• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Polhukam

Gerakan mahasiswa harus tetap mandiri

October 8, 2026
in Polhukam
Reading Time: 4 mins read
0
Penulis: Silpester Kasipka - Editor: Arjuna Pademme
Gerakan mahasiswa

Suasana peluncuran buku Menjadi Papua: Pergulatan Pemikiran Aktivis 98 Papua karya Paskalis Keagop dan kawan-kawan di Aula Kampus STISIPOL Silas Papare, Klofkamp, distrik Jayapura utara Kota Jayapura, Papua, Kamis (8/10/2026).-Jubi/Silpester Kasipka

0
SHARES
0
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jayapura, Jubi – Kepala kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia atau Komnas HAM perwakilan Papua, Frits Bernard Ramandey menyatakan generasi muda dan mahasiswa Papua harus terus membangun gerakan yang mandiri, terstruktur, dan berangkat dari kepentingan publik.

Sebab, cita-cita reformasi dan perjuangan mengembalikan hak-hak dasar masyarakat Papua belum sepenuhnya tercapai.

Ini disampaikan Frits Bernard Ramandey, dalam peluncuran buku Menjadi Papua: Pergulatan Pemikiran Aktivis 98 Papua karya Paskalis Keagop dan kawan-kawan di Aula Kampus STISIPOL Silas Papare, Klofkamp, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura, Provinsi Papua, Kamis (8/10/2026).

Ramandey mengatakan, gerakan Aktivis 98 di Indonesia lahir dari situasi politik Orde Baru yang membatasi kebebasan masyarakat.

Mahasiswa dan pemuda ketika itu mengambil peran dalam gerakan yang kemudian berkontribusi terhadap berakhirnya pemerintahan Presiden Soeharto.

Menurutnya, gerakan Aktivis 98 pada awalnya merupakan gerakan moral yang bertujuan membuka kembali ruang kebebasan bagi masyarakat Indonesia.

“Gerakan moral untuk menyediakan ruang dan mengembalikan orang Indonesia secara keseluruhan hidup dalam ruang kebebasan,” kata Ramandey.

BERITATERKAIT

Dugaan Penganiayaan: Mahasiswa Uncen laporkan sejumlah polisi ke Polda Papua

Mahasiswa Yahukimo di Manokwari telah kembali ke kontrakan

BEM: Pengibar Bintang Kejora adalah mahasiswa USTJ

Terusir dari kontrakan: Mahasiswa Yahukimo di Manokwari tidur di halaman gereja

Dalam konteks Papua menurut Ramandey, gerakan Aktivis 98 memiliki kekhasan karena berupaya mempertemukan berbagai kelompok masyarakat untuk memperjuangkan kepentingan Papua.

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

Ia mengatakan, para aktivis ketika itu menggunakan slogan “generasi tanpa angkatan” untuk membangun hubungan antara kelompok tua, kelompok menengah, dan kelompok muda.

Gerakan itu juga disebut berupaya merangkul berbagai kelompok untuk membicarakan kepentingan Papua secara bersama-sama agar dapat didengar pemerintah pusat.

“Dalam konteks Papua, Aktivis 98 Papua punya satu momentum penting, yaitu perjuangan untuk mengembalikan hak-hak dasar orang Papua,” ujarnya.

Katanya, perjuangan tersebut tidak dibatasi oleh latar belakang wilayah gunung maupun pantai. Aktivis mahasiswa dari berbagai organisasi dan perguruan tinggi ikut terlibat dalam gerakan tersebut.

Ia mencontohkan keterlibatan organisasi seperti GMKI, HMI, PMKRI serta sejumlah senat mahasiswa perguruan tinggi. Para mahasiswa Papua yang berada di berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri juga turut membangun konsolidasi.

Menurut Ramandey, pengalaman tersebut penting dicatat karena gerakan mahasiswa seharusnya memiliki fondasi moral dan mampu mendorong perubahan kebijakan.

“Mahasiswa itu pertama menjadi pemikir, yang kedua menjadi perencana, dan yang ketiga menjadi pelaksana,” katanya.

Ia mengingatkan gerakan mahasiswa tidak boleh kehilangan orientasi moral. Gerakan yang membawa kepentingan publik, kata dia, harus mampu mengakomodasi kepentingan masyarakat dan mendorong perubahan kebijakan.

Ramandey juga menyoroti kecenderungan sebagian gerakan mahasiswa saat ini yang menurutnya dapat dipengaruhi kepentingan kelompok tertentu.

Ia membandingkan kondisi tersebut dengan gerakan Aktivis 98 yang menurutnya tumbuh dari konsolidasi mahasiswa dan dukungan masyarakat secara spontan.

Ramandey mengingatkan, jangan sampai gerakan moral mengakibatkan orang menjadi amoral. Gerakan mahasiswa pun harus tetap independen dan tidak menjadi gerakan yang dilakukan berdasarkan pesanan pihak tertentu.

“Jangan sampai by order. Karena kalau sudah by order, itu memecah persatuan gerakan aktivis dan sangat membahayakan masyarakat dan kepentingan publik,” ujarnya.

Ramandey juga mengingatkan kebebasan menyampaikan pendapat merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi.

Namun katanya, kebebasan tersebut perlu dikomunikasikan secara baik agar tidak menimbulkan kesalahpahaman antara mahasiswa, aktivis, dan aparat keamanan.

Menurutnya, kebebasan berekspresi dan menyampaikan pendapat harus menjadi bagian dari upaya membangun demokrasi, bukan justru menimbulkan distorsi dalam penyampaian aspirasi.

Sementara itu, penulis buku Menjadi Papua: Pergulatan Pemikiran Aktivis 98 Papua, Paskalis Keagop mengatakan, buku tersebut merupakan catatan mengenai perjalanan perjuangan yang belum sepenuhnya selesai.

Keagop mengatakan, reformasi belum otomatis membuat seluruh persoalan masyarakat terselesaikan.

Ia mencontohkan perjuangan masyarakat adat untuk mendapatkan pengakuan hukum yang menurutnya masih berlangsung hingga kini.

Keagop menilai, berbagai gejolak sosial dan politik yang masih terjadi menunjukkan adanya persoalan yang belum terselesaikan.

“Kalau ada gejolak, artinya ada hal yang tidak beres dalam rumah,” kata Keagop.

Menurut Keagop, pemekaran wilayah menjadi sejumlah provinsi di Papua juga tidak serta-merta membuat seluruh masyarakat Papua merasa aman dan puas. Karenanya, ia mengingatkan agar masyarakat tidak berpuas diri hanya karena adanya perubahan struktur pemerintahan.

“Tidak bisa berpuas diri. Apakah seluruh pemekaran, enam provinsi, apakah orang Papua merasa aman? Merasa puas? Kan tidak. Gejolaknya belum selesai,” ujarnya.

Keagop mengatakan, buku tersebut tidak dimaksudkan untuk menyelesaikan seluruh persoalan, melainkan menjadi pengingat terhadap perjalanan perjuangan dan perubahan yang terjadi di Papua.

Ia juga mendorong orang Papua, khususnya generasi muda, untuk lebih banyak membaca dan menulis. Tulisan dianggap merupakan salah satu cara penting untuk meninggalkan jejak sejarah bagi generasi berikutnya.

“Orang Papua itu harus menulis. Tidak boleh lupa harus menulis,” katanya.

Ia mengatakan, banyak pengetahuan mengenai masa lalu dapat diketahui karena orang-orang terdahulu meninggalkan catatan tertulis. Karena itu, pengalaman dan perjuangan masyarakat Papua juga perlu didokumentasikan melalui tulisan.

Keagop mengatakan, Papua memiliki sejarah dan pengalaman sosial yang panjang, tetapi belum seluruhnya terdokumentasikan secara tertulis.

“Kalau mau menulis, orang Papua harus menulis. Yang penting orang harus membaca dan menulis,” katanya.

Selain itu menurutnya, budaya membaca dan menulis penting agar generasi muda dapat memahami perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu sekaligus mengetahui jejak perjuangan generasi sebelumnya.

Sementara itu, pemateri bedah buku, Gabriel Magiagasi mengatakan, buku tersebut menggambarkan sejumlah karakter Aktivis 98 Papua, termasuk keterlibatan mereka dalam mengawal reformasi dan isu-isu publik.

Ia menyebut terdapat lima karakter yang tergambar dalam buku tersebut, yakni mengawal reformasi, memiliki kepekaan terhadap isu publik, bekerja secara prosedural, membangun jaringan, dan menghasilkan dampak dalam kehidupan masyarakat.

Menurut Magiagasi, Aktivis 98 tidak hanya bergerak di jalanan, tetapi kemudian tersebar dalam berbagai bidang kehidupan, seperti politik, hukum, sosial, ekonomi, birokrasi, dan pemerintahan.

Ia berharap buku tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran bagi generasi muda Papua, terutama mahasiswa yang saat ini terlibat dalam gerakan sosial dan pengawalan isu publik.

Magiagasi mengatakan generasi saat ini memiliki karakter yang berbeda dengan generasi 1998. Generasi Z tumbuh dalam perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang berbeda sehingga membutuhkan cara baru dalam membangun gerakan.

Namun, ia menilai semangat untuk memperjuangkan kepentingan publik tetap dapat dipelajari dari pengalaman Aktivis 98.

Ia mendorong mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Papua melakukan konsolidasi untuk membicarakan persoalan yang mereka hadapi dan menentukan kepentingan yang benar-benar ingin diperjuangkan.

“Ke depan betul-betul gerakan mahasiswa itu adalah gerakan yang murni dari mahasiswa,” kata Magiagasi.

Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah dipengaruhi oleh pihak lain untuk memperjuangkan kepentingan yang bukan kepentingan mahasiswa maupun masyarakat.

“Jangan sampai mahasiswa ini menjadi mahasiswa yang oportunis, yang mudah dihasut oleh pihak-pihak lain untuk kepentingan-kepentingan yang bukan kepentingan mahasiswa,” ujarnya. (*)

Tags: GerakanmahasiswaMandiri
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Mahasiswa Uncen

Dugaan Penganiayaan: Mahasiswa Uncen laporkan sejumlah polisi ke Polda Papua

October 8, 2026
Mahasiswa Yahukimo

Mahasiswa Yahukimo di Manokwari telah kembali ke kontrakan

October 7, 2026

BEM: Pengibar Bintang Kejora adalah mahasiswa USTJ

October 6, 2026

Terusir dari kontrakan: Mahasiswa Yahukimo di Manokwari tidur di halaman gereja

October 4, 2026

Tiga mahasiswa USTJ dijadikan tersangka oleh Polresta Jayapura

October 2, 2026

Anggota Polresta Jayapura diduga melakukan kekerasan pada mahasiswa Uncen

October 1, 2026

Discussion about this post

Survey Pembaca
Reader's Survey

English Story

Authorities stop smuggling of 115 parrot eggs from Merauke
8 October 2026
Authorities stop smuggling of 115 parrot eggs from Merauke

Merauke, Jubi – Authorities in Indonesia’s South Papua province have intercepted an attempt to smuggle 115 wild parrot eggs from [...]

Asian churches for an end to violence in Papua through Chiang Main declaration
8 October 2026
Asian churches for an end to violence in Papua through Chiang Main declaration

Jayapura, Jubi – A symposium of Asian churches has called for an end to violence in Papua through a declaration [...]

Students who raised Morning Star flag are USTJ students : BEM
7 October 2026
Students who raised Morning Star flag are USTJ students : BEM

Jayapura, Jubi – The Student Executive Council of the University of Science and Technology Jayapura (BEM USTJ) says the three [...]

Jayapura high school team reaches final of APBD analysis competition
7 October 2026
Jayapura high school team reaches final of APBD analysis competition

Jayapura, Jubi –  A team from SMA Negeri 1 Jayapura in Papua has reached the final of the Bedah APBD [...]

Young Merauke swimmer wins 15 gold medals in nine days
6 October 2026
Young Merauke swimmer wins 15 gold medals in nine days

Merauke, Jubi – Young swimmer Nathania Zefanya Wohel from Merauke, South Papua province, won 15 gold and three silver medals [...]

  • Latest
  • Trending
  • Comments
Gerakan mahasiswa

Gerakan mahasiswa harus tetap mandiri

October 8, 2026
Calon Ketua PSSI Papua Barat

Markus Suila, bakal calon Ketua PSSI Papua Barat yang pertama mendaftar

October 8, 2026
Dana Otsus Merauke

Bupati Merauke minta dana Otsus 2027 fokus tiga program prioritas

October 8, 2026
Dana Otsus Merauke

Pagu dana Otsus Kabupaten Merauke diperkirakan capai Rp280 miliar

October 8, 2026
Mahasiswa Uncen

Dugaan Penganiayaan: Mahasiswa Uncen laporkan sejumlah polisi ke Polda Papua

October 8, 2026
Regulasi perlindungan Cenderawasih

Perlu regulasi melindungi Cenderawasih dari ancaman kepunahan

October 8, 2026
Regulasi perlindungan Cenderawasih

Pemprov Papua rumuskan aturan penggunaan replika Cenderawasih

October 8, 2026
El Nino PNG

5,5 juta orang di PNG terdampak El Nino

October 8, 2026
BEM USTJ

BEM: Pengibar Bintang Kejora adalah mahasiswa USTJ

October 6, 2026
Gereja

Gereja Asia desak kekerasan di Papua dihentikan lewat deklarasi Chiang Mai

October 8, 2026
Festival

Rayakan budaya, Festival Pasifika Auckland tarik 25 ribu pengunjung

March 17, 2026
Lomba bedah APBD

Tim SMA Negeri 1 Jayapura lolos final lomba bedah APBD

October 6, 2026
RSUD Yowari

Keluarga pasien berharap Pemkab Jayapura evaluasi menyeluruh RSUD Yowari

March 17, 2026
Komnas HAM

Penggusuran paksa tanah masyarakat adat Biak diadukan ke Komnas HAM

March 17, 2026
Gerakan mahasiswa

Gerakan mahasiswa harus tetap mandiri

0
Calon Ketua PSSI Papua Barat

Markus Suila, bakal calon Ketua PSSI Papua Barat yang pertama mendaftar

0
Dana Otsus Merauke

Bupati Merauke minta dana Otsus 2027 fokus tiga program prioritas

0
Dana Otsus Merauke

Pagu dana Otsus Kabupaten Merauke diperkirakan capai Rp280 miliar

0
Mahasiswa Uncen

Dugaan Penganiayaan: Mahasiswa Uncen laporkan sejumlah polisi ke Polda Papua

0
Regulasi perlindungan Cenderawasih

Perlu regulasi melindungi Cenderawasih dari ancaman kepunahan

0
Regulasi perlindungan Cenderawasih

Pemprov Papua rumuskan aturan penggunaan replika Cenderawasih

0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara