Jayapura, Jubi – Hari ketiga Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) Samudra Melanesia perdana 2026, dimulai dengan presentasi tentang kawasan lindung laut.
KTT ini telah menghadirkan panel ahli membahas tindakan yang akan diambil oleh negara-negara mereka di bidang keluatan dan perikanan.
Satu hal yang menonjol dari semua presentasi adalah, masyarakat Pasifik selalu melindungi lahan penangkapan ikan mereka, sebagaimana dilansir jubi.id dari laman internet, tvwan.com.pg, Kamis (14/5/2026).
Diskusi berpusat pada pendekatan yang lebih formal untuk melindungi kehidupan laut dan samudra, yang akan menguntungkan baik negara tuan rumah maupun penduduk setempat.
Menariknya, diskusi oleh panel yang terdiri dari Menteri Perikanan Palau, mitranya dari PNG Jelta Wong, dan Prof. Enric Sala dari National Geography Society.
Semuanya menyoroti ketahanan masyarakat Kepulauan Pasifik yang telah mewariskan agenda konservasi tradisional dari generasi ke generasi, dan memastikan lahan penangkapan ikan mereka terlindungi.
Oleh karena itu, mereka secara kolektif mengatakan bahwa memperkenalkan konsep kawasan lindung laut bukanlah hal baru.
Tujuannya adalah untuk melindungi dari penangkapan ikan komersial ilegal dan memberi ruang bagi kehidupan laut untuk berkembang.
“Jadi, kawasan lindung laut hanyalah nama baru untuk praktik tradisional Pasifik yang telah terbukti sangat sukses. Jika kita memiliki kawasan konservasi tradisional seperti Wood, Tambo, dan lainnya selama berabad-abad, itu karena praktik tersebut berhasil,” kata Prof. Enric Sala.
Duta Besar Nico dari Pulau Schylles menceritakan bagaimana sebagian lautan di pulau itu telah dilindungi dan berkembang dengan kehidupan, menyerap 80 miliar ton karbon setiap tahunnya.
Pemerintah di sana kemudian menyusun strategi untuk mengenakan biaya lingkungan kepada pengunjung dan pungutan pada kapal pariwisata dan kargo untuk penggunaan lautan.
Perdana Menteri Papua Nugini, James Marape terkesan dengan presentasi ini, dan menyatakan keinginannya untuk meniru hal ini melalui pembentukan Kawasan Lindung Laut (MPA) di negara tersebut.
Konferensi Samudra Melanesia perdana di APEC Haus di Port Moresby, berlangsung sejak 11 Mei dan berakhir hari ini, Kamis 14 Mei 2026. (*)

























Discussion about this post