
“Jadi berita acara itu, khususnya di Papua untuk Noken, ini sudah sepakat bersama-sama membangun tata kelola untuk melestarikan Noken kedepan,” ucapnya.
Sementara itu, Kasubag umum BPK Wilayah XXII Dessy Donggori, mengatakan diskusi ini berdasarkan pedoman operasional implementasi konservasi untuk melindungi warisan budaya takbenda, dan noken sebagai warisan budaya takbenda Indonesia.
“Noken adalah identitas orang Papua dan orang yang tinggal di Tanah Papua. Noken bukan sekadar tas atau kantong tradisional. Akan tetapi Noken adalah simbol identitas diri Kalifat lokal dan warisan budaya yang hidup. Terus berkembang di tengah masyarakat Papua,” kata Dessy Donggori.
Katanya, pengakuan noken oleh UNESCO merupakan sebuah kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar semua pihak, untuk terus melestarikan dan mengembangkannya.
Untuk itu diskusi ini akan mengevaluasi apa yang telah dicapai baik itu yang dilakukan pemerintah provinsi, kota, kabupaten, komunitas masyarakat, akademisi dan organisasi pemerintah.
“Selain itu kita juga dapat mengidentifikasi tantangan apa yang kita hadapi dan memperluas langkah-langkah strategis untuk memastikan Noken tetap dilestarikan di masa depan,” ucapnya.
Menurutnya, ini adalah cerminan dari upaya bersama menjaga keberlangsungan noken di Tanah Papua sehingga ia berharap upaya yang telah dilakukan semua pihak dalam kerja-kerja perlindungan dan pengembangan tradisi budaya noken, dapat tersampaikan melalui diskusi ini. (*)























Discussion about this post