Jayapura, Jubi – Medical Services Pacific dan Kepolisian Fiji menemukan 17 kasus HIV baru setelah melakukan tes terhadap 91 tunawisma di Suva selama dua malam. Ternyata satu dari enam orang yang tes HIV menunjukan hasil positif.
“Program Cahaya Bulan” dilaksanakan sekitar tiga minggu lalu di wilayah Kota Suva sebagai bagian dari pendekatan pengurangan dampak buruk untuk menjangkau populasi berisiko tinggi dan sulit dijangkau.
Direktur MSP untuk Indonesia, Dr. Kesaia Tuidraki, mengatakan bahwa kegiatan penyuluhan ini hanya mungkin dilakukan melalui kolaborasi.
“Kami hanya mampu mengimplementasikan ini dengan sukses melalui kolaborasi yang kami miliki dengan Kepolisian Fiji, dengan mitra CSO kami, termasuk Rainbow Pride Foundation, pekerja penjangkauan sebaya, San Fiji, dan tidak lupa Jaringan Orang yang Hidup dengan HIV di Fiji,” katanya sebagaimana dikutip Jubi dari laman www.fijitimes.com.fj, Kamis (27/8/2026).
Sebelum intervensi dilakukan, petugas kepolisian di unit kepolisian komunitas di Totogo menjalani sosialisasi.
Para pekerja penjangkauan sebaya kemudian dipasangkan dengan petugas polisi untuk melakukan “uji coba” guna memberi tahu para tunawisma tentang tanggal pengujian yang akan datang.
Selama dua malam itu, total ada 91 tunawisma yang datang untuk menjalani tes, 17 di antaranya mendapat hasil positif, artinya ini adalah kasus yang baru didiagnosis.
“Jika Anda perhatikan, itu setara dengan sekitar 18 persen tingkat positif, yang berarti bahwa satu dari setiap enam orang yang dites malam itu hasilnya positif,” katanya.
Dr. Tuidraki mengatakan hasil tersebut menyoroti mengapa Fiji tidak lagi mampu bekerja secara terpisah dalam penanggulangan HIV-nya.
“Kita perlu bekerja secara terkoordinasi dengan mitra kita karena pada akhirnya, tujuan utamanya adalah mengurangi jumlah kasus HIV di negara kita”.
Sementara itu Kementerian Pendidikan sedang meninjau kebijakan nasionalnya tentang HIV/AIDS untuk sekolah karena data baru menunjukkan bahwa siswa membutuhkan lebih dari sekadar kesadaran untuk mengatasi HIV, penggunaan narkoba, dan stigma.
Asisten Menteri Pendidikan Iliesa Vanawalu menyampaikan pengumuman tersebut saat meluncurkan Laporan Survei Dasar Na Bula E Dua oleh Medical Services Pacific.
“Meningkatnya jumlah kasus HIV di negara kita mengharuskan kita semua untuk memeriksa apakah kita sudah melakukan cukup banyak, apakah kita menjangkau kaum muda kita sejak dini,” ucapnya.
“Fakta bahwa HIV juga memengaruhi anak muda usia sekolah harus menjadi perhatian kita semua,” ujarnya.
Proyek ‘Na Bula E Dua’ yang telah berjalan selama setahun, yaitu Proyek Pemberdayaan Siswa dengan Informasi HIV dan Penggunaan Narkoba, telah menjangkau lebih dari 1600 siswa di enam sekolah di wilayah Tengah dan Barat.
Pak Vanawalu mengatakan survei awal itu berharga karena “mendengarkan” siswa, guru, dan orang tua, alih-alih memberi tahu mereka apa yang menurut orang dewasa perlu mereka ketahui.
Ia menekankan bahwa pencegahan harus “sesuai usia, berbasis bukti, dan berkelanjutan sepanjang perjalanan pendidikan siswa”.
“Kita perlu menjangkau mereka sebelum informasi yang salah melakukannya. Kita perlu menjangkau mereka sebelum narkoba melakukannya. Kita perlu menjangkau mereka sebelum tekanan teman sebaya melakukannya. Dan kita perlu menjangkau mereka sebelum stigma mencegah mereka mencari dukungan.”
Asisten Menteri mengatakan bahwa tinjauan kebijakan akan berfokus pada hak atas pendidikan, kerahasiaan, non-diskriminasi, dan dukungan bagi siswa.
Ia menyerukan “kejelasan di tingkat sekolah” agar guru mengetahui tanggung jawab mereka, siswa mengetahui ke mana harus mencari bantuan, dan jalur rujukan menjadi jelas. (*)




Discussion about this post