Jayapura, Jubi – Dua dari tiga perempuan di setiap gereja di Fiji alami kekerasan fisik atau kekerasan seksual dalam hidup mereka. Hal ini menandai ada kebenaran yang tidak enak dan perlu didengar serta dibicarakan di gereja-gereja saat ini, karena kebenaran itu bukan hanya untuk hal-hal di luar gereja.
“Kami berharap orang-orang tidak hanya berbicara tentang Yesus dalam sarapan doa mereka tetapi juga berbicara tentang isu-isu ini – dalam Konferensi Gereja Pasifik,” demikian ditegaskan oleh Sekretaris Jenderal Konferensi Gereja Pasifik, Pendeta James Bhagwan yang dikutip jubi.id dari fijivillage.com, Senin (25/11/2024).
Dia menegaskan soal kekerasan terhadap perempuan saat menyampaikan khotbahnya pada acara Break the Silence Sunday di Butt Street Wesley Church, Minggu (24/11/2024) di Suva Fiji.
Pendeta Bhagwan berkata di tempat yang sakral dan aman ini, kita harus mendengar tentang kehancuran dunia dan masyarakat kita, termasuk para korban dan pelaku.
Ia mengatakan jika kita merasa sulit berbicara tentang kekerasan seksual yang dilakukan terhadap manusia biasa, maka dapat dimengerti jika kita merasa sulit memikirkan konotasi seksual dalam penyaliban Yesus Kristus.
Pendeta Bhagwan berkata, jika kita dapat memecah kesunyian mengenai apa yang tengah terjadi di komunitas kita, dan jika kita dapat memecah kesunyian mengenai apa yang terjadi pada Yesus, maka kita pun dapat mulai membicarakan isu-isu ini dalam komunitas agama kita.
Pendeta Bhagwan mengatakan ia berharap orang-orang tidak hanya berbicara tentang Yesus Kristus dalam sarapan doa mereka tetapi juga berbicara tentang isu-isu kekerasan terhadap perempuan ini.
Ia lebih lanjut menceritakan tentang bagaimana pria dan wanita disalibkan pada zaman Yesus Kristus.
Ia menambahkan mereka dipaksa memikul salib ke tempat eksekusi sebagai penghinaan lebih lanjut, dan kemudian mereka digantung telanjang di kayu salib di depan umum.
Pendeta Bhagwan mengatakan bahwa pemaksaan ketelanjangan di muka umum merupakan serangan seksual dan masih terjadi hingga saat ini.
Ia mengatakan kehinaan Yesus Kristus tampak jelas dan Ia mampu berjalan tanpa rasa malu di antara kita, meskipun Ia tahu kita telah melihat rasa malu-Nya yang nyata.
Pendeta Bhagwan mengatakan bahwa dalam janji Tuhan kita didesak untuk memecah kesunyian, menyingkirkan semua bungkam, rasa malu yang ditimpakan kepada para korban kekerasan, dan sebaliknya menggemakan seruan mereka untuk keadilan.
Ia menambahkan bahwa kita hanya dapat menawarkan harapan dan penyembuhan jika kita bersedia mendengar dan menanggung beban luka trauma dan pelecehan.
Hari ini menandai dimulainya apa yang dikenal sebagai 16 Hari Aktivisme Melawan Kekerasan Berbasis Gender, sebuah kampanye internasional yang digunakan oleh para aktivis di seluruh dunia sebagai strategi pengorganisasian untuk menyerukan penghapusan segala bentuk kekerasan berbasis gender.
Sementara komunitas Kristen telah mendukung 16 Hari Aktivisme dengan berbagai cara. Baru pada tahun 2013 Gereja mulai merayakan Hari Minggu Mendobrak Keheningan di Fiji dan Pasifik.
Ini adalah inisiatif Jaringan Kristen Talanoa yang didirikan pada 2013.
Jaringan ini adalah jaringan ekumenis berbasis di Fiji yang terdiri dari wanita terorganisasi dan unit wanita Kristen yang bekerja untuk menghilangkan budaya diam dan malu seputar kekerasan terhadap perempuan terutama dalam lingkungan berbasis agama.
Pada 2016, Dewan Gereja Fiji berkomitmen untuk memperingati Hari Minggu Memecah Keheningan.
Konferensi Gereja Pasifik meluncurkan kampanye ini ke seluruh 35 gereja anggotanya dan 11 Dewan Gereja Nasional. (*)























Discussion about this post