Jayapura, Jubi – Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat atau TNI AD menata ulang strategi pertahanan mereka di Tanah Papua. Kebijakan itu menyusul penembakan terhadap Glen Malcolm Conning, pilot berkebangsaan Selandia Baru oleh kelompok bersenjata di Mimika, Senin lalu.
Kepala Staf TNI AD Jenderal Maruli Simanjuntak mengatakan tidak ada tentara maupun polisi di lokasi penembakan tersebut padahal jaraknya dari pusat keramaian hanya 20 kilometer. Karena itu, mereka akan menata ulang strategi pertahanan di Tanah Papua sehingga semua lokasi rawan mudah terpantau oleh aparat keamanan.
“[Akses] menuju lokasi kejadian bukan mudah. Medan dan kondisi cuacanya juga menyulitkan personel [keamanan untuk] sampai ke lokasi tersebut,” kata Maruli, saat kunjungan kerja di Padang, Sumatra Barat, Rabu (7/8/2024).
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Hadi Tjahjanto dalam kesempatan terpisah memastikan situasi keamanan saat ini tetap kondusif di Tanah Papua. Aparat akan bertindak sesuai kewenangan dan prosedur hukum untuk menjaga kondusivitas keamanan demi kepentingan nasional.
“Aparat keamanan tengah melacak pelaku pembunuhan yang melarikan diri ke Nduga. Proses hukum atas pembunuhan tersebut juga akan terus berjalan demi memberi rasa aman bagi masyarakat di Tanah Papua,” kata Hadi di Jakarta.
Menurut Panglima Komando Gabungan Operasi Wilayah Pertahanan III Letnan Jenderal Richard TH Tampubolon, ada enam korban selamat dari penembakan tersebut. Mereka terdiri atas empat tenaga kesehatan dan dua balita.

Waspada penyelundupan senjata
TNI Angkatan Laut juga terus meningkatan penjagaan mereka di perairan Papua dan wilayah di sekitarnya. Mereka mewaspadai potensi penyelundupan senjata ke Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Muhammad Ali mengatakan mereka menjadikan wilayah utara perairan Indonesia Timur sebagai salah satu pusat Latihan Armada Jaya 2024. Ada ancaman penyelundupan senjata ke Tanah Papua yang perlu diwaspadai TNI Angkatan Laut di wilayah perairan tersebut.
“[Wilayah] timur yang paling penting itu Papua. Kami utamakan [penjagaannya] supaya jangan sampai ada penyelundupan senjata ke Papua. Kami perketat penjagaan lautnya dari sekarang,” kata Laksamana Ali di Jakarta, Selasa (6/8/2024).
Dia menjelaskan beberapa kasus penyelundupan senjata lintas negara pernah terjadi di Indonesia. Sebagian besar senjata ilegal itu didatangkan dari Filipina.
“[Pengiriman] senjatanya masuk dari Filipina, tetapi berhasil kami cegah. TNI Angkatan Laut juga pernah menggagalkan penyelundupan senjata ke Nabire,” ujar Ali.
Latihan Armada Jaya merupakan latihan puncak TNI Angkatan Laut. Pada tahun ini, latihan serentak itu berlangsung sejak 5 hingga 15 Agustus di seluruh markas TNI Angkatan Laut. Adapun fokus area Latihan Armada Jaya 2024 meliputi wilayah utara perairan Indonesia Barat dan wilayah utara perairan Indonesia Timur.
“Wilayah utara perairan Indonesia Timur menjadi salah satu trouble spot [fokus area] Latihan Armada Jaya tahun ini karena mempertimbangkan kasus-kasus penyelundupan senjata dari Filipina ke Papua. Kapal-kapal perang kita [Indonesia] mewaspadai semua kemungkinan yang mengarah kepada penguatan OPM,” kata Panglima Komando Armada Republik Indonesia Laksamana Madya Denih Hendrata.
Menurutnya, penyelundupan senjata itu sering kali menggunakan modus loncat katak atau jual-beli dengan sistem terputus. Cara tersebut untuk mengaburkan asal-usul pengiriman senjata dan mengelabui penjagaan dari petugas keamanan.
“Munculnya [pengiriman awal senjatanya] dari Selat Malaka, kemudian dikirim [dahulu] ke Batam. Kalau langsung [dikirim ke lokasi pemesan], bisa ketahuan [petugas]. Amunisi dan senjatanya juga dipecah-pecah [dikirim terpisah]” kata Denih.
Latihan Armada Jaya 2024 mengagendakan operasi laut gabungan, operasi amfibi, operasi pendaratan administrasi, dan operasi pertahanan pantai. Para peserta juga menjalani latihan pengambilan keputusan dan uji rencana operasi dengan simulasi taktik pertempuran.
“Kami [fokuskan pelatihannya pada] penegakkan kedaulatan [Indonesia]. Selain itu, menguji doktrin, dan aturan untuk menyesuaikan dengan [model] peperangan modern saat ini,” kata Denih, yang juga Pemimpin Umum Latihan Armada Jaya 2024. (*)

























Discussion about this post