Jayapura, Jubi – Sekretaris Tetap Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Pemuda, Anak-anak, dan Keluarga (MWYCFA) Kepulauan Solomon, Dr. Cedrick Alependava, menyoroti tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan (VAWG) di negaranya.
Hal ini disampaikan dalam pidato utama di Festival Dewan Wanita Honiara yang sekaligus menjadi kampanye anti-kekerasan menjelang Hari Hak Asasi Manusia pada 10 Desember 2024.
Menurut Dr. Alependava, sekitar 42 persen atau dua dari lima perempuan di Kepulauan Solomon mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual oleh pasangan mereka dalam 12 bulan terakhir.
“Kepulauan Solomon memiliki tingkat kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan tertinggi di dunia. Statistik ini menunjukkan tantangan besar dan berkelanjutan yang dihadapi oleh perempuan dan anak perempuan di negara ini,” ujarnya, seperti dikutip Jubi dari Solomon Star News, Selasa (10/12/2024).
Dr. Alependava mengungkapkan bahwa 64 persen perempuan berusia 15 hingga 49 tahun yang pernah menjalin hubungan melaporkan telah mengalami kekerasan fisik atau seksual sepanjang hidup mereka. Bahkan, sebanyak 73 persen perempuan di Kepulauan Solomon menganggap kekerasan oleh suami terhadap istri sebagai sesuatu yang wajar, terutama dengan alasan seperti ketidakpatuhan, ketidaksetiaan, atau karena pembayaran mahar.
“Secara global, setiap tahun 85.000 perempuan dibunuh akibat kekerasan berbasis gender. Itu berarti 140 perempuan meninggal setiap hari karena kekerasan,” tambahnya.
Dr. Alependava menekankan pentingnya perubahan sosial untuk mengatasi budaya kekerasan yang mengakar. Ia menyerukan kerja sama lintas sektor untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi perempuan dan anak perempuan.
Mengusung tema festival *“Bersatu untuk Mengakhiri Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Perempuan”*, Dr. Alependava mengajak masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dan menghormati satu sama lain. Ia juga mengutip ayat Alkitab Matius 19:26 untuk memberikan semangat bahwa segala sesuatu mungkin dicapai dengan mengandalkan Tuhan.
“Perempuan dan anak perempuan perlu bersatu, tetapi juga harus mulai mengubah perilaku mereka terhadap laki-laki dengan lebih menghormati saudara laki-laki, paman, dan suami mereka,” katanya.
Festival Dewan Wanita Honiara menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran publik tentang kekerasan berbasis gender dan mengadvokasi hak-hak perempuan dan anak perempuan di Kepulauan Solomon. (*)























Discussion about this post