Jayapura, Jubi – Komite Nasional Papua Barat atau KNPB tetap memegang teguh prinsip antikekerasan dalam memperjuangkan kedaulatan Papua. Mereka kembali menegaskan komitmen tersebut saat aksi damai memperingati Hari Internasional Masyarakat Adat, Jumat (9/8/2024).
Koordinator aksi KNPB Omikzon Balingga menyatakan mereka perlu mengingatkan itu karena masih ada anggapan keliru mengenai gerakan organisasi tersebut. Banyak warga Non-Papua seakan ketakutan sehingga menutup kios mereka saat KNPB menggelar aksi damai pada hari ini.
“Saya lihat kawan-kawan dari Non-Papua tiba-tiba menutup kios [dagangan mereka] [saat aksi damai KNPB]. Saya mau bilang, KNPB itu antikekerasan. Apa pun dan di mana pun aksinya, KNPB tidak pernah melakukan kekerasan,” kata Balingga.
Ketua I KNPB Warius Sampari Wetipo menyatakan generasi muda juga harus memperingati Hari Internasional Masyarakat Adat. Menurutnya, peringatan tersebut di Tanah Papua sering didominasi kaum tua.
“Masyarakat adat di Tanah Papua hidup dalam ketidakpastian. [Karena itu,] KNPB mengajak generasi muda kembali ke akar budaya, serta mengenali jati diri mereka sebagai anak adat Bangsa Papua yang terhormat, dan bermartabat,” kata Wetipo.
Aksi damai KNPB dimulai sekitar pukul 13:00 Waktu Papua. Masa aksi melakukan long march atau berjalan kaki dari titik kumpul di Kompleks Perumnas III menuju kawasan Ekspo di Distrik Heram. Berselang tiga jam kemudian, mereka melanjutkan aksi dengan berorasi di kawasan pertigaan Kompleks Perumnas III.
Saat menjelang hingga berakhirnya aksi damai KNPB, pemilik kios di sepanjang jalan di Perumnas I dan kawasan di sekitarnya menutup dagangan mereka. Menurut Balingga, penutupan kios tersebut tidak sepatutnya terjadi.
“Kejadian seperti ini tidak boleh berulang. Pasalnya, KNPB mengusung gerakan antikekerasan di Tanah Papua,” ujarnya.
Aksi damai KNPB tersebut, sekaligus menjadi aksi pemanasan menjelang peringatan Perjanjian New York 1962 pada 15 Agustus mendatang. Mereka menilai perjanjian itu merupakan aksi sepihak antara Belanda dan Indonesia dalam menentukan nasib Bangsa Papua. Kedua belah pihak tidak melibatkan Orang Asli Papua pada kesepakatan internasional tersebut.
“KNPB [juga] akan melakukan aksi secara terbuka, damai, dan martabat pada 15 Agustus mendatang. Itu untuk memperingati sejarah manipulasi perjanjian sepihak para kolonial melalui New York Agreement pada 1962,” kata Balingga.
Wetipo menegaskan perjuangan bagi kemerdekaan Papua merupakan perjuangan terhadap harga diri bangsa. “Kita [Bangsa Papua] berdiri [hidup] di atas tanah dan budaya yang memang menjadi haknya. Perlawanan kita itu terhormat, bermartabat, dan berwibawa.” (*)























Discussion about this post