Jayapura. Jubi – Perdana Menteri (PM) Kepulauan Solomon yang digulingkan pada pekan lalu, Jeremiah Manele menyatakan dukungannya kepada Peter Shanel Agovaka menjelang pemilihan pemimpin baru negara itu pada Jumat, 15 Mei di Parlemen Nasional Kepulauan Solomon, Honiara.
Jeremiah Manele digulingkan lewat mosi tidak percaya di parlemen, dan mengakhiri masa jabatannya di tengah jalan setelah masa jabatan empat tahun, seperti dikutip jubi.id dari laman internet, RNZ Pasifik, Kamis (14/5/2026).
Peter Shanel Agovaka yang membelot dari Pemerintahan Persatuan dan Transformasi Nasional (GNUT) Manele pada Maret 2026, telah mencalonkan diri sebagai PM Kepulauan Solomon untuk bersaing dengan pemimpin oposisi Matthew Wale dan pemimpin kelompok anggota parlemen independen, Manasseh Maelanga.
Agovaka adalah menteri kunci dalam koalisi Manele dan memegang portofolio Luar Negeri sebelum membelot kepada pihak oposisi.
Para pendukungnya mengatakan bahwa pencalonannya untuk jabatan tertinggi adalah tentang melanjutkan visi GNUT.
Manele mengatakan dukungannya diberikan demi kepentingan penyelesaian misi pemerintahannya.
Ia menyerukan kepada warga untuk tetap tenang dan menerima hasil pemilihan perdana menteri besok, Jumat (15/5/2026).
Berbeda dengan periode ketidakstabilan politik sebelumnya di Kepulauan Solomon, yang diwarnai kerusuhan publik, kebuntuan kini yang dimulai pada Maret, sejauh ini berlangsung damai.
Jeremiah Manele menyampaikan konferensi pers terakhir yang emosional dan penuh renungan di Honiara, Rabu (13/5/2026).
Ia menyerukan kepada warga Kepulauan Solomon untuk menjunjung tinggi perdamaian, persatuan, dan penghormatan terhadap demokrasi saat negara tersebut bersiap untuk memilih Perdana Menteri baru pada Jumat, 15 Mei.
Manele mengatakan bahwa ia tidak dapat meninggalkan jabatannya, tanpa menyapa rakyat dan berterima kasih kepada mereka atas dukungan selama masa jabatannya.
“Dalam kepemimpinan, kepercayaan adalah mata uang yang paling berharga. Tanpa itu, tidak ada pemerintah, seberapa pun terampilnya secara teknis, yang dapat benar-benar melayani rakyatnya,” katanya sebagaimana dilansir jubi.id dari laman www.solomonstarnews.com, Kamis (14/5/2026).
Manele merenungkan janji yang ia buat ketika pertama kali berdiri di hadapan bangsa sebagai Perdana Menteri terpilih pada 2 Mei 2024, berjanji untuk melayani dengan integritas dan mengutamakan kepentingan rakyat dan negara.
Dia mengatakan bahwa negara tersebut telah memenuhi janji itu dengan mengatasi tantangan politik dan hukum baru-baru ini secara damai melalui pengadilan dan Parlemen, bukan melalui kerusuhan di jalanan.
“Dengan berdiri di sini hari ini dan memfasilitasi transisi yang tertib, kita membuktikan bahwa demokrasi kita tidak lagi rapuh. Demokrasi kita semakin matang,” ujarnya.
Perdana Menteri yang akan segera mengakhiri masa jabatannya itu mengucapkan berterimakasih kepada konstituennya dari Hograno, Kia, Katova dan Havulei, serta masyarakat Provinsi Isabel atas dukungan mereka yang tak tergoyahkan.
Ia mengaku bangga menjadi putra pertama dari Provinsi Isabel yang menjabat sebagai Perdana Menteri Kepulauan Solomoni.
Ia juga mengakui peran pemerintah untuk Persatuan dan Transformasi Nasional (GNUT), dengan mengatakan bahwa misinya selalu lebih besar daripada individu mana pun dan berfokus pada menjaga stabilitas dan memberikan layanan penting kepada masyarakat pedesaan.
“Menjelang Jumat 15 Mei, saya mengingatkan seluruh warga Kepulauan Solomon bahwa ada tiga kandidat yang bersaing untuk posisi Perdana Menteri. Inilah proses demokrasi yang sedang berjalan,” katanya.
Ia mendesak warga di seluruh provinsi untuk menghormati pilihan yang akan dibuat oleh Anggota Parlemen dan untuk tetap tenang dan hormat terlepas dari hasilnya.
Manele menekankan pentingnya menghormati para pemimpin di semua tingkatan, termasuk anggota parlemen, majelis provinsi, kepala suku, pemimpin gereja, dan tetua komunitas, yang kebijaksanaannya, menurutnya, membentuk fondasi masyarakat Kepulauan Solomon.
Ia meyakinkan sektor swasta, investor, dan mitra pembangunan bahwa Kepulauan Solomon tetap terbuka untuk bisnis dan berkomitmen untuk menjaga lingkungan yang stabil dan aman bagi pertumbuhan ekonomi.
“Transisi kekuasaan yang tertib ini mencerminkan penguatan berkelanjutan lembaga-lembaga demokrasi kita,” katanya.
Dalam pidatonya kepada kaum muda, Manele mendorong mereka untuk terlibat dalam politik dengan penuh tanggung jawab, bukan dengan sinisme, dan mengingatkan mereka bahwa kebebasan berekspresi datang dengan kewajiban untuk menghormati orang lain.
Ia juga mengingatkan warga negara tentang nilai-nilai Kristen di negara itu, dan mendesak masyarakat untuk tidak membiarkan perbedaan politik merusak hubungan di dalam komunitas.
“Kedamaian yang kita jaga hari ini adalah udara yang akan dihirup anak-anak kita esok hari. Persatuan yang kita perjuangkan sekarang adalah fondasi tempat mereka akan membangun impian mereka,” katanya.
Sebagai penutup pidatonya, Manele mengingatkan warga Kepulauan Solomon bahwa para pemimpin datang dan pergi, tetapi perjalanan bangsa ini adalah milik rakyatnya dan masa depannya adalah milik anak-anaknya.
“Semoga Tuhan memberkati rakyat dan mitra kami, dan semoga Tuhan memberkati Kepulauan Solomon dari ujung ke ujung,” tutupnya. (*)




Discussion about this post