Sentani, Jubi – Utusan khusus Presiden Bidang Pariwisata Zita Anjani mengatakan jantung pariwisata adalah budaya. Hal itu disampaikan saat kunjungan ke Hutan Kotanopi-CPI Hiroshi, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Kamis (25/12/2025). Dalam kunjungan tersebut Zita ikut menanam pohon sebagai bahan baku membuat noken dan mencoba belajar merajut Noken bersama duta dan putri Noken, walaupun tak sampai selesai.
“Ternyata membuatnya tidak semudah itu,” katanya.
Zita mengatakan Noken adalah warisan budaya tak benda yang diakui oleh UNESCO. Oleh karena itu, kedatangannya mengunjungi duta dan komunitas noken untuk melihat aktivitasnya.
“Jadi ini bukan hanya heritage dari nasional, tapi juga sudah heritage dunia,” katanya.
Menurutnya untuk pengembangan pariwisata di Papua, hal pertama yang dilakukan adalah menjaga alam.
“Makanya saya banyak keliling ke kampung-kampung wisata juga untuk melestarikan budayanya dan juga mengedukasi masyarakatnya untuk kita sama-sama menjaga alamnya,” katanya.
Selain itu, Zita juga membangun komunikasi dengan kepala daerah dan dinas pariwisata untuk menggagas konsep pariwisata yang nanti diterapkan di dalam pembangunan daerah, yaitu pariwisata berkelanjutan.
Lalu, saat ditanya soal pengembangan hutan Kotanopi itu sendiri, ia mengaku masih mengamati.
“Ya hari ini kita kunjungi, kita lihat nanti potensinya seperti apa. Saya juga baru pertama kali ke sini, jadi kita lihat dulu,” katanya.
Duta Noken Papua, Marshall Suebu, mengatakan adanya kunjungan utusan presiden bidang pariwisata ini diharapkan dapat mendukung, membantu dan mengembangkan hutan Kotanopi bukan hanya di Jayapura, tetapi seluruh Tanah Papua.
“Kami lagi kembangkan hutan Kotanopi (Koleksi Tanaman Noken Papua Indonesia) yang sudah dilaporkan ke UNESCO.Tadi, kami sudah laporkan ke utusan khusus dan nanti mungkin kami akan buat semacam proposal pikiran-pikiran kita,” katanya.
Suebu, sebagai penggagas hutan Kotanopi dan duta Noken Papua, mengaku selain mendorong hutan asli dan buatan, ia juga ingin memastikan hutan yang terdapat bahan baku Noken itu dibuatkan regulasi agar terlindungi.
Putri Noken, Marlita Youlanda Kasipdana (18 tahun) menyambut senang hati utusan presiden tersebut datang melihat budaya Papua, khususnya noken.
Katanya, sekarang anak muda lebih banyak lebih tertarik dengan tas-tas modern, bukan tradisional seperti noken. Sehingga, sebagai putri Noken, dia ingin membantu untuk mengembangkan budaya, khususnya tas tradisional.
Kasipdana mengenal noken sejak kecil. Dia belajar merajut dari umur sembilan tahun. Menurutnya, merajut noken bukan soal ketertarikan, tetap sudah harus.
“Jadi bukan tertarik, tapi memang sudah harus. Kita kan sebagai generasi Papua, kalau di sini ada beberapa suku bilang ‘gadis-gadis yang sudah bisa untuk belajar noken itu berarti mereka sudah siap untuk menjadi perempuan dewasa’,” katanya. (*)





















Discussion about this post