Jayapura, Jubi – Fiji dan Tonga sedang menjajaki kemitraan pasokan bahan bakar alternatif untuk memastikan kebutuhan keamanan energi mereka terpenuhi.
Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Luar Negeri Fiji, Sakiasi Ditoka, baru-baru ini mengunjungi Malaysia dan Korea dan mengadakan diskusi dengan para mitranya di kedua negara tersebut mengenai kemungkinan kemitraan pasokan bahan bakar, sebagaimana dilansir Jubi dari laman RNZ Pasifik, Sabtu (22/8/2026).
Ia juga bertemu dengan perwakilan PETRONAS atau Petroliam Nasional Berhad, yaitu perusahaan minyak dan gas milik negara asal Malaysia, perusahaan minyak dan gas nasional Malaysia, yang sepenuhnya dimiliki sepenuhnya oleh pemerintah Malaysia.
Perusahaan ini mengelola sumber daya minyak dan gas Malaysia dan beroperasi di seluruh rantai nilai energi, termasuk eksplorasi, produksi, penyulingan, pemasaran, dan penjualan bahan bakar ritel.
Ia juga membahas pasokan bahan bakar dan pilihan energi terbarukan selama kunjungannya ke Korea.
Ditoka mengatakan bahwa ia juga telah mengadakan diskusi serupa di Singapura.
Sementara itu, Tonga juga mengupayakan keamanan pasokan bahan bakar, dengan pemerintah menandatangani perjanjian studi kelayakan dengan Pacific Energy South West Pacific Limited, yang didanai oleh United States Trade and Development Agency (USTDA).
Perdana Menteri Lord Fatafehi Fakafanua menandatangani perjanjian tersebut di Nuku’alofa pekan lalu.
Ditoka mengatakan Fiji telah mengambil beberapa pelajaran dari krisis bahan bakar global baru-baru ini, dan ada kebutuhan untuk memperkuat ketahanan terhadap gangguan di masa depan pada rantai pasokan internasional, rute pengiriman, dan harga global.
Ia mengusulkan sebuah pengaturan yang terstruktur dan formal antara Fiji dan Malaysia kepada Menteri Investasi, Perdagangan dan Industri Malaysia, YB Datuk Seri Johari Abdul Ghani, di Kuala Lumpur.
Kerangka kerja ‘Keamanan Bahan Bakar dan Ketahanan Energi Strategis’ yang diusulkan mengkaji kerja sama dalam diversifikasi pasokan bahan bakar, cadangan dan penyimpanan strategis, ketahanan rantai pasokan, kerja sama teknis, infrastruktur energi, dan transisi menuju energi yang lebih bersih.
“Pengalaman kami telah mengajarkan bahwa keamanan energi tidak dapat ditangani hanya ketika krisis terjadi. Kita perlu membangun sistem, kemitraan, dan ketahanan yang akan mempersiapkan kita menghadapi gangguan berikutnya,” kata Ditoka.
Dalam pertemuannya dengan para eksekutif PETRONAS, Ditoka menyoroti kerentanan khusus Fiji sebagai negara kepulauan kecil yang sedang berkembang dan bergantung pada produk minyak bumi impor.
Ia mengatakan, gangguan pada pengiriman internasional, kenaikan biaya pengiriman barang, dan kemacetan dapat memiliki konsekuensi signifikan bagi Fiji dan kawasan Pasifik secara luas.
Menurutnya, mereka berharap Fiji dapat dipertimbangkan dalam pengaturan yang sudah ada dari PETRONAS untuk penyimpanan dan penimbunan minyak dengan negara-negara mitra internasional.
“Volatilitas harga bahan bakar global baru-baru ini dan gangguan pengiriman di Timur Tengah telah menggarisbawahi bahwa negara-negara berkembang kepulauan kecil tidak dapat hanya mengandalkan pengaturan pasar spot,” ucapnya.
Katanya, mengamankan rantai pasokan energi Fiji sangat penting bukan hanya bagi 900.000 warga negara kami, tetapi juga bagi negara-negara tetangga maritim kami, yang bergantung pada Fiji sebagai pusat regional.
“Bermitra dengan pemimpin energi global seperti PETRONAS memungkinkan Pemerintah Koalisi untuk membangun ketahanan jangka panjang yang sesungguhnya bagi Fiji dan kawasan Pasifik Biru yang lebih luas,” ujarnya.
Fiji memasok bahan bakar ke Tonga dan negara-negara kepulauan Pasifik yang lebih kecil seperti Kiribati, Nauru, dan Tuvalu.
Ditoka mengatakan bahwa bagi Fiji, tujuannya adalah memastikan keamanan pasokan bahan bakar terjamin sebelum krisis internasional berikutnya.
Krisis saat ini muncul sebagai akibat langsung dari perang antara Iran dan Amerika Serikat, karena Iran menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran antara Iran dan Oman yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.
Sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia dan sebagian besar ekspor gas alam cair (LNG) biasanya melewati Selat Hormuz, dari eksportir utama seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Ditoka mengatakan ia berharap minat Fiji untuk dipertimbangkan dalam pengaturan penimbunan bahan bakar dan keamanan pasokan Malaysia yang sedang dikembangkan bersama Australia dan Selandia Baru akan terwujud.
Ia mengatakan, pekerjaan selanjutnya akan diserahkan kepada para pejabat Fiji untuk menindaklanjuti detail teknis dengan rekan-rekan mereka dari Malaysia dan menentukan pengaturan praktis apa yang mungkin dilakukan.
Di Korea, katanya, Menteri Luar Negeri negara itu, Cho Hyun, terbuka terhadap diskusi bahwa Fiji dan Korea harus memperkuat kerja sama untuk menjaga rantai pasokan yang stabil dan tangguh.
Ditoka mengatakan, mereka juga dapat membahas pemanfaatan keahlian Korea di bidang energi terbarukan, penyimpanan baterai, teknologi jaringan pintar, dan bidang lain yang dapat membantu Fiji secara progresif memperkuat kemandirian dan ketahanan energinya.
Di Nuku’alofa, Lord Fakafanua mengatakan bahwa studi kelayakan tersebut akan membantu menentukan bagaimana infrastruktur transportasi dan penyimpanan bahan bakar Tonga dapat dimodernisasi.
Studi ini akan mengevaluasi opsi-opsi yang memungkinkan Tonga untuk menerima kapal tanker bahan bakar jarak menengah yang lebih besar secara langsung, mengurangi kebutuhan akan pengiriman bahan bakar yang mahal melalui negara ketiga dan memperkuat pasokan bahan bakar kerajaan kepulauan tersebut.
Usulan langkah ke depan untuk Tonga adalah meningkatkan kapasitas penyimpanan bahan bakar negara tersebut dari pasokan 15-20 hari menjadi 60 hari.
Lord Fakafanua mengatakan bahwa hal itu akan memberikan perlindungan yang lebih besar terhadap gangguan pasokan internasional dan volatilitas harga bahan bakar. Ini adalah investasi penting untuk keamanan energi jangka panjang Tonga.
Dengan meningkatkan kapasitas penyimpanan dan memperbaiki infrastruktur transportasi bahan bakar, pihaknya melindungi rakyat dan perekonomian dari gangguan eksternal lebih lanjut dan membangun infrastruktur yang akan melayani Tonga selama bertahun-tahun mendatang.
“Tonga menyambut baik kemitraan yang memperkuat ketahanan pasokan energi yang ada,” katanya.
Saat ini, Tonga mendapatkan pasokannya melalui Fiji melalui Pacific Energy dan Total, dengan kapal tanker pasokan mengunjungi Nuku’alofa setiap dua minggu sekali atau dalam siklus 15 hari.
Pada 2016-2017, ada upaya untuk membangun depot penyimpanan dan pasokan lokal dengan kapasitas yang lebih besar di Nuku’alofa, proposal tersebut diajukan oleh International Bunker Supplies Limited dari Australia.
Proposal itu juga mencakup pengadaan Kapal Tanker Jarak Menengah (MR Tanker) untuk melayani Tonga, tetapi proposal tersebut baru mendapat persetujuan pemerintah pada tahun 2019, di mana pada saat itu perusahaan tersebut telah menarik minatnya.
Tanker MR digunakan untuk mengangkut produk minyak bumi olahan, termasuk bensin (gasoline), diesel, bahan bakar jet, kerosin, nafta, dan beberapa bahan kimia serta biofuel.
Saat ini, Tonga mendapatkan pasokan bahan bakar melalui Kapal Tanker Pesisir Lokal (LCT) untuk rute Fiji-Tonga, yang biasanya berasal dari Vuda di sebelah barat pulau utama Fiji, Viti Levu. (*)




















Discussion about this post