Jayapura, Jubi — Tim SMA Negeri 1 Jayapura dari Kota Jayapura, Provinsi Papua lolos ke babak final lomba Bedah APBD Bangun Daerah yang diselenggarakan Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
Dalam kompetisi tersebut, tim SMA Negeri 1 Jayapura mengangkat tema akuntabilitas penyaluran Bantuan Operasional Sekolah Daerah atau BOSDA di Kota Jayapura, Provinsi Papua melalui karya videografis.
Guru Ekonomi sekaligus pembimbing tim SMA Negeri 1 Jayapura, Mariana Weyai mengatakan, timnya menjadi satu-satunya perwakilan Papua yang berhasil masuk enam besar tingkat SMA dari sekitar 1.700 tim yang mengikuti tahapan awal kompetisi.
“Dari sekitar 1.700 tim, kami lolos. SMA Negeri 1 Jayapura sebenarnya mengirim dua tim, tetapi hanya satu tim yang berhasil melaju sampai final,” kata Mariana saat ditemui Jubi di SMA Negeri 1 Jayapura, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua, Selasa (6/10/2026).
Menurut Mariana, tim tersebut sebelumnya berhasil masuk 15 besar nasional dengan nilai tinggi. Setelah mengikuti tahapan wawancara bersama dewan juri, tim SMA Negeri 1 Jayapura kemudian dinyatakan lolos ke enam besar dan berhak mengikuti babak final di Jakarta.
Babak final dijadwalkan berlangsung pada 19–23 Oktober 2026 di Jakarta. Tim SMA Negeri 1 Jayapura akan bersaing dengan tim dari sejumlah daerah, antara lain Riau, Sulawesi, Jakarta yang mengirim dua tim, dan Semarang.
Mariana mengatakan peserta lomba mendapat tema tata kelola pemerintahan. Tim SMA Negeri 1 Jayapura kemudian memilih mengangkat persoalan akuntabilitas BOSDA di Kota Jayapura melalui karya videografis.
“Di dalam videografis kami, kami mengangkat bagaimana akuntabilitas penyaluran dana BOSDA di Kota Jayapura. Mereka juga mempelajari sumber-sumber dana dan bagaimana pengelolaan keuangan daerah,” ujarnya.
Menurut Mariana, pembahasan tersebut tidak hanya berkaitan dengan penggunaan anggaran pendidikan, tetapi juga menempatkan BOSDA dalam konteks kebijakan fiskal daerah.
Ia menjelaskan kebijakan fiskal daerah berkaitan dengan bagaimana pemerintah daerah mengelola sumber-sumber pendapatan daerah serta transfer dari pemerintah pusat.
Sumber pendanaan tersebut antara lain Dana Otonomi Khusus atau Otsus, Dana Alokasi Umum atau DAU, Dana Alokasi Khusus atau DAK fisik dan nonfisik, serta sumber pendapatan dan pendanaan daerah lainnya.
“Jadi, yang kami pelajari bukan hanya penggunaan anggaran, tetapi bagaimana posisi kebijakan fiskal dalam pengelolaan keuangan daerah, termasuk sumber pendapatan dan transfer dari pemerintah pusat,” katanya.
Mariana mengatakan, karya videografis tim mendapat apresiasi dari dewan juri karena mengangkat persoalan pengelolaan dan penggunaan anggaran pendidikan daerah sekaligus memperlihatkan pemahaman siswa mengenai sumber pembiayaan daerah.
Katanya, dukungan Pemerintah Kota Jayapura juga membantu proses penyusunan karya tersebut, khususnya dalam memperoleh data dari Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah atau BPKAD Kota Jayapura.
“Pak Wali Kota memberikan kami dukungan yang luar biasa, terutama dalam mendapatkan data dari BPKAD Kota Jayapura. Dukungan data tersebut sangat membantu sehingga videografis yang kami buat dapat disusun secara maksimal dengan sumber data yang cukup lengkap dan kuat,” ujarnya.
Mariana mengatakan, persiapan menuju babak final dilakukan sekitar dua minggu setelah tim dinyatakan lolos enam besar.
Seluruh persiapan ditargetkan selesai pada 17 Oktober 2026 sebelum tim berangkat ke Jakarta.
Tiga anggota tim merupakan siswa kelas XI SMA Negeri 1 Jayapura. Mereka memiliki latar belakang minat yang berbeda.
Salah satu siswa lebih berfokus pada ilmu sosial, sedangkan dua lainnya memiliki minat pada bidang sains.
Menurut Mariana, proses persiapan mendapat dukungan dari pihak sekolah melalui dana BOS dan dana komite.
Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam persiapan siswa mengikuti kompetisi yang berlangsung hampir empat bulan.
“Lomba ini berat karena hampir empat bulan kami terus belajar dan mengikuti tahapan lomba. Kalau semangat dan ketekunan mereka berhenti karena jenuh, tentu tidak akan berhasil. Tetapi mereka punya niat besar untuk menunjukkan yang terbaik,” katanya.
Mariana mengatakan lomba tersebut tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga memberikan pengetahuan kepada siswa mengenai pengelolaan keuangan daerah dan penyusunan APBD.
Menurutnya, pemahaman mengenai APBD penting bagi generasi muda karena mereka kelak dapat terlibat dalam berbagai bidang pelayanan publik.
“Walaupun nanti mereka bukan orang-orang yang bekerja di kantor keuangan, misalnya mereka menjadi dokter atau PNS di bidang lain, suatu saat mereka bisa saja terlibat dalam perencanaan anggaran. Dari lomba ini mereka sudah memiliki wawasan tentang bagaimana APBD dirancang,” ujarnya.
Mariana mengatakan, para siswa juga mempelajari hubungan antara transfer ke daerah, pendapatan asli daerah dan kebijakan fiskal.
Pengetahuan tersebut diperlukan agar siswa memahami bagaimana daerah mengelola sumber pendapatan serta pembiayaan pembangunan dan pelayanan publik.
Dalam persiapan menuju final, Mariana memberikan ruang kepada para siswa untuk mengembangkan dan mempresentasikan karya mereka sendiri. Ia hanya memastikan materi yang disampaikan tetap sesuai dengan tema lomba.
“Saya hanya sebagai guru pembimbing. Saya mengoreksi apa yang mereka lakukan agar tidak keluar dari topik. Saya memberikan kebebasan kepada mereka untuk mempresentasikan hasil karya mereka sendiri,” katanya.
Mariana berharap tim SMA Negeri 1 Jayapura dapat memberikan hasil terbaik dalam babak final di Jakarta.
“Saya sudah memberikan standar kepada mereka bahwa SMA Negeri 1 harus membawa pulang juara satu,” ujarnya.
Ketua Tim Honai SMA Negeri 1 Jayapura, Michelle Vemesia Rumbiak Wandosa, mengatakan timnya membagi materi pembelajaran berdasarkan enam modul yang diberikan dalam kompetisi.
Materi tersebut mencakup pengelolaan keuangan daerah, Dana Alokasi Khusus atau DAK fisik dan nonfisik, Dana Otsus, dana insentif daerah, serta dana desa.
“Kami membagi tugas dalam tim untuk mempermudah proses belajar dan persiapan mengerjakan soal,” kata Michelle.
Ia mengatakan tim memiliki motivasi untuk memberikan hasil terbaik pada babak final.
Salah satu dorongan mereka adalah keinginan menunjukkan bahwa siswa dari Papua mampu bersaing dalam kompetisi tingkat nasional.
“Kami dari Papua dan ingin menunjukkan bahwa kami dari daerah timur juga mampu,” ujarnya.
Michelle Wandosa mengatakan, pilihan mengangkat tema BOSDA juga didorong pengalaman melihat manfaat bantuan tersebut bagi siswa di sekolah.
Menurutnya, terdapat siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu dan terbantu dengan adanya dukungan BOSDA.
“Kami melihat banyak teman yang berasal dari keluarga kurang mampu. Dengan adanya bantuan BOSDA, mereka sangat terbantu. Karena itu kami ingin mengangkat topik tentang dana BOSDA,” katanya.
Tim tersebut menggunakan nama Honai Papua. Michelle menjelaskan nama honai dipilih karena merupakan rumah adat Papua yang melambangkan fondasi dan kebersamaan.
“Bagi kami, Honai Papua melambangkan tim yang bekerja kompak, membangun dasar ekonomi dan anggaran yang kuat serta terencana,” ujarnya.
Tim SMA Negeri 1 Jayapura kini mempersiapkan presentasi dan materi yang akan dibawa ke babak final di Jakarta. Mereka menjadi satu-satunya tim dari Papua yang bersaing dalam enam besar tingkat SMA pada Lomba Bedah APBD Bangun Daerah. (*)






















Discussion about this post