Jayapura, Jubi – Komite Nasional Papua Barat atau KNPB mengimbau seluruh rakyat bangsa Papua, tidak diam dalam sejarah manipulasi perjanjian sepihak yang menghancurkan harkat dan martabat rakyat Papua melalui New York Agreement 1962.
KNPB juga mengajak rakyat Papua untuk turun jalan menyampaikan protes dan meminta pengakuan hak kedaulatan bangsa Papua, 1 Desember 1961.
Ketua Diplomasi KNPB Pusat, Ogram Wanimbo mengatakan pada 15 Agustus 1961, New York Agreement digelar. Saat itu juga Papua secara paksa dimasukkan dalam wilayah Negara Kesatuan republik Indonesia atau NKRI.
“Jadi kalau hari ini kalau orang Papua diam maka kita akan punah. Kalau orang Papua hanya diam melihat penderitaan rakyat Papua berjalan terus ini maka kita akan habis,” kata Wanimbo dalam Jumpa pers, di Perumnas III Waena, Kota Jayapura, Papua, Selasa (6/8/2024).
KNPB mengimbau kepada seluruh rakyat bangsa West Papua, mengkonsolidasi diri, keluarga, suku-suku, komunitas, organisasi cipayung, gereja-gereja bahkan kepada seluruh non Papua yang sudah melihat penderitaan rakyat Papua, ambil tanggung jawab moril. Mendukung pembebasan Papua Barat.
“Kami tidak membenci manusia tetapi kami yang benci dan lawan adalah sistem kolonial NKRI. Oleh sebab itu kami mengajak seluruh rakyat bangsa Papua tanggal 15 hari New York agreement wajib orang Papua konsolidasi diri dan turun jalan. Dan kami minta pihak keamanan dalam hal ini TNI Polri kita sama-sama menjaga keamanan bersama, aksi kami, aksi yang bermartabat,” ujarnya.
Koordinator Lapangan atau Korlap aksi, Omikson Balinga menambahkan, 15 Agustus 1962 adalah hari di mana Amerika, Belanda dan Indonesia memaksa rakyat Papua masuk dalam penderitaan. Dengan pandangan-pandangan rasis yang serupa terulang Pepera 1969.
“Pandangan Indonesia yang rasis dianggap orang Papua tidak bisa berbuat apa-apa, bodoh masih primitif bahkan sampai saat ini disebut KKB, monyet dan sebagainya. Kami rakyat Papua hendak menyampaikan pendapat di muka umum, secara damai terbuka dan bermartabat,” kata Balinga.
“Rakyat Papua akan turun jalan secara damai, terbuka dan bermartabat untuk memperingati hari di mana memaksa rakyat bangsa Papua hidup dalam semua penderitaan yang panjang, menuju persimpangan jalan untuk menuju pemusnahan. Jadi jadi kami ajak semua yang sadar mari ambil tanggungjawab bersama rakyat,” katanya.
Juru Bicara KNPB Sentani, Sadrak Lagoan mengatakan KNPB mengimbau kepada akar rumput rakyat Tabi yang sekarang termarginalkan, bersama-sama bergema mengangkat dan juga menjaga marwah mendiang Theys Eluay.
“Untuk kepada seluruh pejuang rakyat bangsa Papua lebih khusus rakyat Tabi yang mendiami dengan berbagai situasi dan ancaman dalam kondisi termarginal ini, saya undang kalian untuk kembali lawan ketidakadilan itu keluar ke jalanan untuk memperingati tanggal 15 Agustus sebagai hari paling rasis bagi orang Papua,” katanya.
Ketua 1 KNPB Warius Sampari Wetipo mengatakan aksi peringati New York Agreement ini tidak hanya di gelar Papua saja, Aksi serupa juga di gelar di konsulat Indonesia dan Timor Leste, Australia.
“Kami konsolidasikan di beberapa negara itu penting, untuk memperoleh berbagai dukungan politik dan Solidaritas negara-negara terhadap bangsa Papua,” katanya.
Dia mengatakan tanggal 15 Agustus 2024, adalah hari libur nasional. KNPB bertanggung jawab dalam hal itu.
“Kami kembali tegaskan lagi kepada kelompok Nusantara jangan gampang terprovokasi oleh TNI dan Polri. Saya pesan kepada Kapolda Papua dan Pangdam Cenderawasih maupun Kasuari, berhenti memprovokasi masyarakat nusantara, karena terus terprovokasi itu justru lebih memperkeruh situasi Kamtibmas di seluruh tanah Papua,” katanya.(*)





















Discussion about this post