Sentani, Jubi – Menjelang hari noken ke-13 tahun pada 4 Desember 2025, Duta Noken Papua, Marshall Suebu mengingatkan semua pemangku kebijakan untuk berbudaya noken.
Katanya, pemangku kepentingan perlu menerapkan empat pilar dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan yaitu perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan.
Marshall Suebu mengatakan, selama ini sebagian sekolah sudah berinisiatif untuk memakai noken pada hari tertentu. Namun selama ini, penggunaan noken ke sekolah pada hari yang telah ditentukan belum berjalan maksimal.
“Begitupun di lingkup pemerintahan, perkantoran, TNI/Polri dan sebagainya belum maksimal atau menyeluruh,” kata Marshall Suebu kepada Jubi, Kamis (23/10/2025).
Menurutnya tahun ini, peringatan hari noken ke-13 tahun ini, mengusung tema Merajut Noken Papua, Menganyam Kesejahteraan.
“Melalui budaya noken, kita hidupkan prinsip ketekunan merajut dan prinsip keuletan menganyam kesejahteraan,” ujarnya.
Ada sejumlah rangkaian kegiatan yang dilakukan menjelang hari noken sedunia, seperti, Workshop Pengembangan dan Pelestarian Noken Tingkat SMA/SMK di Kabupaten Biak Numfor.
“Kegiatan ini bertujuan untuk mengangkat nilai-nilai luhur dari Inokson (Noken Khas Biak) pada pertengahan bulan Oktober lalu,” ucapnya.
Ia mengatakan, pada awal November 2025, direncanakan ada workshop pelestarian budaya noken oleh Kementerian Kebudayaan pada awal November 2025.
Suebu pun berpesan kepada generasi muda untuk mencintai budaya noken Papua, sebagai jati diri karena noken memiliki makna kehidupan.
“Belajar mencintai budaya noken Papua sebagai jati dirimu karena banyak prinsip keberhasilan hidup yang Tuhan titipkan melalui Noken Papua,” katanya.
Warga Sentani, Sintia (27 tahun) memiliki Noken asli dengan ukuran besar yang dikasih oleh anak didiknya sebagai oleh-oleh.
“Itu [Noken] dikasih anak muridku, pernah saya pakai waktu ibadah etnis Papua di gereja,” katanya, Jumat (24/10/2025)
Bagi Sintia, yang sudah lama tinggal di Papua, mengatakan harga Noken itu mahal karena nilai budaya dibaliknya itu sebagai simbol kearifan lokal yang perlu dirawat dan dilestarikan.
“Saya mau punya noken yang kecil-kecil supaya bisa dipakai jalan-jalan, ” katanya.
Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XXII Papua, Desy Polla Usmany mengatakan untuk menjaga budaya Noken harus diwariskan ke generasi penerus. (*)























Discussion about this post