Sentani, Jubi – SD Negeri 1 Sentani di Jalan Dunlop, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, sudah dipalang atau ditutup akses jalannya oleh pemilik hak ulayat Suku Kopeuw sejak 4 Januari 2025. Aktivitas belajar mengajar di sekolah itu terhenti total, dan rumput di halaman sekolah tumbuh setinggi lutut.
Pelaku pemalangan menumpukan batu pasir dan balok kayu di gerbang sekolah. Mereka juga memasang spanduk dengan tulisan tangan berbunyi “Perhatian, Tanah lokasi SD Negeri Sentani ditutup oleh Suku Kopeuw sampai dengan proses pembayaran ganti rugi tanah oleh DP2KP Kabupaten Jayapura Provinsi Papua”.
Sejumlah pelajar dan guru SDN 1 Sentani setiap pagi datang ke sekolah, tapi mereka tidak bisa masuk ke sekolah. Di luar pagar sekolah, para guru memberikan tugas kepada murid untuk belajar mandiri di rumah.
Siswa kelas 4, Aliando mengatakan ia kecewa dengan pemalangan sekolahnya. Ia mengeluh tidak bisa belajar seperti biasanya. Pemalangan itu membuat Aliando dan teman-teman tidak bisa bertemu dengan para guru.
Ia mengaku rindu untuk belajar di sekolah. “[Saya berharap] palang ini bisa dibuka, supaya kami bisa sekolah di sekolah. Sementara ini, kami datang [ke sekolah]. Tapi [kami hanya bisa berada] di luar [pagar], guru kasih PR saja, baru pulang. Jadi saya punya harapan, palang ini tolong buka kembali,” kata Aliando.
Luis Yoku, pelajar kelas 4 SD Negeri 1 Sentani, juga sedih dengan pemalangan itu. Menurutnya, para murid dirugikan karena tidak bisa bisa belajar seperti biasanya.
“Saya rasa sedih sa pu sekolah tutup karena dipalang. Saya tidak bisa bertemu dengan teman-teman dan ibu guru. Saya sedih, saya tidak bisa belajar di sekolah seperti [para siswa] sekolah lain,” ujarnya Yoku.
Agusta Deal yang juga siswa kelas 4 juga mengharapkan palang sekolah bisa dibuka kembali. Ia meminta Pemerintah Kabupaten Jayapura meninjau sekolah itu, karena sekarang sudah tidak ada kegiatan belajar mengajar di sana.
“Kita pu sekolah tolong buka ka. Kami belajar di luar ini. Saya mau bertemu dengan sa pu teman-teman seperti dulu lagi. Tolong ka pemerintah urus kami punya sekolah ini, sekarang kami tidak belajar. Kita datang, tapi tidak bisa masuk sekolah karena masih dipalang,” kata Agusta.
Dewi, salah satu orangtua siswa SD Negeri 1 Sentani, mengatakan ia keberatan dengan pemalangan sekolah itu. Ia sedih karena para murid sekolah itu belajar di pinggir jalan. Selain itu, para guru juga terpaksa menyampaikan materi pelajaran di pinggir jalan.
“Kasihan anak-anak terlalu lama di luar [sekolah]. Belajar di luar atau di rumah itu tidak seperti belajar di sekolah. Lebih baik itu belajar di sekolah, karena bisa dapat pelajaran, guru juga menjelaskan bagi anak-anak,” katanya.
Dewi menjelaskan jika anak-anak di rumah, mereka tidak belajar dengan baik, karena mereka lebih banyak menonton atau bermain gawai. Ia merasa sedih atas situasi yang merugikan banyak anak-anak itu, dan menilai pemalangan sudah berlangsung terlalu lama.
“Kami sebagai orang tua merasa sedih melihat kami punya anak ambil pelajaran di luar, karena sekolah tutup. Tolonglah palang dibuka kembali, supaya kami punya anak-anak bisa beraktivitas kembali lagi di sekolah. Kami punya harapan sebagai orangtua, semoga palang bisa buka supaya [anak-anak] bisa sekolah seperti dulu, bisa berkumpul sama guru-guru, teman-temannya,” ujarnya.
Orangtua siswa lainnya, Elmeliria Usior juga menyatakan pemalangan itu merugikan anaknya dan siswa yang lain. “Yang jadi korban bukan sa pu anak saja, tapi banyak anak-anak punya hak mendapatkan pendidikan. [Saya] minta tolong supaya pemerintah bantu buka [palang], supaya anak-anak bisa sekolah seperti semula. Kasihan kami punya anak-anak hanya datang pulang saja dalam dua minggu terakhir ini,” ujarnya.
Salah satu guru SD Negeri 1 Sentani, Lucia Olivia Yoku membenarkan jika para murid tidak bisa bersekolah karena sekolah itu dipalang. “Kasihan mereka ketinggalan pelajaran, apalagi [siswa] kelas 6, dampaknya paling buruk [karena] nanti dorang ketinggalan pelajaran. Bagaimana nilainya untuk melanjutkan ke tingkat SMP,” ujar Yoku.
Ia berharap pemerintah cepat mengambil kebijakan, karena sekolah itu berada di zona Kampung Ifar Besar. “Harapan kami sekolah ini bisa jadi normal kembali, bisa dibuka supaya anak-anak ini bisa sekolah dengan baik dan dapat pendidikan dengan baik,” katanya. (*)























Discussion about this post