Jayapura, Jubi – Aliansi Organisasi Non-Pemerintah Regional Pasifik (PRNGO), secara resmi memperbarui komitmennya dengan penandatanganan nota kesepahaman, di Suva, Fiji, Kamis (7/5/2026).
Aliansi PRNGO didirikan pada 2000 dan terdiri dari organisasi masyarakat sipil regional yang telah membuat kesepakatan formal untuk bekerja secara kolektif sebagai blok regional yang terkonsolidasi, untuk mengatasi isu-isu kritis yang dihadapi Pasifik sambil mempertahankan individualitas dan kemandirian mereka sebagai organisasi sesuai mandat konstituen masing-masing.
Begitu keterangan pers yang diterima jubi.id dari Brittany LT Nawaqatabu, Asisten Petugas Media & Komunikasi,Jaringan Pasifik tentang Globalisasi, Jumat (8/5/2026).
Ketua Aliansi PRNGO dan Koordinator Jaringan Pasifik tentang Globalisasi (PANG), Joey Tau, menyinggung upacara penandatanganan tersebut sebagai tonggak penting bagi gerakan masyarakat sipil Pasifik, dengan mengatakan setelah 26 tahun, komitmen yang diperbarui ini merupakan bukti kerja aktor non-negara dan organisasi masyarakat sipil dalam menginformasikan dan mengimplementasikan regionalisme.”
“Sebagai aktor regional, MOU ini meresmikan komitmen kami sebagai Aliansi untuk mengkoordinasikan dan mengartikulasikan perspektif masyarakat Pasifik, memastikan adanya pengakuan dan keterlibatan di platform kebijakan regional hingga internasional,” kata Tau.
Pendeta James Bhagwan, Sekretaris Jenderal Konferensi Gereja-Gereja Pasifik (PCC) berbicara tentang komitmen yang diperbarui terhadap regionalisme Pasifik yang “bersifat profetik, pastoral, dan praktis.”
“Sebagai lembaga regional dengan sejarah lebih dari enam dekade, PCC memahami regionalisme sebagai lebih dari sekadar kebijakan. Ini tentang kesejahteraan seluruh Keluarga Pasifika Biru.”kata Bhagwan.
Bhagwan menambahkan bahwa melalui PRNGO, masyarakat sipil membantu memastikan jalinan keterlibatan yang kaya, di mana suara masyarakat, pengalaman hidup, dan keprihatinan moral dibawa ke ruang regional.
Ini memperkuat kerja kolektif untuk keadilan, perdamaian, aksi iklim, penentuan nasib sendiri, dan martabat semua masyarakat Pasifik.
Direktur Eksekutif Oxfam di Pasifik, Eunice Wotene menyoroti kebutuhan kritis akan kolaborasi aktif antara aktor masyarakat sipil.
“Menjadi bagian dari Aliansi memperkuat kemampuan kami untuk berkontribusi pada suara yang bersatu, terutama pada saat ruang sipil semakin terbatas,” kata Eunice Wotene.
Katanya, ini memungkinkan pihaknya memperdalam kemitraan, menyelaraskan upaya, dan secara kolektif mengadvokasi isu-isu yang paling penting bagi masyarakat di seluruh Pasifik.
“Aliansi memiliki potensi untuk menjadi advokat strategis yang menjembatani realitas akar rumput dengan ruang pengambilan keputusan regional, memastikan bahwa proses pembangunan tetap inklusif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat Pasifik,” ucapnya.
Lebih lanjut kata dia, Aliansi ini berpotensi menjadi advokat strategis yang menjembatani realitas akar rumput dengan ruang pengambilan keputusan regional, memastikan bahwa proses pembangunan tetap inklusif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat Pasifik.
Secara historis, PRNGO telah memainkan peran katalis dan penting dalam melibatkan Forum Kepulauan Pasifik (PIF), membantu membangun kerangka kerja keterlibatan Organisasi Masyarakat Sipil (CSO), mengoordinasikan forum CSO sebelum pertemuan para Pemimpin, dan membentuk debat regional tentang pembangunan, perdagangan, aksi iklim, lautan dan ekonomi biru, serta hak asasi manusia.
Guna mengakui kebutuhan akan keterlibatan kolektif CSO Pasifik di ruang kebijakan regional dan internasional, Aliansi PRNGO didirikan pada tahun 2000 oleh World Wildlife Fund (WWF) Pasifik, Konferensi Gereja Pasifik, Dewan Pendidikan Pasifik (COPE), Yayasan Rakyat Pasifik Selatan Internasional (FSPI), Pusat Sumber Daya Kepedulian Pasifik (PCRC), Greenpeace, dan Yayasan Pasifik untuk Kemajuan Perempuan (PacFAW).
Aliansi ini telah berkembang selama bertahun-tahun, aliansi ini mencakup Pacific Network on Globalisation (PANG), Pacific Disability Forum (PDF), Pacific Islands Association of Non-Governmental Organizations (PIANGO), Pacific Islands News Association (PINA), Pacific Youth Council (PYC), Pacific Sexuality and Gender Diversity Network (PSGDN), Oxfam in the Pacific, Pacific Islands Climate Action Network (PICAN), dan Pacific Centre for Peacebuilding (PCP).
Penandatanganan MOU ini juga menandai masuknya International Federation of Red Cross Pacific sebagai anggota terbaru Aliansi. (*)




Discussion about this post