Manokwari, Jubi – Pulau Bonyum memiliki nilai sejarah keberagaman, simbol kuat satu tungku tiga batu, dan merupakan lokasi perayaan misi Katolik di kawasan Selatan Pulau Papua.
Pulau yang terletak di Distrik Fakfak Tengah, Kabupaten Fakfak, Papua Barat itu menjadi lokasi perayaan 132 Misi Katholik di Tanah Papua.
Direktur dari Le Cocq Foundation, Yanuarius Kerry Meak menjelaskan bahwa Pulau Bonyum dipilih karena memiliki nilai sejarah penting sebagai salah satu titik awal perjalanan misi Katolik di Tanah Papua.
“Kini panitia bersama masyarakat terus melakukan berbagai persiapan teknis, mulai dari pembersihan hingga penataan lokasi kegiatan,” kata Yanuarius Kerry Meak, Sabtu (16/5/2026).
Selain itu, keterlibatan umat lintas agama turut dalam kerja bakti tersebut. Sejumlah warga muslim ikut bergotong royong bersama umat Katolik, Protestan, TNI, dan masyarakat adat.
Kehadiran umat lintas agama ini mencerminkan nilai adat satu tungku tiga batu, yang menjadi simbol keseimbangan dan persaudaraan antara umat Islam, Katolik, dan Protestan di Fakfak.
Hajijah, warga setempat mengatakan keterlibatan masyarakat sebagai wujud nyata nilai toleransi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Hal ini harus terus kita jaga untuk menjadi warisan bagi generasi berikutnya,” ujar Hajijah.
Secara historis, masyarakat muslim di Kampung Sekru juga memiliki peran penting dalam awal masuknya misi Katolik di Tanah Papua, ketika misionaris Jesuit Cornelis Le Cocq d’Armandville tiba pada 22 Mei 1894. Peristiwa tersebut menjadi tonggak awal hubungan lintas agama di wilayah Fakfak.
Fakfak akan menjadi pusat peringatan 132 Tahun Misi Katolik di Tanah Papua pada 19–24 Mei 2026. Puncak peringatan digelar pada 22–23 Mei 2026.
Pemerintah Kabupaten Fakfak terus mematangkan berbagai persiapan untuk menyukseskan agenda besar tersebut.
Bupati Fakfak, Samaun Dahlan turun langsung memimpin kerja bakti massal yang melibatkan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), ASN, TNI, Pramuka, lembaga masyarakat adat, hingga Dewan Adat.
Kegiatan difokuskan pada pembersihan lingkungan, penataan kawasan, serta pembenahan titik-titik strategis lokasi kegiatan rohani, terutama di kawasan Pulau Bonyum.
Bupati Fakfak, Samaun Dahlan kepada wartawan mengatakan, pemerintah dan masyarakat hadir untuk melakukan kerja Bhakti persiapan peringatan misi Katolik ke-132 tahun.
“Kami hadir di sini bersama seluruh pihak terkait untuk melaksanakan kerja bakti membantu panitia dalam mempersiapkan rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan,” kata Samaun Dahlan Sabtu
Bupati juga meninjau pembangunan jembatan dan titian bambu sepanjang kurang lebih 630 meter, yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat dan umat Katolik setempat.
Ia pun mengapresiasi semangat gotong royong tersebut sebagai bentuk persiapan yang luar biasa.
Menurutnya, kawasan Pulau Bonyum memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata religi dan wisata pantai di Kabupaten Fakfak.
Pemerintah daerah juga berencana membangun akses jalan, fasilitas penunjang, serta tempat doa dan situs rohani bagi umat maupun masyarakat umum.
Terkait kebutuhan listrik, pemerintah daerah telah berkoordinasi dengan pihak PLN untuk memastikan seluruh fasilitas di kawasan tersebut dapat berfungsi dengan baik.
Hingga kini, semangat kebersamaan itu terus terjaga dan menjadi identitas sosial masyarakat Fakfak.
Persiapan perayaan 132 Tahun Misi Katolik di Pulau Bonyum kembali menegaskan Fakfak sebagai daerah yang menjunjung tinggi persaudaraan, toleransi, dan harmoni sosial di Tanah Papua.
Perkembangan masuknya Gereja Katolik di Tanah Papua, khususnya melalui wilayah Fakfak, bermula dari Kampung Sekru di Distrik Pariwari.
Pada masa awal kedatangannya, para misionaris Katolik diterima oleh masyarakat setempat, termasuk oleh saudara-saudara Muslim yang telah lebih dahulu mendiami wilayah tersebut.
Sikap keterbukaan ini menjadi awal terjalinnya hubungan persaudaraan dan toleransi antar umat beragama di Fakfak.
Dalam proses awal tersebut, para misionaris kemudian mulai melakukan pelayanan rohani, termasuk pembaptisan kepada warga yang saat itu belum memeluk agama.
Setelah beberapa waktu menjalankan karya misinya, pastor sempat meninggalkan Fakfak, sebelum kemudian kembali lagi untuk melanjutkan pelayanan.
Pada kedatangan berikutnya, Pastor Le Cocq d’Armandville melanjutkan perjalanan misinya hingga tiba di Pulau Bonyum.
Sebelumnya, ia juga sempat singgah di Kampung Raduria sebelum akhirnya menetap dan memusatkan kegiatan di Pulau Bonyum, distrik Fakfak tengah.
Di Pulau Bonyum inilah karya misi berkembang lebih luas. Selain menjalankan pelayanan keagamaan dalam menyebarkan ajaran Gereja Katolik, pastor juga turut berkontribusi dalam bidang pendidikan dengan membangun sekolah bagi masyarakat setempat.
“Hingga kini, Pulau Bonyum masih menyimpan jejak sejarah berupa sumur peninggalan misi tersebut, yang menjadi bukti keberadaan karya para misionaris pada masa itu,” kata Yanuarius Kerry Meak
Berdasarkan catatan sejarah tersebut, panitia menetapkan bahwa masuknya Gereja Katolik di Tanah Papua diperingati pada tanggal 22 Mei, merujuk pada momen awal kedatangan Pastor Le Cocq d’Armandville di Kampung Sekru.
Sementara itu, Pulau Bonyum kemudian menjadi pusat kegiatan misi dan kini juga dipilih sebagai lokasi utama perayaan 132 tahun misi Katolik di Tanah Papua, lebih strategis. (*)
























Discussion about this post