Jayapura, Jubi – Seorang peneliti kesehatan mengatakan bahwa jumlah kasus bayi di Fiji yang meninggal akibat komplikasi terkait HIV sangat tinggi, seiring dengan meningkatnya prevalensi penyakit tersebut di sana.
Situs web pemerintah Selandia Baru, SafeTravel menyatakan bahwa orang yang bepergian ke Fiji harus menghindari aktivitas yang dapat meningkatkan risiko infeksi, sebagaimana dilansir Jubi dari laman RNZ Pasifik, Senin (14/9/2026).
Pada Maret tahun ini, diperkirakan 9000 warga Fiji hidup dengan HIV dan para pejabat mengatakan penggunaan narkoba berisiko tinggi turut berkontribusi pada peningkatan pesat tersebut.
Peneliti kesehatan senior Universitas Victoria, Sharon Mclennan, mengatakan kepada Checkpoint bahwa situasi di Fiji “cukup buruk” dan sebagian disebabkan oleh meningkatnya penggunaan narkoba.
“Anda melihat banyak praktik berbagi jarum suntik, dan itulah pemicu yang menyebabkan peningkatan luar biasa dalam kasus HIV ini,” katanya.
“Bertahun-tahun kurangnya pendanaan untuk layanan kesehatan juga turut berkontribusi pada masalah tersebut.”
Mclennan mengatakan bahwa telah terjadi peningkatan jumlah ibu yang dinyatakan positif dan bayi yang lahir dengan HIV.
“Sekitar satu bayi lahir setiap minggu dan sekitar satu bayi meninggal setiap bulan akibat komplikasi terkait HIV… angkanya sangat tinggi, sungguh sangat tinggi,” ucapnya.
Mclennan mengatakan bahwa telah ada upaya untuk mendorong lebih banyak orang melakukan tes HIV, tetapi masih ada masalah dengan ketersediaan tes dan stigma sosial.
“Orang-orang tidak mau membicarakannya, karena jika mereka membicarakannya, perilaku mereka akan terbongkar dan mereka mungkin akan dikucilkan atau dipertanyakan,” ujarnya.
Fiji tidak memiliki program pertukaran jarum suntik, kata Mclennan, tetapi hal itu sedang dibahas dan direncanakan.
Menurut Mclennan, Selandia Baru memiliki peran dalam membantu Fiji mengatasi masalah tersebut.
“Tahun lalu Selandia Baru memberikan $4 juta kepada Kementerian Kesehatan Fiji untuk dukungan terkait HIV, kita tentu bisa meningkatkan hal itu. Kita bisa meningkatkan bantuan teknis,” katanya.
Hal itu termasuk mendukung warga Fiji dan keluarga mereka yang tinggal di Selandia Baru, katanya.
“Ada banyak pergerakan antara sini dan pulau-pulau… jadi penting untuk memastikan bahwa penduduk Pasifik kita mengetahui dan menyadari layanan pengujian dan pengobatan HIV di sini,” ucapnya
“Sebagian besar warga Selandia Baru yang bepergian ke Fiji kemungkinan besar tidak berisiko.”
“Saya rasa risikonya cukup rendah jika Anda bepergian untuk liburan keluarga selama liburan sekolah. Namun tetap bagus melihat pemerintah memperhatikan dan memberikan beberapa saran kepada warga Selandia Baru,” ujarnya.
Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan mengatakan bahwa warga Selandia Baru yang bepergian ke Fiji harus mendapatkan asuransi perjalanan komprehensif, dan mendaftarkan detail mereka di SafeTravel.(*)




Discussion about this post