Jayapura, Jubi – Komunitas Sastra Papua (KO’SAPA) menyiapkan generasi baru penggerak sastra dan budaya Papua, dengan memperkuat konsolidasi organisasi pada 24 Juli 2026.
Konsolidasi organisasi itu merupakan bentuk komoitmen KO’SAPA untuk memperkuat gerakan pelestarian sastra, budaya, dan literasi Papua.
Pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah keputusan strategis guna memperkuat organisasi dan menyiapkan kader muda sebagai penerus gerakan kebudayaan Papua.
Dalam rapat tersebut, KO’SAPA menetapkan visi organisasi, yakni “Mengader anak-anak Papua dalam bidang kebudayaan dan literasi Papua”. Organisasi juga melakukan restrukturisasi kepengurusan dengan menunjuk Mecky Tebai sebagai Koordinator Umum, didampingi Musa Boma dan Hengky Yeimo sebagai Sekretaris serta Theresia Tekege sebagai Bendahara.
Selain pembenahan struktur, KO’SAPA membentuk Koordinator Wilayah berdasarkan tujuh wilayah adat Papua untuk memperkuat pendokumentasian, pelestarian, dan pengembangan sastra serta budaya lokal.
“Organisasi juga menetapkan delapan bidang kerja, mulai dari riset, penerbitan, literasi, pengembangan SDM, media, hingga diplomasi kebudayaan,” tulis KO’SAPA dalam siaran persnya, Jumat (7/8/2026).
Sebagai komunitas yang berdiri sejak 6 Mei 2009, KO’SAPA menyatakan semangat gerakan mereka terinspirasi dari perjuangan kebudayaan Arnold C. Ap dan Mambesak dalam membangkitkan kebanggaan terhadap identitas budaya Papua.
Melalui berbagai program, KO’SAPA berkomitmen mendorong lahirnya penulis, peneliti, seniman, dan pegiat literasi Papua yang mampu mendokumentasikan sekaligus mewariskan kekayaan sastra kepada generasi berikutnya.
Dalam agenda kerjanya, KO’SAPA akan mengembangkan diskusi rutin, pelatihan menulis, panggung budaya, penerbitan buku, Festival Literasi Papua, Kongres Pendidikan dan Sastra Papua, hingga pembangunan jejaring dengan komunitas sastra di tingkat nasional dan internasional.
KO’SAPA mengajak pemerintah, akademisi, gereja, komunitas, pegiat budaya, dan seluruh masyarakat Papua untuk bersama-sama menjaga, mengembangkan, dan mewariskan sastra serta budaya Papua sebagai identitas yang harus tetap hidup di tengah perubahan zaman.
KO’SAPA mengajak seluruh masyarakat Papua untuk kembali meneguhkan kecintaan terhadap sastra, bahasa, dan kebudayaan Papua melalui semangat “DO MI DOU (Segera Datang Lihat): Membiasakan, Merawat, dan Menumbuhkan Sastra Papua dari Keringat Sendiri”.
Tema ini disebut menjadi seruan bersama agar masyarakat tidak hanya menjadi penikmat budaya, tetapi juga pelaku yang merawat dan mewariskan identitas Papua kepada generasi mendatang
Katanya, Tanah Papua dikenal sebagai rumah bagi lebih dari 250 suku bangsa dan bahasa yang menyimpan kekayaan sastra lisan, mulai dari mitos, legenda, dongeng, syair adat, nyanyian rakyat, hingga cerita-cerita yang diwariskan turun-temurun.
“Kekayaan itu merupakan identitas yang membentuk jati diri orang Papua dan harus terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman”.
KO’SAPA menyatakan, gerakan sastra Papua tidak boleh berhenti pada nostalgia. Sastra harus hidup di tengah masyarakat melalui kebiasaan membaca, menulis, bertutur, bernyanyi, berdiskusi, dan mendokumentasikan warisan budaya yang dimiliki setiap suku di Tanah Papua.
Semangat tersebut sejalan dengan perjuangan Arnold C. Ap dan kelompok Mambesak, yang membuktikan bahwa karya seni dan sastra yang lahir dari akar budaya sendiri mampu membangkitkan rasa bangga terhadap identitas Papua.
“Mambesak menjadi simbol bahwa kebudayaan dapat menjadi jalan untuk memperkuat harga diri dan membangun masa depan masyarakat Papua”.
Melalui tema “DO MI DOU (Segera Datang Lihat)”, KO’SAPA mengajak seluruh masyarakat untuk hadir, melihat, terlibat, dan bersama-sama membangun gerakan sastra yang lahir dari kesadaran masyarakat Papua sendiri.
Sebab, menurut KO’SAPA sastra Papua tidak akan tumbuh jika hanya dikagumi. Sastra harus dibiasakan, dirawat, ditulis, dinyanyikan, dipentaskan, dan diwariskan.
Karena itu, KO’SAPA percaya bahwa masa depan sastra Papua berada di tangan masyarakat Papua sendiri. Dari keringat sendirilah lahir karya, dari karya lahir peradaban, dan dari peradaban itulah identitas Papua akan tetap hidup sepanjang zaman. (*)





















Discussion about this post